
Selamat membaca!
Keesokan paginya, Dyra yang sudah terbangun lebih dulu dari Darren, terlihat sedang berada di dalam bathroom. Ia sedang memuntahkan isi perutnya yang sama sekali belum terisi makanan apapun, karena rasa mual yang begitu terasa di kerongkongannya.
Setelah selesai dengan semua itu, tubuh Dyra begitu lemah, hingga membuatnya limbung. Namun, beberapa saat sebelum terjatuh, sepasang tangan menjadi penyanggah tubuhnya, agar tidak terjatuh.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Darren yang sudah berada di dalam bathroom.
Darren terbangun dari tidurnya, di saat kedua tangannya tak dapat lagi menjangkau tubuh Dyra untuk dipeluk. Pria itu seketika bangkit dan mendengar suara Dyra di dalam bathroom yang terdengar sedang mengalami morning sickness, maka itu Darren yang cemas langsung mendatangi Dyra untuk melihat kondisinya.
"Aku mual sekali Hubby," ucap Dyra dengan raut wajah yang pucat.
"Sini biar aku gendong ya!" titah Darren yang langsung menggendong tubuh Dyra untuk kembali ke atas ranjang.
Setibanya didekat ranjang, Darren langsung merebahkan tubuh Dyra dengan perlahan. Raut kecemasan masih terlukis di wajahnya, ia pun memutuskan untuk menghubungi dokter kandungan, agar datang ke rumahnya.
"Biar aku hubungi Dokter Evran ya, kamu harus diperiksa!" Darren mengambil sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia kemudian mulai menghubungi Dokter Evran untuk memintanya datang ke rumah.
Setelah mengakhirinya sambungan telepon, kini Darren beralih dengan menghubungi Erin untuk memerintahkan pada asisten rumah tangganya itu, untuk naik ke atas dan membawakan Dyra sarapan pagi beserta susu. Susu yang memang sangat berkhasiat sebagai penghilang rasa mual dan nutrisi yang baik untuk sang Ibu juga janinnya.
Selesai dengan semua itu, pria berwajah tampan itu kini kembali duduk di samping tubuh Dyra, yang masih terkulai lemah di atas ranjang.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kondisi kamu? Apa saja yang kamu rasakan saat ini?" tanya Darren sambil mengusap lembut pucuk rambut istrinya dengan merunduk.
Dyra menatap wajah suaminya begitu dalam. Ia pun tersenyum bahagia dengan segala perhatian yang tercurah kepadanya.
"Sekarang agak lebih baik. Terima kasih ya, Hubby. Kamu sangat perhatian padaku juga pada bayi yang sedang aku kandung ini. Kamu memang suami yang sempurna," puji Dyra masih menatap wajah suaminya yang kini mulai tersenyum.
"Kamu itu tidak perlu berterimakasih segala, ini sudah kewajibanku sebagai suamimu." Darren mendaratkan sebuah kecupan lembut pada kening Dyra. Hingga membuat Dyra mengulas senyum bahagia di wajahnya.
"Sayang, kita sangat beruntung ya karena memiliki seseorang yang begitu memperhatikan kita, Amma yakin pria ini akan menjadi Ayah yang terbaik untukmu," batin Dyra membuncah bahagia.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. "Tuan, permisi," ucap Erin dari depan pintu kamar.
Erin melangkah masuk ke dalam kamar dengan mendorong sebuah troli makanan.
"Permisi Tuan, ini sarapan pagi dan susu untuk Nyonya Dyra. Oh ya, saya juga bawakan sarapan pagi untuk Tuan."
"Oke Erin, letakkan di situ. Kamu boleh kembali bekerja dan tolong katakan pada Owen untuk menghandle segara urusan saya di kantor, karena saya tidak ke kantor hari ini!"
"Baik Tuan, saya akan sampaikan kepada Owen." Raut wajah Erin tampak masam saat menyebut nama Owen, tak seperti biasanya.
"Tunggu Erin! Apa kamu sakit?" tanya Darren yang menghentikan langkah Erin dan kembali membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak Tuan, saya sehat. Hanya saja saya sedang ada masalah dengan Owen."
Darren menautkan kedua alisnya dengan sorot mata yang menajam. "Masalah apa?" tanya Darren.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa beritahu. Ada baiknya nanti Tuan langsung tanyakan pada Owen saja. Jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, boleh saya permisi ya, Tuan." Erin dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk menutupi kedua matanya yang saat ini sudah tampak berkaca-kaca, karena begitu lirih hatinya ketika mengucap nama Owen.
Darren terus menatap kepergian Erin dengan penuh rasa heran. Sementara itu Dyra yang juga melihat raut wajah Erin, menjadi cemas dan penuh tanda tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Owen dan Erin.
"Kira-kira ada apa ya, Hubby? Kenapa Erin kelihatan begitu sedih?" tanya Dyra yang sedari tadi hanya menatap Erin tanpa berkata apapun.
"Sebaiknya nanti aku tanyakan pada Owen. Sekarang kamu makan dulu ya!" Darren mengambil makanan yang berada di atas troli lalu mulai menyuapi Dyra.
"Kasihan Erin, pasti ada masalah yang terjadi dengan hubungan mereka, nanti aku akan tanyakan langsung pada Erin, mungkin jika sesama wanita dia tidak akan canggung menceritakan apa yang terjadi dengannya," batin Dyra sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih.
__ADS_1