Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Terbaik


__ADS_3

Selamat membaca!


Malam semakin larut, kini Dyra dan Darren sudah berada di dalam rumah, meninggalkan Irene sendiri di rumah sakit untuk menjaga Ansel. Untungnya kamar dengan VVIP room memiliki fasilitas yang mengagumkan dan sangat lengkap, hingga membuat Irene merasa nyaman walau dalam keadaan hamil sekalipun.



Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, Dyra sudah menasihati Ansel, hingga membuat lelaki itu mulai menerima keberadaan Irene untuk menjaga dan merawat dirinya selama Dyra juga Darren tidak berada di rumah sakit.


Perkataan Dyra membuat Ansel sedikit menyadari untuk menerima Irene sebagai istrinya. Walau Ansel tak mengucapkannya, namun dari caranya menerima keberadaan Irene untuk menjaganya malam ini, sudah menyimpulkan bahwa setidaknya Ansel mulai dapat berpikir kalau Irene adalah istrinya.


"Pelan-pelan ya," ucap Irene yang baru saja kembali mengantar Ansel dari bathroom.


Setelah berhasil merebahkan tubuh Ansel di atas ranjang. Irene melipat kembali kursi roda yang baru saja digunakan dan meletakkan di tempat awal ia mengambilnya.


"Apa kamu butuh sesuatu lagi, Ansel?" tanya Irene dengan raut wajah yang tampak kelelahan.


"Tidak, sudah cukup. Kau jangan senang dulu karena aku mengizinkanmu untuk berada di kamarku. Anggap saja karena ini adalah tanggung jawabmu, semua yang terjadi padaku juga pasti karena doa darimu kan!" ketus Ansel dengan suara lantang.


Irene dengan cepat menampik semua tuduhan Ansel. "Tidak Ansel, aku tidak pernah mendoakanmu yang buruk-buruk. Percayalah padaku!" Irene terus meminta sambil sedikit memohon kepada Ansel, agar suaminya itu berhenti menuduhnya yang macam-macam.


"Sudahlah, aku muak mendengar sanggahan itu terus darimu. Diamlah, aku ingin tidur!"


Irene pun seketika diam tanpa kata, ia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti untuk menuju sebuah sofa.


"Kau tidak perlu cemas Ansel, setelah operasi pendonoran mata itu selesai, aku akan pergi dari hidupmu," batin Irene merintih perih dalam hatinya.


Irene mulai merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa, hingga membuatnya dalam sekejap langsung terlelap, dengan membawa luka di hatinya.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setibanya di rumah, Dyra dan Darren kini sudah berada di dalam kamar. Keduanya segera membersihkan diri di bathroom, setelahnya mereka berganti pakaian tidur di walking closet.


Pandangan mata Darren tak pernah beralih dari tubuh Dyra yang terlihat sangat kelelahan. Hasrat dalam dirinya terasa ingin menyentuh istrinya segera, namun ia berpikir malam ini tidak ada salahnya untuk libur bercinta demi kebaikan Dyra, karena Darren tahu bahwa besok adalah hari pertama Dyra kembali mengajar.


Darren melihat tanpa berkedip saat Dyra melepas bathrobe yang dikenakannya, hingga tubuh putihnya yang polos terpampang nyata dalam manik mata Darren, membuat pria tampan itu menelan salivanya dengan kasar. Dyra terlihat mengenakan lingerie tipis berwarna maroon tanpa bra seperti malam-malam biasanya, namun entah kenapa malam ini keseksian Dyra bertambah sepuluh kali lipat dari biasanya.


"Ya ampun, gimana mau libur kalau begini. Istriku ini selalu terlihat seksi di setiap mengenakan lingerie itu," batin Darren yang lagi-lagi menelan saliva yang tercekat dalam kerongkongannya.


Dyra menoleh ke arah Darren yang masih berdiri mematung dan belum mengenakan pakaian, masih mengenakan bathrobe yang membalut tubuhnya.


Dyra berjalan dengan anggunnya untuk mendekat ke arah Darren, lalu kedua tangannya mengalung di leher suaminya.


"Hubby, kenapa kamu malah diam dan tak memakai piyama tidurmu?" tanya Dyra dengan nada yang manja.


"Hubby," ucap Dyra memanggil kembali suaminya yang sedang termangu.


Darren mulai tersadar sambil menggeleng singkat seperti salah tingkah di depan Dyra.


"Iya ini aku mau pakai piyamaku. Tolong kamu mundur dulu ya, sayang." Raut wajah Darren terlihat tegang yang diikuti oleh adik kecilnya yang juga tak kalah menegang.


"Biar aku pakaikan ya, Hubby!" Dyra mengambil piyama Darren yang masih berada digenggamannya, lalu kedua tangannya mendorong tubuh Darren, hingga membentur cermin besar yang berada di belakangnya.


"Sayang... Kamu mau apa?" tanya Darren merasa gugup.


"Kamu ingin kita bercinta setiap malam, bukan? Menghabiskan malam panjang dengan bermandikan keringat dan saling berbagi hasrat."

__ADS_1


Darren memberi jarak untuk tubuh Dyra, agar tidak terlalu rapat didekatnya. Ia tidak sampai hati bila harus memuaskan hasratnya, walau saat ini hasratnya sudah mulai merayap naik di dalam pikirannya.


"Ti-tidak, sayang... Malam ini aku tidak masalah bila kita libur dulu. Aku tahu kamu pasti lelah, apalagi besok pagi kamu harus kembali mengajar di kampus kan."


Dyra sejenak diam dan memindai setiap jengkal tubuh suaminya, bahkan ia menatap adik kecil milik Darren yang kini benar-benar sudah menegang keras.


"Tidak ada kata lelah untuk memuaskan suamiku yang menggemaskan ini," ucap Dyra sambil mencubit pelan sebelah pipi Darren lalu mengalihkan tangannya ke arah adik kecilnya dengan sentuhan nakalnya.


"Lagipula adikmu yang satu ini, sudah pasti tidak akan kuat bila menunggu besok, Hubby. Kamu tidak perlu merasa tidak enak, karena melayanimu adalah kewajibanku sebagai seorang istri yang harus aku lakukan. Ayo Hubby, lebih baik kita mulai sekarang," ucap Dyra dengan raut menggoda.


Darren pun tak mampu lagi berkata apapun, ia kini mengikuti langkah Dyra yang saat ini menuntunnya ke arah ranjang besar. Tempat dimana mereka akan memulai olahraga malam dengan berbagi hasrat dan saling memberi kenikmatan satu sama lain.


"Terima kasih sayang, kamu memang istri yang terbaik. Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita dan ikatan pernikahan ini, sampai akhir hidupku," batin Darren menatap dengan lekat sosok istrinya yang kini ada di depan langkahnya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak ya.


Jangan lupa untuk vote dan like setiap episodenya ya.


Mampir juga ke karyaku yang lain :


__ADS_1


__ADS_2