Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Pikiran Irene


__ADS_3

Selamat membaca!


Keesokan harinya, pagi buta sekali, Ansel sudah terbangun dan langsung mempersiapkan dirinya untuk menemui Irene. Kala itu waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, tapi Ansel sudah terlihat tampan dengan stelan jas yang ia kenakan.


"Hari ini aku akan menemuimu Irene, walau aku tidak yakin, apa kamu menginginkan hal yang sama seperti yang aku harapkan? Tapi setidaknya aku coba untuk menemukan jawaban itu." Ansel tampak begitu ragu, hingga membuat pria itu termangu di depan cermin.


Namun, tiba-tiba lamunannya buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Lucas dari depan pintu yang memanggil nama Ansel dengan ramah.


"Itu Lucas sudah datang." Ansel pun melangkah untuk membukakan pintu kamarnya.


Setelah pintu terbuka lebar, Ansel pun mempersilahkan Lucas untuk masuk ke dalam kamar.


"Selamat pagi Tuan Ansel, ini saya bawakan Anda sarapan pagi. Sebelum kita pergi, sebaiknya kita sarapan dulu ya, Tuan."


"Terima kasih, Lucas. Ayo sarapan bersamaku di balkon sana." Ansel mulai melangkah lebih dulu menuju balkon kamar.


Lucas pun mengikuti Ansel dengan mengekor di belakangnya.


...🌺🌺🌺...


Satu jam kemudian di sebuah apartemen mewah yang baru mereka tempati selama 6 hari itu. Irene sudah terlihat sedang merias dirinya dengan duduk di depan sebuah cermin.


"Hari ini adalah hari pertama aku mulai bekerja, semoga semuanya berjalan baik," batin Irene penuh harap.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Nisa tiba-tiba datang mengejutkannya. "Ayo, kita jalan! Ini udah jam 7, nanti kamu telat lho."


Irene pun terhenyak dan seketika bangkit dari posisi duduknya. "Kamu ini selalu mengagetkan saja, tapi kenapa wajahmu tampak berseri-seri seperti itu ya?"


Nisa tak langsung menjawabnya. Ia hanya menampilkan senyum di wajahnya, membuat Irene semakin penasaran dan terus mendesaknya untuk bercerita.


"Apa sih? Kamu kok senyam-senyum begitu, kaya habis menang lotre saja. Kasih tahu dong! Kamu kenapa, Nisa?"


"Coba dong tebak!" ucap Nisa sambil menaikkan kedua alisnya.


Irene langsung memutar otaknya dengan keras untuk mengingat apa saja yang pernah Nisa ceritakan padanya.


"Aku tahu! Pasti Nyonya Tua itu sudah merestui hubunganmu dengan Ryan ya," ungkap Irene setelah berpikir beberapa menit.


"Ah enggak seru! Kamu udah tahu apa yang ingin aku katakan."


"Jadi benar begitu." Irene langsung menarik tubuh sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat.


"Selamat ya Nisa, sebentar lagi kamu akan menikah dan hidup bahagia bersama Ryan juga Viona. Aku turut bahagia, tapi ...." Tiba-tiba Irene menjeda ucapannya sambil melepas pelukannya. Sorot matanya berubah sendu, dengan gurat kesedihan di wajahnya.


"Kamu kenapa jadi sedih?" tanya Nisa cemas terhadap perubahan sikap Irene yang tak lagi ceria.


"Setelah kamu menikah, pasti kamu akan tinggal bersama Ryan, sedangkan aku di sini hanya sendirian," lirih Irene dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Nisa yang mendengar perkataan Irene, ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu.


"Apa yang harus aku lakukan ya agar sahabatku itu bisa kembali bahagia?" batin Nisa tak tega melihat kesedihan Irene, apalagi saat ini Irene sedang mengandung.


"Tenang saja, aku pasti akan sering mengunjungimu Irene, kamu tidak usah takut ya!" ucap Irene coba menghibur sahabatnya yang sedang kalut.


Air mata pun seketika lolos dari kedua sudut mata Irene, terlebih saat ia mengingat sosok Ansel yang tak bisa dipungkiri masih berstatus sebagai suaminya.


"Andai Ansel seperti calon suamimu Nisa, aku pasti akan merasa sangat bahagia, tapi sayangnya Ansel tidak seperti itu. Bahkan untuk mencari dan menemukanku di Birmingham ini saja itu sangat mustahil," ungkap Irene yang menilai tanpa melihat kenyataan yang sedang terjadi.


"Kamu jangan berpikiran seperti itu. Siapa tahu Ansel sekarang ini sedang kebingungan dan mencarimu ke berbagai tempat, hanya saja kamu tidak tahu itu."


Irene dengan penuh kesedihan langsung menampik semua perkataan Nisa.


"Laki-laki seperti dia yang tidak memiliki hati, tidak akan pernah mencariku! Mungkin saat ini, jika dia sudah bisa melihat lagi pasti yang dilakukannya hanyalah bersenang-senang dengan teman-temannya, tanpa memikirkan aku juga anaknya yang ada di dalam kandunganku ini!" Air mata Irene seketika mengalir deras hingga membasahi kedua pipinya.


Nisa pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu yang saat ini terlihat begitu rapuh. Dekapan erat dari Nisa semakin membuat tangisan Irene pecah, wanita itu pun menangis dengan terisak untuk meluapkan segala rasa sakitnya, ketika memori kelam saat dirinya diperlakukan dengan sangat buruk oleh Ansel melintas di dalam pikirannya.


"Sepertinya aku harus bertindak. Aku akan coba mencari tahu sebenarnya apa yang dilakukan oleh Ansel saat ini, apa benar yang dikatakan Irene, karena aku tidak yakin itu benar," batin Nisa memutuskan apa yang harus dilakukannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2