
Selamat membaca!
Setelah menunggu Irene hingga berjam-jam lamanya, akhirnya pria itu sudah dapat tersenyum lega saat melihat Irene mulai melangkah menghampirinya. Kedua bola matanya terus menatap wajah wanita yang menjadi alasannya, datang ke Birmingham untuk meminta maaf dan membawanya kembali pulang.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu, Irene. Aku bahagia, karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk meminta maaf padamu. Kepergianmu membuat aku sadar bahwa kehadiranmu sangat berarti untukku," batin Ansel dengan lirih, kedua matanya tampak berkaca-kaca saat mengingat perlakuannya pada Irene yang terbilang sangatlah kejam.
Tak lama kemudian, Irene pun sudah berada tepat di hadapan Ansel. Keduanya masih terdiam dan hanya saling menatap dalam.
"Mata yang berkaca-kaca itu, apa benar Ansel telah berubah? Oh Tuhan, apa aku harus memaafkannya sedangkan luka di hatiku ini masih belum sepenuhnya sembuh," batin Irene masih membisu dan hanya dapat menatap Ansel lebih dalam.
Lamunan Irene seketika buyar, saat pria yang kini ada di hadapannya langsung meraih kedua tangan Irene tanpa seizinnya.
"Aku menyesal telah membuatmu menangis seorang diri, bahkan sampai melukaimu dengan luka begitu dalam. Aku juga belum menjalankan tugasku sebagai suamimu. Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin mengulang semua itu Irene, agar aku bisa menggantikan semua itu dengan kebahagiaan. Maafkan aku Irene." Ansel begitu sungguh-sungguh mengatakan semua itu dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca. Sorot matanya benar-benar menyiratkan sebuah ketulusan yang saat ini ingin ditunjukannya pada Irene.
Wanita itu pun tampak bimbang, ia terlihat sangat gugup saat pandangan matanya dengan Ansel saling bertaut dalam. "Ya Tuhan, baru beberapa hari aku tinggal di sini, ternyata aku sangat merindukan pria ini, ayah dari anakku yang aku tinggal pergi karena aku sudah tak sanggup lagi menghadapi semua perlakuan kasarnya padaku."
"Irene, aku mohon jawablah! Aku hanya ingin kamu memberikan aku satu kesempatan, agar aku bisa membuktikan semua perkataanku. Tidak lebih, hanya satu kali ini. Apakah kamu mau memaafkan aku dan memberikan kesempatan itu?" Tak ada keraguan dalam diri Ansel, semua perkataannya terucap dengan begitu tulus bahkan sampai membuat Irene nyaris tersentuh oleh semua ucapannya.
Namun, tiba-tiba semuanya berubah saat bayangan-bayangan itu muncul lagi di dalam pikirannya. Bayangan yang selalu menahan dirinya, agar tak begitu saja mempercayai pria yang saat ini terus memohon di hadapannya.
- Perkosaan di kamar hotel itu.
- Sikap Ansel yang acuh saat Irene dibawa ke rumah dan saat itu bertemu Dyra.
- Saat Ansel sering mengatakan padanya, jika dirinya hanyalah pembawa sial, bahkan saat itu Ansel memintanya untuk menggugurkan kandungannya.
- Ansel sengaja melajukan mobilnya, sampai membuat Irene mengejar mobil itu, hingga kandungannya hampir keguguran.
__ADS_1
- Ansel tak memberikan uang sedikit pun, walau itu untuk keperluan kuliahnya dan menyuruh Irene mencari sendiri uang tersebut.
- Ketika Irene ngidam untuk berada didekat Ansel, pria itu malah menolaknya dan mengusir Irene dari kamarnya. Saat itu Irene sampai tertidur dengan bersandar pada pintu kamar. (Ada di novel : Suamiku Calon Mertuaku)
Irene akhirnya menggelengkan kepalanya dengan bibir yang tampak bergetar untuk menjawab pertanyaan dari Ansel.
"Kalau memang kedatanganmu ke kota ini untuk meminta maaf dariku, maka aku sudah memaafkanmu, Ansel. Kepergianku dari Korea adalah caraku untuk memaafkanmu. Sekarang apa yang kamu nantikan sudah aku jawab, pekerjaanku hari ini pun sudah selesai. Sekarang aku akan pergi." Irene melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ansel dan mulai melangkahkan kakinya untuk berlalu pergi, meninggalkan Ansel yang masih terpaku setelah mendengar jawaban dari Irene.
