Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Keinginan Sulit


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya di pelataran hotel, Ansel pun keluar dari mobil dan memberikan kunci kendaraannya pada petugas valet yang berjaga di sana. Kini ia mulai memasuki lobi hotel bersama Irene yang setia berada di sampingnya. Tak ada lagi keraguan dalam diri Irene saat ini, terlebih dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Ansel, membuatnya semakin yakin bahwa cinta yang ada di dalam hati suaminya itu benar-benar tulus. Keduanya pun terlihat mesra saat menyusuri lobi dengan sebelah tangan Ansel yang kini melingkar pada pinggang Irene.


"Sayang, aku lapar nih, makan yuk! Soalnya akhir-akhir ini aku sering merasa lapar dan kadang punya keinginan yang aneh-aneh, tapi karena aku enggak mau ngerepotin kamu, ya sudah aku tahan saja deh," ungkap Irene sambil menengadahkan wajahnya untuk menatap suaminya yang juga sedang melihatnya.


"Lho kenapa begitu sayang? Kalau kamu menginginkan sesuatu, katakan saja. Memangnya kamu mau apa sih, sayang?" tanya Ansel menautkan kedua alisnya dengan sorot mata yang penuh selidik.


Irene pun mulai berpikir sejenak, setelah mendengar pertanyaan dari suaminya. Ia sebenarnya tak ingin merepotkan Ansel, terlebih dengan kondisinya yang belum terlalu pulih pasca menjalani operasi akibat insiden penusukan itu.

__ADS_1


"Enggak jadi deh sayang. Aku makan apa saja yang ada di hotel ini," tutur Irene yang mulai mengulas senyum di wajahnya.


"Sayang, jangan bohong! Cepat katakan saja, aku pasti akan berusaha mengabulkan apa yang kamu inginkan?" Ansel mengatakan semua itu dengan suaranya yang lembut hingga membuat hati Irene menjadi luluh untuk mengatakan keinginannya kepada Ansel.


"Kamu jangan marah ya sayang! Aku tuh sebenernya mau gado-gado, sayang, tapi aku bingung belinya di mana ya?" tanya Irene yang membuat Ansel seketika menganga lebar karena tak mengetahui makanan apa yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Itu makanan apa sayang? Aku baru pertama ini mendengarnya." Ansel masih tampak kebingungan dengan nama makanan yang Irene katakan padanya. Saat ini, kedua alisnya tampak saling bertaut dengan sorot mata yang menatap penuh selidik.


"Kenapa kamu enggak minta buatin saja lagi ke Nisa?" tanya Ansel coba mencari jalan keluar agar keinginan sang istri bisa terpenuhi.

__ADS_1


"Enggak enak sayang, soalnya Nisa pasti lagi sibuk mengurus pernikahannya. Aku enggak mau merepotkannya," ucap Irene dengan raut sendu di wajahnya karena Ansel ternyata tak bisa mewujudkan keinginannya.


"Apa tidak ada makanan lain sayang yang kamu inginkan?" tanya Ansel coba mengakali dengan makanan yang lain agar Irene dapat melupakan keinginannya yang sulit ditemukan di kota Birmingham ini.


"Sudahlah sayang, lupakan saja. Ya sudah yuk masuk ke lift." Irene melangkah terlebih dulu dengan senyuman yang terlihat manis. Wanita itu coba mengerti karena memang makanan yang diinginkannya sangatlah langka di kota ini.


Ansel pun menyusul langkah Irene yang kini telah berada di dalam lift sambil terus memikirkan sesuatu agar keinginan sang istri bisa diwujudkannya.


"Mungkin sebaiknya aku tanyakan hal ini kepada Lucas. Aku rasa Lucas mengetahui, bagaimana aku bisa membeli makanan itu di kota ini," gumam Ansel yang saat ini sudah berada di samping tubuh Irene dan kembali menggenggam tangan sang istri yang langsung menatapnya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️


__ADS_2