
Selamat membaca!
Setibanya di halaman rumah, Irene berpapasan dengan Erin yang sedang menyiram tanaman.
"Nona, tumben bawa tas. Memangnya Nona mau kemana?" tanya Erin penuh tanda tanya.
"Hmm begini, Erin. Aku mau ke kampus dulu, ada hal penting yang harus diselesaikan," kilah Irene berbohong, karena ia tidak ingin Erin mengadu pada Darren ataupun Dyra.
"Saya temani Nona, ya?" Erin menawarkan dirinya untuk ikut, agar selalu bisa menjaga Irene selama berada di luar rumah.
Irene tersenyum gugup, sambil menyibakkan kedua tangan di depan tubuhnya. "Tidak perlu, Erin. Kamu tidak perlu cemas, nanti setelah urusanku di kampus selesai, aku akan segera pulang."
Erin menautkan kedua alisnya tanda ia kurang setuju dengan kepergian Irene seorang diri.
"Tapi, Nona. Saya ditugaskan oleh Tuan Darren dan Nyonya Dyra untuk selalu menjaga Anda."
Irene mendekat ke arah Erin, lalu mengusap lengan Erin untuk membuatnya tenang.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Erin. Kamu tidak perlu mengkhawatirku! Aku pasti baik-baik saja," ucap Irene terus berusaha meyakinkan Erin.
Erin pun akhirnya mengangguk, walau dalam hatinya masih merasa cemas. "Nona tunggu sebentar ya, biar saya suruh pelayan lain mencarikan taksi untuk Nona."
"Tidak perlu Erin, aku naik taksi di depan saja ya," tolak Irene dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Jaraknya lumayan jauh, Nona, dari rumah ke jalanan depan. Sudah, Nona tunggu di sini saja ya, nanti akan ada taksi yang akan menjemput Nona."
"Tidak usah, Erin. Biar aku yang mencari taksi di depan jalan ya, sekalian aku mau coba menyapa tetangga dekat rumah, karena aku kan baru tinggal di sini."
Erin pun berhenti memaksa, setelah alasan yang terlontar dari mulut Irene terdengar masuk akal.
"Baiklah Nona, kalau itu kemauan Anda. Hati-hati di jalan ya! Hubungi saya apabila Nona membutuhkan bantuan, apapun itu jangan sungkan ya."
Irene menjadi terenyuh saat mendengar perkataan Erin. Ia langsung memeluk tubuh wanita yang memang sangat baik dan perhatian padanya. Selesai melepas pelukannya, Irene pun pamit dan kembali melanjutkan langkah kakinya, menuju depan gerbang.
Irene sebenarnya merasa sangat bersalah, karena telah membohongi Erin, namun ia tak punya pilihan lain. Lagipula sangat tidak mungkin jika ia menggunakan taksi untuk menuju ke bar, sedangkan jaraknya sangatlah jauh dari rumah. Ia sudah tahu betul, tidak akan sanggup membayar ongkos taksinya, karena sisa uang yang ia miliki hanyalah cukup untuknya menaiki bus, itu pun Irene harus menahan rasa lapar dan haus selama di perjalanan.
Setibanya di depan jalan raya, Irene langsung menunggu bus di halte dan duduk di sana, melepas rasa lelah setelah berjalan beberapa langkah dari rumahnya. Benar apa yang Erin katakan, bahwa ternyata jarak dari rumahnya ke halte tidaklah dekat.
Irene yang sudah berusaha tegar, akhirnya tak kuasa lagi menahan bulir kesedihan yang sudah menganak di kelopak matanya. Wanita itu pun menangis dengan terisak, meluapkan segala kesedihan atas kehidupan yang begitu nestapa untuk dapat dijalaninya. Irene harus berjuang bersama anak yang dikandungnya, tanpa perhatian dari orang-orang terdekat yang saat ini menjauhinya. Irene terus menangis, bahkan saat ini suara tangisan itu terdengar semakin menyesakkan
Ia terus mengamati puluhan mobil yang melintas di depan halte. Namun dari sekian banyak kendaraan yang ia lihat, tak ada satu pun bus yang sejak tadi, begitu ditunggunya.
Setelah satu jam berlalu, sebuah bus akhirnya tepat berhenti di depan halte. Rasa senang melihat bus itu, membuat raut wajah sendunya, seketika sirna. Ia pun segera melangkah untuk masuk ke dalam bus, namun bersamaan dengan itu mobil yang dikendarai oleh Owen melintas.
"Itu seperti Nona Irene, tapi untuk apa dia menaiki bus itu. Kenapa dia tidak diantar oleh Tuan Ansel?" batin Owen menautkan kedua alisnya.
Di dalam perjalanan menuju bar, Irene hanya mematung diam sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Ia coba untuk menenangkan diri sekuat tenaganya, namun semua sia-sia, karena kesedihan itu kembali datang, hingga membuat air mata terus berlinang membasahi kedua pipinya. Irene sadar, saat ini ia sedang berada di dalam bus dengan kapasitas penumpang yang terlihat penuh sesak. Alangkah malunya, bila kesedihannya sampai mengganggu penumpang lainnya, terlebih saat ini beberapa orang sudah tampak memperhatikannya, saat mendengar suara tangis Irene yang sesenggukan.
__ADS_1
Irene semakin kuat menahan dirinya, agar tidak terlalu hanyut dalam kesedihan. Walau sebenarnya itu hanya memberi rasa yang lebih sakit dari sebelumnya.
Saat ini Irene sudah benar-benar hancur dan sedang mengupayakan untuk bangkit, walau hanya seorang diri. Tak ada satu orang pun yang menawarkan padanya untuk menjadi sandaran, paling tidak bahu atau sebuah pelukan untuknya menangis.
Laju bus terhenti, ketika Irene memintanya. Saat itu Irene langsung turun dari bus dan butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di sebuah bar tempatnya bekerja, bila dengan berjalan kaki. Namun hal ini hampir setiap hari dilakukan, untuk dapat menghemat ongkos.
"Sabar ya Nak, sebentar lagi kita akan sampai. Kamu pasti lelah ya, Nak, tapi kamu harus kuat ya," batin Irene menguatkan hatinya yang saat ini rapuh, dengan rasa lelah yang begitu terasa di sekujur tubuhnya.
🌸🌸🌸
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Bersiap untuk boom up.
Semangat weekend semua.
Jika berkenan bisa follow IG : ekapradita_87
Like dan vote jangan lupa sahabat semua.
Mampir juga ke karyaku yang ini ya :
__ADS_1