
Selamat membaca!
Darren sedang menikmati makanan yang dimasak secara langsung oleh Dyra, tanpa bantuan chef yang memang bekerja di rumahnya. Masakan yang dapat selalu membuat lidahnya seperti menari-nari dengan kelezatan yang ia rasakan.
"Masakanmu ini memang luar biasa. Aku mungkin tidak bisa membayangkan, apa seleraku untuk makan bisa selahap ini tanpa makanan yang kamu masak?"
Dyra sejenak menghentikan kedua tangannya yang sedang memotong steak yang berada di atas piringnya. "Kamu ini terlalu berlebihan Hubby. Padahal masakan kedua chef kita di rumah juga selalu lezat, akulah yang harus banyak belajar dari mereka."
Darren tersenyum dengan sikap rendah hati yang saat ini Dyra tunjukkan padanya. Ia semakin kagum, karena Dyra merupakan wanita yang tak haus akan pujian, bahkan mungkin pujian itu adalah sesuatu yang tak diinginkannya.
"Aku bersyukur memiliki kamu Hubby. Kamu adalah anugerah untuk hidupku yang tak ternilai." Raut bahagia di wajah Darren, seketika berubah penuh kecemasan, setelah melihat istrinya terlihat kurang lahap tak seperti biasanya, saat menyantap makanan yang tersedia di atas piringnya. Daging steak itu masih terlihat utuh, hanya sedikit yang terpotong dan itu pun masih menancap pada garpu yang masih digenggamnya.
"Kamu kenapa sayang? Apa kamu sakit?" tanya Darren menautkan kedua alisnya dengan raut cemas.
"Aku mual Hubby," jawab Dyra yang tiba-tiba beranjak dari kursi yang ia duduki, kemudian melangkah menuju wastafel untuk memuntahkan sesuatu yang sudah mendesak di dalam kerongkongannya.
Darren dengan cepat mengikuti langkah Dyra dan memijat lembut leher belakang istrinya yang masih memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
__ADS_1
"Aku akan hubungi dokter untuk datang ke rumah ya."
Darren yang hendak berlalu, seketika menghentikan langkahnya saat genggaman tangan Dyra menggenggamnya dengan erat.
"Tidak perlu Hubby. Aku baik-baik saja sayang," jawab Dyra masih menutupi sesuatu yang sebenarnya ia sudah ketahui sebelumnya.
Darren kembali mendekat ke arah Dyra. Keduanya kini saling berhadapan, hingga membuat pandangan Darren semakin dalam, menilik masuk ke arah manik mata Dyra yang berwarna kecokelatan.
"Tapi kamu harus diperiksa oleh Dokter, sayang. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Darren menangkup wajah istrinya dengan penuh cinta dan menempelkan dahinya pada kening Dyra, hingga membuat embusan napas wanita itu terasa hangat menerpa wajahnya.
"Iya sayang, jika itu keputusan kamu, tapi tolong dokter spesialis kandungan yang kamu datangkan ya, Hubby!"
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Darren yang sedang dibalut rasa cemas, hingga membuat otaknya tak dapat mencerna maksud perkataan Dyra.
Dyra terkekeh singkat. Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. "Selamat ya Hubby, kamu akan menjadi ayah dari anak kita." Dyra tersenyum dengan raut bahagia di wajahnya, menatap dalam manik mata Darren yang seketika tampak berkaca-kaca mendengar perkataan istrinya itu.
Hati Darren bergetar hebat, sekujur tubuhnya terasa dipenuhi aura kebahagian yang saat ini membuncah dalam dirinya. "Benarkah itu sayang. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." Darren tak kuasa menahan kedua kakinya yang terasa lemah untuk menopang raganya. Pria tampan itu berlutut di hadapan istrinya, lalu menyentuh lembut perut Dyra dan langsung memberikan kecupan penuh cinta.
__ADS_1
"Nak, kamu sehat-sehat ya di dalam sana, Ayah dan Amma akan selalu menunggu dengan sabar, sampai nanti kamu lahir ke dunia ini. Ayah mencintaimu."
Lagi dan lagi Darren menciumi dengan lembut perut Dyra, hingga membuat manik mata wanita itu berlinangan air mata, merasa haru atas kebahagiaan yang kini mereka rasakan.
"Aku juga bahagia, Hubby. Terima kasih Tuhan atas anugerah ini, semua kebahagiaan ini adalah buah dari kesabaran dan keikhlasanku dalam menghadapi rasa sakit atas kehilangan yang pernah menimpaku," batin Dyra menatap suaminya dengan senyum yang tak pernah sirna terus menghiasi kedua sudut bibirnya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Makna dari episode ini adalah apapun masalah yang kalian hadapi, percayalah Tuhan akan mengirimkan sesuatu yang lebih indah dari kesedihan yang telah kalian hadapi. Keep strong and believe...
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian.
Mampir ke karyaku yang sudah terbit ini, jangan sampai salah pengejaannya sekretaris bukan sekertaris, oke.
__ADS_1