Sadar Irene akan pergi meninggalkannya, Ansel kembali menyusul wanita itu yang saat ini telah berlalu beberapa langkah melewati tubuhnya.
"Irene tunggu dulu!" Ansel kembali berdiri tepat di hadapan Irene, hingga membuat langkah wanita itu terhenti seketika.
"Apalagi Ansel?" tanya Irene dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Aku datang ke sini bukan hanya untuk meminta maaf padamu saja, Irene, tapi kedatanganku juga karena ingin meminta kamu ikut pulang bersamaku, kita kembali ke Korea bersama dan memulai semua dari awal lagi."
Perkataan Ansel sontak membuat Irene terhenyak. Apalagi saat ini wajah Ansel yang tampak begitu sendu, ketika mengucap semua perkataan itu. Ini adalah kali pertamanya melihat ada ketulusan dari sorot mata Ansel. Hingga ia merasa kedua matanya mulai berkabut setelah mendengar ungkapan hati Ansel.
Wanita itu mengesah kasar lalu menggelengkan kepalanya dengan senyumannya yang terlihat samar. "Maaf Ansel, tapi memaafkan itu adalah sesuatu yang sangat mudah. Apa kamu tidak tahu, seberapa sakitnya aku dengan semua perlakuanmu yang kejam dulu? Belum lagi niatmu yang ingin menggugurkan anak tak berdosa ini? Memaafkan itu semudah membalikkan telapak tangan Ansel, tapi melupakan tentang apa yang pernah terjadi di antara kita itu sangat sulit untukku. Maaf, saat ini aku tidak bisa kembali lagi bersamamu."
Perkataan Irene membuat harapan Ansel sirna seketika, bahkan saat ini tubuhnya sudah melemah tanpa daya upaya. Walau pria itu sudah menduga sebelumnya, bahwa untuk membuat Irene kembali dengannya bukanlah perkara mudah. Namun, tetap saja semua itu terasa menyakitkan saat mendengar penolakan yang terucap dari mulut Irene.
"Irene, tolong maafkan aku, karena pernah menyia-nyiakan kamu saat kita masih bersama. Sumpah, aku sangat menyesali semuanya, ternyata kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Tolong kembalilah bersamaku, kita pulang ke Korea ya, kita mulai semuanya dari awal, aku janji tidak akan melukaimu lagi, aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Kita kembali demi anak kita yang saat ini masih berada dalam kandunganmu ya. Aku mohon Irene!"
Permohonan Ansel masih belum mampu meluluhkan hati Irene. Wanita itu pun tetap pada pendiriannya. Ia tak ingin gegabah dalam memutuskan sesuatu yang nantinya dapat membuatnya kembali terluka, bahkan tak menutup kemungkinan semua itu bisa lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Kenapa sih Ansel, kenapa kamu harus kembali menampakkan diri di hadapanku? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa aku ini adalah wanita pembawa sial, begitupun dengan anak yang saat ini aku kandung, kamu bilang tidak ingin menganggapnya karena kehadirannya membuat kamu kehilangan wanita yang paling kamu cintai, yaitu Dyra. Aku dan anak ini bukan orang yang kamu inginkan, kehadiran kami sudah membuat kamu kehilangan segalanya, jadi untuk apa lagi kamu mencariku dan ingin membawaku kembali?" tanya Irene meluapkan isi hatinya yang sudah sangat menyesakkan dadanya, ketika lagi dan lagi masa-masa menyakitkan itu kembali terlintas di pikirannya. Masa dimana ia direndahkan, dihina dan disalahkan atas kesalahan yang Ansel perbuat.
