Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Bersemu Merah


__ADS_3

Sebelum kita lanjut, jangan lupa like setiap episodenya udah belum? Jika belum ayo segera boom like. Terus satu lagi, kalian juga jangan sampai lupa untuk vote ya.


Selamat membaca!


Ansel dan Irene kini sudah sampai di rumah mereka yang baru. Rumah besar, walau tak sebesar rumah yang sebelumnya. Namun rumah dengan desain minimalis ini, benar-benar terlihat sangat elegan.


"Oh ya, Erin koper Irene jangan dibawa ke kamarku tapi ke kamar sebelahnya ya!" titah Ansel menunjuk ke arah koper yang saat ini dibawa oleh Erin.


Irene hanya diam mendengarnya. Kini langkah kakinya mengikuti Erin yang terlebih dahulu menaiki anak tangga.


"Aku harus tetap sabar, menjalani semua ini. Pastinya tidak akan mudah menaklukan hati seorang Ansel, yang saat ini diselimuti kekecewaan atas kegagalannya," batin Irene mengelus dadanya sambil mengesah kasar.


Kini Erin tiba di depan pintu kamar. Setelah membukanya, kedua wanita itu mulai masuk ke dalam kamar.


"Nona Irene, yang sabar ya. Tuan Ansel memang seperti itu, dia sangat keras, terlebih saat keinginannya gagal ia dapatkan. Dulu semasa Nyonya Bella masih hidup, terkadang beliau juga sering mengeluh dengan sikap Ansel."


Irene mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya. "Terima kasih ya Erin, untung saja Ayah memintamu tinggal di sini bersamaku, jadi aku tidak akan pernah merasa sendirian."


"Sama-sama Nona, jangan sungkan ya bila ingin cerita apapun yang Nona rasakan, saya siap menjadi pendengar yang baik," jawab Erin mengulas senyum di wajahnya.


Kebaikan Erin membuat Irene menjadi lega, karena itu artinya ia masih memiliki seseorang untuk tempatnya berbagi suka maupun duka. Terlebih sampai saat ini kedua orangtuanya masih memusuhi Irene, karena kecewa dengan kehamilannya. Padahal Irene sudah mengatakan kepada mereka bahwa ia telah menjadi korban pemerkosaan, namun mereka tak mempercayainya, karena sejak awal keluarga Irene sangat menentang keputusannya untuk bekerja di bar. Tempat yang menjadi awal pertemuannya dengan Ansel.

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui jendela kamar. Dyra yang masih terlelap, kini mulai mengerjapkan kedua matanya dengan perlahan. Namun saat tangannya berlabuh di samping tubuhnya, ia langsung membuka mata, saat mengetahui Darren sudah tak ada lagi di ranjang.


Dyra berangsur bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tubuhnya kini terasa sangat lelah dan nyeri hampir di sekujur tubuhnya.


"Hubby kemana ya, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Dyra sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Dyra mulai melangkah menuju bathroom. Saat ini ada yang berbeda dengan langkah kakinya, membuatnya gerakannya menjadi tertatih tak seperti biasanya.


Setelah tiba di depan wastafel. Ia mematung sambil melihat pantulan wajahnya di cermin. Dyra menarik kedua sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman. Hatinya kini membuncah bahagia, saat mengingat kenangan yang telah dilewatinya semalam.


"Selamat pagi, Nyonya Darren."


Dyra terhenyak mendapati Darren sudah berada di dalam bathroom, bahkan kini sedang mendekap erat tubuhnya dari belakang. Darren pun melabuhkan kepalanya pada pundak Dyra, membuat wajah mereka menjadi sangat dekat.


"Selamat pagi, Hubbyku."


Keduanya begitu menikmati pagi pertama mereka sebagai sepasang suami istri seutuhnya. Semburat kebahagiaan terpancar jelas dari binar di mata keduanya, ditambah senyum manis yang selalu terlukis di wajah mereka, semakin menasbihkan bahwa memang saat ini rasa cinta keduanya sudah membuncah di dalam hati, kedua insan yang saat ini benar-benar sedang mabuk kepayang.


"Ayo sayang, kita sarapan. Kemarin itu kan kamu yang siapin makan pagi untukku, sekarang gantian aku yang sudah menyiapkannya untukmu. Kita makan di balkon kamar ya," ucap Darren sambil menuntun langkah Dyra dengan menggenggam tangannya erat.

__ADS_1


Dyra merasa sangat diistimewakan oleh Darren, membuat hatinya begitu berbunga-bunga dengan segala perhatian yang Darren berikan padanya.


"Aku beruntung dicintai olehmu, Hubby."


Darren menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Dyra yang juga saat ini terdiam, hanya mematung menatap dalam wajah Darren yang berangsur mendekati wajahnya. Tiba-tiba sebuah ciuman singkat berlabuh di bibir mungilnya, yang membuat Dyra termangu.


"Akulah yang beruntung, karena dicintai oleh wanita seistimewa dirimu," ucap Darren balik memuji Dyra yang seketika membuat wajahnya bersemu merah.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak atas dukungan kalian.


Berikan like setiap episodenya dan vote ya agar karya ini bisa masuk ranking vote.


Baca juga karyaku yang ini :


__ADS_1


__ADS_2