Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Terungkap


__ADS_3

Selamat membaca!


Kericuhan yang terjadi di lobi apartemen, membuat Lucas yang sedang menunggu di depan lobi menjadi penasaran dan memutuskan untuk masuk ke dalam. Saat itu, pandangan matanya seketika membeliak dengan raut tegang di wajahnya karena melihat sosok Ansel tak sadarkan diri di atas pangkuan Irene.


"Nona Irene, apa yang terjadi dan siapa pria itu?" tanya Lucas menghampiri Irene yang masih menangisi keadaan Ansel dengan pandangan mata yang sesekali melihat pria yang sedang dalam penanganan petugas.


"Aku sendiri tidak tahu, Lucas. Pria itu tiba-tiba datang dan coba menusukku, tapi Ansel menyelamatkanku dengan mengorbankan dirinya." Isak tangis Irene terdengar begitu perih.


Lucas pun memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Ansel. Setelah memastikan Ansel masih bernapas, Lucas langsung melepas jaket yang dikenakannya dan memberikan pada Irene untuk menekan luka tusukan pada perut Ansel agar menghambat aliran darah yang keluar dari luka itu.


"Tunggulah Nona, sebentar lagi pihak berwajib dan ambulance pasti akan datang." Lucas berlalu dan mulai melangkah menuju pria yang saat ini sedang dibekuk oleh petugas keamanan apartemen.


Setelah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menunjukkannya kepada kedua petugas itu, kini Lucas langsung menginterogasi pria itu dengan berbagai macam pertanyaan. Bahkan Lucas sampai memukul wajah pria itu berulang kali setelah melepas penutup wajahnya.


"Kau masih tak mau bicara!" Lucas kembali menghajar pria itu yang saat ini semakin tak berdaya dengan beberapa lebam di wajahnya. Sampai akhirnya, karena tak tahan terus dipukuli oleh Lucas, pria itu pun akhirnya buka suara dan mengatakan sesuatu yang membuat Lucas mengetahui motif pria itu melakukan semua kejahatannya.


Tak lama berselang, ambulance dan petugas kepolisian mulai berdatangan. Ansel segera mendapatkan penanganan dari team medis yang sudah berada didekatnya.


"Permisi Nona, biar kami tangani dulu." Seorang petugas medis mulai mengangkat tubuh Ansel yang tidak berdaya dan merebahkannya ke sebuah brankar.


"Tolong selamatkan suami saya, tolong!" pinta Irene penuh harap.

__ADS_1


"Kami akan melakukan dengan sebaik mungkin, sekarang sebaiknya Anda banyak berdoa saja, Nona," jawab petugas medis yang lainnya.


Irene masih tak kuasa membendung air mata yang saat ini semakin membasahi kedua pipinya. Tangisannya terdengar semakin piluh karena melihat kondisi Ansel dengan darah yang masih membekas di kedua tangannya.


"Ansel, aku mohon kamu harus kuat. Anak kita membutuhkan kehadiranmu, Ansel. Aku mohon," batin Irene yang masih begitu terisak.


Setelah mendapatkan pertolongan pertama, kini team medis langsung membawa Ansel ke ambulance untuk menuju ke rumah sakit yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen, tempat kejadian itu.


Selama di dalam ambulance, Irene terus menggenggam tangan suaminya sambil terus menangisi keadaannya. "Ansel, kamu harus kuat. Jangan tinggalkan aku sendiri, Ansel."


Tak berapa lama kemudian, ambulance akhirnya mulai memasuki pelataran rumah sakit dan proses pemindahan pun berlangsung dengan cepatnya.


Irene terus mengikuti brankar yang saat ini terus didorong oleh para petugas medis menuju ruang operasi yang berada di ujung koridor sana. Perasaannya kala itu masih tak karuan, ia masih menangis dan begitu terpukul dengan situasi yang saat ini menimpa suaminya.


"Saya mohon Dokter selamatkan suami saya," lirih Irene memohon dengan linangan air mata pada kedua pipinya.


"Pasti Nona, saya akan lakukan sebaik-baiknya. Sekarang Nona silahkan menunggu dan berdoa." Dokter pun berlalu masuk ke dalam ruang operasi dan meninggalkan Irene sendirian dalam kesedihannya yang mendalam.


