
Masuk GC aku ya jika kalian berkenan dan follow Instagram aku : ekapradita_87
Selamat membaca!
Setelah selesai bersantap di balkon kamar. Dyra langsung menyiapkan stelan kemeja, dasi, lengkap dengan jas yang akan dikenakan oleh Darren untuk pergi ke kantor.
Tak lama Darren pun keluar dari bathroom, dengan hanya mengenakan bathrobe, yang membuat bulu dada tipisnya terlihat sangat seksi.
Darren berjalan menuju ranjang, terlihat satu stel pakaian kerjanya telah disiapkan oleh Dyra di sana, lengkap dengan sepatu yang setiap harinya berganti warna dan dalam keadaan bersih.
Darren menarik tali bathrobe yang menempel di tubuhnya,nhingga kain tipis berbahan handuk itu teronggok di lantai, menyisakan tubuh polosnya, tanpa ada sehelai benang pun yang menempel.
Dyra yang baru keluar dari walking closet dengan membawa tas kerja Darren yang sempat lupa ia siapkan, seketika tersentak kaget melihat pemandangan di depan matanya saat ini, menampilkan tubuh tinggi yang kekar, berkulit putih mulus dengan otot seksi milik Darren terpampang nyata di hadapannya.
"Aaaaaaa..." Dyra berteriak histeris, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan tas kerja Darren yang semula ia bawa, kedua telapak tangan menutupi wajahnya yang sudah merona, menyaksikan yang tak biasa dilihatnya. Semalam Dyra tak terlalu menegaskan tubuh suaminya dengan kedua matanya, karena memang cahaya temaram dari lampu tidur tidak seterang saat ini, dengan suasana pagi yang mulai terik.
Darren membalikkan tubuhnya, melihat Dyra yang berada enam langkah di depannya. Ia pun melangkah maju untuk menggapai tubuh Dyra, tanpa sempat mengenakan pakaiannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Darren belum menyadari kesalahannya.
"Kamu tuh, Hubby! Kenapa belum pakai baju sih?" tanya Dyra menautkan kedua alisnya dengan wajah yang sudah ditutupi oleh kedua tangannya.
Darren melihat tubuhnya yang masih polos, ia tertawa begitu renyahnya, ketika baru menyadari alasan dari expresi Dyra saat ini.
Kedua tangan Darren langsung meraih tangan Dyra, hingga wajah istrinya terlihat sempurna, namun Dyra menutup matanya dengan rapat, karena tidak ingin melihat tubuh suaminya, yang saat ini benar-benar tanpa sehelai pakaian pun.
"Sayang, kenapa sih kamu harus menutup mata seperti ini? Bukankah semalam kamu sudah melihat semuanya, begitu pun dengan aku.".
__ADS_1
"Tapi itu kan tadi malam, Hubby. Semalam itu tidak seterang dan sejelas saat ini!" protes Dyra membuat Darren merasa gemas.
Darren merengkuh tubuh Dyra dengan erat, membuat tubuh istrinya menegang. Seketika Dyra membuka mata, hingga membulat sempurna.
"Hubby, lepasin aku! Kenapa sih kamu peluk-peluk saat masih telanjang!" protes Dyra lagi, kali ini ia memukul dada bidang suaminya.
Tak sekalipun Darren tersulut emosi, malah ia merasa senang melihat wanita yang dicintainya marah, dengan semburat wajah yang terlihat semakin menggemaskan.
"Aku tahu kenapa kamu bersikap seperti ini, apakah kamu mau kita melakukannya sekali lagi? Aku masih punya waktu setengah jam, sebelum aku pergi ke kantor."
Raut wajah Dyra kembali merona dibuatnya. Ia merasa malu dengan pertanyaan Darren, yang membuatnya tak habis pikir, kenapa suaminya bisa berpikir sejauh itu dengan keterkejutannya.
Wanita cantik itu yang wajahnya masih merona segera mendongak, hingga pandangan mereka saling bertemu. Dyra menatap wajah teduh suaminya penuh cinta yang begitu dalam.
"Hubby, tolong kamu jangan salah paham ya! Aku begini karena aku kaget melihat tubuhmu. Kamu kan tahu, ini pengalaman pertamaku melihat laki-laki telanjang di hadapanku dan kamu adalah satu-satunya yang telah membuat mataku jadi ternoda."
"Hubby, aku tidak ingin mengganggu waktu kerjamu. Kita bisa melakukannya setiap malam atau setiap kamu libur kerja, supaya kamu bisa fokus dengan pekerjaanmu yang pastinya padat, tidak harus setiap saat juga kan kita melakukannya," ucap Dyra dengan lembut, sembari mengusap wajah suaminya yang terlihat semakin tampan.
"Hum, baiklah kalau kamu menolak keinginanku kali ini, tapi nanti malam jangan menolak ya, karena aku sangat ingin cepat memiliki anak darimu, dua, tiga atau lima." Darren merentangkan kelima jarinya dan menghitungnya di hadapan Dyra, membuat wanita itu tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
"Lima anak terlalu banyak, Hubby. Dua atau tiga saja ya," ucapnya menawar dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Baiklah kalau kamu menolak keinginanku," ucap Darren dengan nada suara yang terdengar tak bertenaga.
"Bukan menolak, Hubby sayang. Apa kamu tidak kerepotan memiliki anak banyak?"
Darren menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tentu tidak, aku akan sangat bahagia bila menjadi seorang Ayah dari anak-anak yang terlahir dari rahimmu. Rahim dari seorang wanita yang hebat dan sempurna seperti dirimu."
__ADS_1
Hati Dyra tersentuh begitu dalam, mendengar Darren yang tak habis-habisnya, memuji dirinya. Dyra pun langsung memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat dan menenggelamkan kepalanya di atas dada Darren yang berbulu tipis.
"Aku mau memiliki lima anak darimu, asalkan kamu menginginkannya dan bisa membuatmu bahagia," ungkapan Dyra dari hati yang terdalam.
Darren merasakan hatinya ikut tersentuh mendengar ungkapan dari Dyra, yang selalu ingin berusaha menjadi yang terbaik untuk dirinya.
Darren pun tersadar akan keinginannya yang mungkin saja membuat Dyra terbebani, apalagi tubuhnya mungilnya harus mengandung lima bayi dalam waktu dekat.
"Sayang, tapi sepertinya aku berubah pikiran deh. Benar kata kamu, dua anak lebih baik," ucap Darren seraya mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.
Dyra kembali mendongak dan menatap dalam wajah suaminya. "Kenapa kamu bisa berubah pikiran secepat ini, Hubby?"
"Aku tidak tega, membiarkanmu terbebani karena harus mengandung dan merasa tidak nyaman selama menjalani masa kehamilan 9 bulan 10 hari. Aku tidak ingin membuatmu kesakitan apalagi bila harus mengandung sebanyak lima kali."
Sebuah senyuman terbit menghiasi wajah cantik Dyra yang bersinar. Ia begitu bahagia bisa dicintai dan dimiliki Darren yang selalu memikirkan perasaannya. "Apapun keputusan yang kamu ambil, aku akan menurutinya, tapi tidak dengan pagi ini, karena kamu harus segera pergi bekerja."
Dyra melepaskan tangan Darren yang masih melingkar di tubuhnya lalu mulai menuntun langkah suaminya menuju ranjang, agar Darren segera memakai pakaian yang telah ia sediakan, karena Owen pasti telah menunggunya di lantai bawah.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentarmu.
Dukungan lewat like setiap episodenya dan jangan lupa vote ya.
Terima kasih ya semua.
__ADS_1
Sehat selalu, ingat pesan Ibu!