__ADS_1
Ansel langsung menangkup kedua lengan Irene dan menggenggamnya sangat erat. "Aku minta maaf atas semua ucapanku yang selalu menyalahkanmu dan dan juga anak kita. Aku akui aku memang bodoh, Irene. Dulu itu aku sangat terkejut mendengar kabar kehamilanmu saat aku hampir menikah dengan Dyra, aku tidak siap dan tidak bisa menerima semuanya. Sekarang aku sudah sadar dan aku sungguh-sungguh minta maaf padamu Irene. Aku sudah sadar, bahwa kamu dan anak kita adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk hidupku, ini adalah jalan dari Tuhan yang ingin menunjukkan padaku, bahwa Dyra bukanlah untukku, melainkan untuk Ayahku. Aku mohon, kembalilah bersamaku, aku janji akan membahagiakanmu dan anak kita di sisa umurku, aku akan menjaga kalian dengan baik dan sepenuh hatiku."
Irene segera menyingkirkan tangan Ansel yang semula menggenggam erat lengannya. "Tidak Ansel, keputusanku sudah bulat. Aku sudah memaafkan kamu, tapi untuk kembali hidup bersamamu itu tidak bisa aku lakukan. Sekarang pergilah, dan jangan pernah kamu tampakkan wajahmu di hadapanku lagi. Biarkan aku hidup tenang di sini tanpa bayang-bayang masa lalu yang telah menghancurkan kehidupanku. Aku mohon Ansel, pergilah atau aku yang akan pergi ke tempat yang paling jauh dan kamu tidak akan bisa menemukanku lagi!"
Ansel menjadi frustasi mendengar kalimat Irene, ia sangat takut kehilangan Irene untuk yang kedua kalinya. Pria itu pun menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Irene, kedua tangannya meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan sangat lembut.
"Irene, tolong jangan seperti ini, jangan berikan aku pilihan yang sangat sulit. Aku hanya ingin kita kembali. Aku sangat kehilanganmu ketika kamu memutuskan pergi dari rumah. Saat itu aku baru sadar bahwa sebenarnya aku sudah jatuh cinta denganmu, tapi di saat aku hendak menyatakannya, ternyata kamu sudah pergi. Aku mohon Irene, sekarang jangan pergi lagi, kembalilah padaku!"
Irene tak mampu lagi berkata-kata, ia segera melepaskan genggaman tangan Ansel dan berlalu pergi dari hadapan pria yang tengah berlutut itu untuk memohon padanya agar kembali. Irene tak sanggup melakukan yang bertentang dengan hatinya, sejujurnya ia sangat merindukan Ansel dan ingin hidup bersama ayah dari anaknya. Namun di sisi lain, bayang-bayang masa lalu membuat Irene takut untuk kembali dan memulainya dari awal. Ia sangat takut nasibnya akan berakhir sama seperti dulu.
"Aku harus pergi, aku tidak mau mendengar lagi perkataan Ansel. Aku harus mencari mobil jemputan yang dikirimkan oleh tuan Ryan!" batin wanita itu yang kini berjalan dengan tergesa untuk dapat menghindar dari Ansel.
Setibanya di pelataran lobi, Irene meneliti satu persatu mobil yang terparkir di seberang sana. Namun, ia tidak mengetahui mana mobil yang dikendarai oleh Thomas.
"Yang mana ya mobilnya? Apa supir tuan Ryan mengenali wajahku? Kalau iya, mestinya dia datang menghampiriku." Irene tampak bingung, ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk bertanya pada Nisa.
Tapi belum sempat Irene menyentuh layar ponselnya, tiba-tiba saja pundaknya disentuh oleh seseorang. Membuat wanita itu segera menoleh ke belakang dan melihat sosok Ansel yang ternyata kembali menghampirinya.
"Irene, tolong jangan pergi!" ucap pria itu sangat memohon, wajahnya tampak lusuh dan tak bercahaya.
Irene menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak Ansel, aku tidak mau!" jawabannya tetap sama.
Wanita itu pun segera berlari ke arah seberang lobi untuk menghindar dari kejaran Ansel. Irene tidak ingin Ansel terus mengejarnya dan memohon padanya lagi.
"Aku tidak bisa mendengarnya memohon, aku tidak ingin keputusanku goyah karenanya!" batin Irene yang berlari dengan tergesa.
Ternyata Ansel tak tinggal diam, ia pun mengejar Irene dengan berlari. Pandangannya saat itu hanya tertuju pada Irene yang sudah berada di seberang jalan hingga tak melihat ke arah kanan dan ke kiri saat menyebrang. Sampai akhirnya, sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang menabrak tubuh Ansel karena si pengendara telat menginjak rem kendaraannya.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️