
Selamat membaca!
Setelah menyelesaikan sarapan paginya. Ansel dan Irene kini sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Lucas.
"Tuan Ansel, saya turut bahagia karena akhirnya Anda telah menemukan Nona Irene dan kalian bisa kembali bersama lagi," ucap Lucas sambil terus mengendarai mobil di tengah lalu lintas kota Birmingham yang saat ini sedang padat-padatnya.
"Iya Lucas, terima kasih karena kamu telah menemaniku selama aku mencari Irene di sini."
"Tidak masalah, Tuan. Bagi saya yang terpenting saat ini Anda bahagia." Lucas pun mempercepat laju mobilnya di saat kemacetan mulai terurai di depan sana.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit lamanya. Kini mobil yang dikemudikan oleh Lucas sudah berhenti tepat di pelataran lobi apartemen, tempat di mana Irene tinggal bersama Nisa
"Ansel, kamu mau ikut ke atas atau menunggu saja di mobil? Aku hanya ingin pamit kepada Nisa dan mengambil koperku saja."
__ADS_1
"Aku temani saja ya! Kamu itu 'kan sedang hamil, masa aku membiarkanmu membawa koper sendirian," ungkap Ansel dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya.
Setelah keduanya keluar dari mobil, kini mereka melangkah beriringan untuk masuk ke dalam lobi menuju sebuah lift yang berada di sudut sana.
"Sayang, nanti malam aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Sekalian kita dinner di sana ya!" Raut wajah Ansel tampak bahagia saat mengatakan semua itu. Kebahagiaan yang pada akhirnya dapat ia rasakan ketika sudah berada didekat Irene, wanita yang sempat disia-siakan keberadaannya.
"Iya sayang, tapi memangnya kita mau ke mana? Apa kamu tahu tempat yang indah di kota ini?" jawab Irene dengan rasa penasarannya. Saat ini hatinya begitu berbunga-bunga dengan perubahan Ansel saat ini, yang menjadi semakin romantis.
"Kamu ini semakin pinter bikin kejutan ya. Nanti suatu saat gantian aku yang akan membuatmu terkejut!" Perkataan Irene seolah menyiratkan sebuah makna yang membuat Ansel seketika merasa takut kehilangannya lagi.
"Apa sih kamu, kenapa bicara seperti itu? Kamu mau ninggalin aku lagi ya?" protes Ansel dengan beberapa pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Saat ini, pria itu telah melepas tangannya yang melingkar pada pundak Irene dengan langkah yang terhenti tepat di depan pintu lift.
"Aku hanya bercanda sayang, kamu tenang saja ya!" ucap Irene sambil mengusap rahang suaminya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Pandangan wanita itu semakin menatap dalam kedua manik mata Ansel yang begitu teduh saat dilihatnya. "Pokoknya selama kamu seperti ini, jangankan meninggalkanmu satu hari, sedetik pun mungkin aku tidak sanggup sayang," sambung Irene yang semakin berbunga-bunga karena keberadaanya saat ini menjadi sangat berarti untuk Ansel.
Tak lama pintu lift pun terbuka lebar, dari dalam lift hanya ada seorang pria yang keluar dengan menyembunyikan sesuatu di tangan kanannya. Pria misterius dengan pakaian serba hitam itu, tiba-tiba hendak menikam bagian perut Irene yang saat ini tak mengetahui bahwa ada bahaya yang sedang menghampirinya. Namun, sesaat sebelum pisau itu berhasil menembus bagian perut Irene, Ansel yang melihatnya langsung mendorong tubuh sang istri hingga membuat Irene terjatuh dan Ansel pun menggantikan posisinya sampai membuatnya harus menjadi korban penusukan itu.
Setelah gagal menusuk target yang diincarnya, pria yang tak diketahui identitasnya itu langsung berlari dengan cepat untuk keluar dari lobi. Namun, langkahnya harus terhenti saat petugas keamanan dari apartemen berhasil meringkusnya.
Irene masih berteriak histeris saat tubuh Ansel yang bersimbah darah, kini sudah berada di atas pangkuannya. "Ansel, bangun! Ansel, bangun." Irene terus menangisi kondisi suaminya yang saat ini mulai kehilangan kesadarannya. Namun, sesaat sebelum Ansel menutup matanya, pria itu sempat mengucapkan sebuah kalimat yang membuat lelehan air mata semakin deras keluar dari sudut matanya.
"Irene, aku bahagia karena sempat bertemu denganmu," ucap Ansel dengan suaranya yang terdengar lemah dan begitu lirih, sebelum kedua matanya terpejam.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
__ADS_1