Tiba-tiba sebuah sentuhan pada bahunya, membuat wanita itu seketika menoleh dan ternyata Lucas sudah berada tepat di belakang tubuhnya.


"Nona Irene, apa Anda sebaiknya tidak istirahat saja di hotel? Biar Tuan Ansel saya menunggu sampai selesai operasi," ucap Lucas yang sangat tidak tega melihat kondisi Irene saat ini yang benar-benar terpukul dengan kondisi suaminya.

__ADS_1


"Tidak Lucas, aku tidak akan pergi. Bagaimana bisa aku tenang, sedangkan suamiku saat ini sedang berjuang untuk hidup?" lirih Irene penuh penekanan.


Lucas pun mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Irene, hingga akhirnya pria itu membiarkan Irene menunggu dan saat keduanya sudah duduk di sebuah kursi panjang yang berada di depan ruang operasi.


"Nona, saya sudah tahu siapa pelaku penusukan itu," ungkap Lucas memberitahukan hal ini kepada Irene.


Perkataan Lucas membuat wanita itu seketika mengusap air mata pada kedua pipinya dan langsung menoleh untuk menatap Lucas yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Siapa? Apa kesalahanku sampai pria itu merusak kebahagiaanku?" tanya Irene tampak geram dengan perbuatan pria itu yang mengakibatkan suaminya menjadi korban penusukan.


"Namanya Jammie Howard, usia sekitar 22 tahun. Dia adalah adik dari Kevin Howard, apa kau mengenalnya, Nona?" tanya Lucas coba mengingatkan Irene tentang apa yang pernah menimpanya beberapa hari yang lalu sebelum dirinya bertemu dengan Ansel.


"Aku tidak mengenalnya Lucas. Bahkan kedua nama itu sangat asing di telingaku." Irene semakin dibuat kebingungan. Namun, wanita itu terus memutar ingatannya untuk mengingat apa yang pernah terjadi padanya beberapa hari yang lalu.


"Sudah aku duga, Anda memang tidak mengenal nama mereka, tapi jika tentang kejadian di apartemen SACO Birmingham, pasti Anda ingat! Karena saat itu Anda-lah yang telah memukul kepala Kevin Howard hingga mengakibatkan pria itu kritis dan sampai meninggal beberapa hari setelah kejadian itu. Setelah meninggalnya Kevin, dua hari kemudian Ibu mereka yang bernama Julie Howard juga meninggal karena begitu terpukul dengan kepergian putranya. Jadi karena itulah Jammie sangat dendam pada Anda. Sebenarnya Jammie ingin menghabisi Anda di dalam unit apartemen, tapi saat dia masuk ke sana, pria itu hanya menemukan Nisa dan untungnya Jammie tidak sampai melukai teman Anda itu. Sampai akhirnya, saat pintu lift terbuka, Jammie melihat Anda dan tanpa pikir panjang lagi, pria itu langsung menghujamkan pisau yang memang sudah disiapkannya."


Irene terhenyak begitu kaget setelah mendengar cerita dari Lucas tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini, ada rasa iba di dalam pikirannya pada keluarga Howard. Namun, saat itu ia tak punya pilihan untuk melakukannya demi menyelamatkan Nisa.


"Maafkan aku Jammie, tapi aku sungguh tak punya pilihan. Saat itu yang aku lihat hanyalah tabung pemadam dan aku pikir jika aku memukul kepala penjahat itu dengan menggunakan tabung pemadam, pasti aku bisa menyelamatkan Nisa. Namun, aku berani bersumpah jika aku tidak bermaksud untuk membunuhnya." Irene semakin terisak dengan kepalanya yang tertunduk. Kedua tangannya terlihat sedang meremas pakaiannya. Ia begitu kesal dan sangat terpukul dengan semua yang terjadi saat ini.


"Maafkan aku Ansel, ini semua kesalahanku. Andai aku tidak pergi dari Korea, pasti kita tidak akan ada di sini dan kejadian ini tidak akan pernah terjadi," batin Irene menangis dengan rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️


__ADS_2