
Selamat membaca!
Di dalam kamarnya Ansel terlihat duduk termangu, dengan segala pikirannya mengenai Dyra yang tak pernah dapat hilang.
"Ini adalah hari terakhir aku ada di rumah ini. Walau berat tapi semua harus aku lakukan untukmu Dyra, agar luka di hatimu dapat sembuh," batin Ansel menghela napasnya yang terasa berat.
Ansel hanya dapat menatap Dyra dari jarak jauh, semua itu ia lakukan atas perintah Darren yang memang sengaja tidak memperbolehkannya keluar dari kamar dan menampakkan dirinya di hadapan Dyra.
Darren melakukan semua itu, karena tidak ingin melihat Dyra terus terluka atas masa lalunya, yang tak akan pernah bisa kembali dalam dekapannya.
Bahkan Darren pun telah menyiapkan salah satu di antara koleksi rumahnya untuk ditempati oleh Ansel dan Irene. Mereka akan tinggal terpisah sementara waktu, karena Darren menilai ini adalah satu-satunya jalan, yang dapat menghapuskan jejak luka, di dalam hati Dyra secara perlahan.
Ansel tak dapat membantah, walau hatinya berat harus tinggal terpisah dengan Dyra. Jauh dari Dyra pastinya akan sangat menyiksa batinnya secara perlahan, karena Ansel tak dapat lagi memandangi wajah teduh Dyra, yang selalu dapat membuatnya tenang dan semangat untuk melanjutkan hidupnya, walaupun dengan status berbeda.
Namun semua ini adalah konsekuensi atas kesalahan yang telah Ansel perbuat, ia tak dapat berharap banyak karena sesungguhnya Ansel pun ingin melihat Dyra bahagia, sembuh dari luka dalam yang telah ia torehkan di hati wanita itu.
Malam ini Ansel akan membawa Irene pindah ke rumah yang lain milik ayahnya. Ansel sangat berharap, sebelum dirinya pergi meninggalkan rumah ini, ia memiliki satu kesempatan untuk dapat bicara bertatap muka dengan Dyra.
"Aku harus bicara dengan Dyra sebelum aku pergi nanti. Setidaknya aku ingin mendengar bahwa ia sudah memaafkanku," batin Ansel merenungi hidupnya saat ini, jauh dari apa yang diharapkannya selama ini.
๐๐๐
__ADS_1
Hari ini mungkin akan menjadi hari yang tidak akan terlupakan untuk Darren, walau ia masih belum mengatakan perasaannya kepada Dyra. Namun ia sudah berhasil memberanikan diri, untuk melarang Dyra memanggilnya dengan sebutan "Ayah".
Darren tahu, mungkin itu adalah awal dari perjalanan cinta mereka, yang selama ini harus terhalang oleh dinding besar yang menyekat hati keduanya untuk dapat bersatu. Dinding besar yang terbentuk dari kata "Ayah" yang mengartikan bahwa seseorang itu masih menganggap sosok yang dipanggilnya, sebagai orangtuanya dan tidak lebih.
Darren memang hampir mengungkapkan perasaan cintanya kepada Dyra. Namun sangat disayangkan, kalimat yang terlontar dari mulut Darren saat itu tidak seperti apa yang diharapkannya, entah mengapa lidah Darren seakan kelu, bahkan kedua tangannya sudah basah oleh keringat, yang tercipta dari rasa gugupnya yang berlebihan.
"Dyra," ucap Darren menatap dalam wajah Dyra sambil menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Ya Ayah, sebenarnya apa yang ingin Ayah katakan padaku?" tanya Dyra menunggu dengan penuh harap.
Darren masih mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang dipendamnya sejak lama. Rasa gugup terus menghinggapi dirinya, hingga akhirnya apa yang dikatakannya, jauh dari yang diharapkan.
"Ya ampun Darren, cuma bilang aku mencintaimu Dyra. Kenapa tiga kata itu jadi kata yang sangat sulit untuk kamu ucapkan!" gumam Darren merutuki kebodohannya yang lagi-lagi gagal, untuk menyampaikan perasaan cintanya kepada Dyra.
Dyra terhenyak diam. Ia memutar otaknya untuk mencerna permintaan dari Darren yang membuatnya bingung.
"Terus aku harus memanggil Ayah dengan panggilan apa, jika aku diminta untuk berhenti memanggilmu dengan sebutan Ayah?" tanya Dyra mengernyitkan dahinya, dengan gurat kekecewaan yang tampak pada wajahnya.
"Apapun boleh, yang penting enak didengar dan bukan dengan panggilan Ayah lagi."
"Kalau boleh aku tahu, apa yang menjadi alasan Ayah?"
__ADS_1
Darren diam sejenak. Ia tak dapat memungkiri rasa gugup yang kini sudah benar-benar menguasai dirinya.
"Kita berdua kan sudah menikah sejak satu Minggu yang lalu dan alangkah baiknya mulai sekarang kamu merubah panggilan untuk saya, karena tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu akan ikut bersama saya ke acara-acara tertentu dan tidak etis 'kan apabila kamu masih memanggil saya dengan sebutan Ayah, bagaimana tanggapan orang nantinya?"
Dyra pun tersenyum canggung, karena ia masih sangat bingung untuk menentukan panggilan pengganti yang pas untuk Darren.
"Jadi aku harus memanggilnya apa ya?" batin Dyra bergelut dengan dilema di hatinya.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Ayo bantu Dyra, menentukan panggilan yang tepat untuk Darren, silahkan isi pendapat kalian semua di kolom komentar ya.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian ya.
Note : Berikan like setiap episodenya dan bersiap untuk boom up di hari ini.
Ramaikan novel aku yang ini juga ya buat kalian yang suka genre action.
__ADS_1