Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Suasana Haru


__ADS_3

Selamat membaca!


Selesai dengan aktivitasnya di dalam bathroom, Ansel pun langsung menghampiri Irene yang saat ini sudah berada di meja makan dengan beberapa menu makanan yang tersaji di atasnya.


"Sayang, kamu sudah pesan makan ya?" tanya Ansel sambil memindai apa saja yang tersaji di atas meja makan.


"Iya sayang aku lapar banget, jadi ya sudah daripada aku berandai-andai terus makan gado-gado, tapi enggak kesampaian, ya seadanya saja yang penting perutku terisi. Aku tidak ingin anak dalam kandunganku ini kelaparan."


Ansel pun mengesah pelan setelah mendengar perkataan Irene. Saat ini pria itu sangat berharap, jika Lucas segera datang membawa pesanannya yaitu makanan yang disebut gado-gado oleh sang istri. Jadi selama di dalam bathroom Ansel mengirim pesan lewat WhatsApp kepada Lucas untuk meminta tolong membelikan makanan yang Irene inginkan, walau terkesan sulit mencari makanan itu di kota Birmingham. Namun, bukan Lucas namanya yang tidak tahu seluk beluk dari kota kelahirannya.


Ansel pun duduk di samping kursi Irene dan mulai menatap istrinya yang terlihat kurang bernafsu dalam menyantap makanan yang telah dipesannya.


"Sayang, kenapa enggak enak ya?" tanya Ansel tampak cemas sambil menyentuh sebelah pipi istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Enggak apa-apa sayang, cuma sepertinya anak ini menolak makanan yang aku coba makan ini. Sebentar ya, aku mau ke wastafel dulu." Irene pun beranjak dari posisi duduknya dan melangkah cepat setelah baru dua suap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Ansel yang semakin cemas melihat kondisi Irene saat ini, langsung menyusul langkah sang istri untuk menemaninya ke wastafel. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Irene, saat dirinya tidak berada di sampingnya.


10 menit setelah berkutat di wastafel dan memuntahkan semua makanan yang telah di makannya, kini Irene dan Ansel beranjak dari bathroom dan terlihat kembali melangkah menuju sofa yang berada di samping ruang makan.


"Sayang gimana kondisi kamu? Apa sudah lebih tenang?" tanya Ansel sambil menangkup kedua sisi wajah istrinya dan mulai menatap wajah Irene yang terlihat pucat.


"Kamu itu pucat banget sayang. Kita sebaiknya cek kandungan kamu ya, lagipula sejak kamu hamil, aku sama sekali tidak mengetahui perkembangan anak kita."


Raut wajah Ansel berubah sendu, ketika rasa bersalah mulai hadir di dalam dirinya. Ia menyadari, bahwa selama ini dirinya tak pernah memberikan perhatian yang lebih kepada sang istri di saat kehamilannya. Malah yang lebih parahnya, Ansel hampir membuat Irene keguguran karena semua sikapnya.


"Maafkan aku ya sayang. Aku merasa tidak pantas menjadi Ayah dari anak yang kamu kandung. Selama ini yang aku berikan hanya air mata, luka dan aku bertindak semena-mena tanpa memikirkan kondisi kamu yang sedang hamil. Aku bodoh!" Ansel terus merutuki kesalahan masa lalunya saat ingatan itu kembali muncul dalam pikirannya.

__ADS_1


"Sayang, sudah jangan sesali semuanya. Aku sudah memaafkanmu dan tidak ada kata terlambat karena kamu masih memiliki waktu sekitar 5-6 bulan sebelum aku melahirkan anak kita." Irene mengangkat wajah Ansel yang saat ini tertunduk di hadapannya karena rasa bersalahnya. Saat ini pandangan keduanya sudah saling bertaut, hingga akhirnya Irene pun melabuhkan tubuh suaminya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sekali lagi, Irene. Maafkan aku yang tidak berguna selama ini menjadi suami, sekaligus Ayah dari anak kita." Kedua mata Ansel sudah tampak berkaca-kaca dan membuat bulir kesedihan mulai menetes dari kedua sudut matanya. Air mata yang menandakan betapa menyesalnya Ansel dengan segala sikapnya dulu, terhadap istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya.


"Sudah ya sayang. Coba deh kamu dengerin nih perut aku! Kata anak kita, "Iya Ayah, aku sudah memaafkan kamu, tapi tolong jangan sakiti Amma lagi ya Ayah." Irene menirukan suara anak kecil yang lucu dan menggemaskan, ketika wajah Ansel sudah sejajar dengan perutnya yang kelihatan mulai membuncit. Ya, saat ini Ansel tengah berlutut dan menempelkan daun telinganya tepat pada bagian perut Irene.


Perkataan Irene mampu membuat harapan yang sempat memudar dalam diri Ansel, kembali tumbuh dan saat ini pria itu sudah mulai mengembangkan senyuman dari kedua sudut bibirnya.


"Terima kasih ya, sayang. Ayah janji, tidak akan meninggalkan Amma-mu lagi. Ayah akan membuat kalian selalu bahagia, seumur hidup Ayah." Ansel mengatakan semua itu dengan penuh kesungguhan hingga membuat air mata Irene mulai menetes dan menerpa tubuh Ansel yang berada tepat di bawahnya.


"Ya Tuhan, terima kasih banyak karena telah memberikan kebahagiaan ini kepadaku juga anakku. Aku mohon, jagalah kebersamaan ini sampai kami menua dan tutup usia," batin Irene terus menatap haru setiap apa yang dilakukan Ansel dengan perutnya.


Pria itu bukan hanya mengusap dan bicara dengan calon buah hatinya, tapi juga menciumi perut Irene beberapa kali, hingga membuat momen yang tercipta saat itu menjadi sangat berkesan untuk Irene, setelah semua penderitaan yang telah dijalaninya selama ini.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


__ADS_2