Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Tersipu Malu


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah sampai rumah, tanpa membuang waktu Dyra dan Darren langsung menuju kamar mereka yang berada di lantai 2. Sesampainya di dalam kamar, Dyra bergegas menuju bathroom yang berada di sudut ruangan.



Sementara itu Darren langsung melucuti semua pakaian dan meletakkannya begitu saja di bawah lantai. Kini tubuh Darren sudah benar-benar polos tanpa sehelai pakaian pun. Ia pun mulai melangkah menuju walk in closet untuk mengambil piyama tidurnya.


Dyra masih mematung di depan cermin. Ia sudah menengadahkan kedua tangan untuk menampung air yang keluar dari kran. Dyra mulai membasuh wajahnya, setelah tiga kali ia melakukan itu. Kini Dyra mengambil sebuah sikat lalu pasta gigi dan mulai menggosok giginya, wanita ini memang sudah terbiasa melakukan semua itu, karena ia sangat paham betul tentang kesehatan gigi yang harus dijaganya, terlebih ketika ia hendak tidur.


Selesai dengan semua aktivitasnya di dalam bathroom, ia kini keluar dan mengedarkan pandangan mencari sosok Darren yang tak ada didekat ranjang, saat terakhir kali ia tinggalkan. Tiba-tiba cahaya lampu yang terang seketika berubah redup. Dyra semakin bingung dan terhenyak ketika Darren ternyata berada didepan saklar dan tanpa mengenakan piyama yang hanya digenggamnya. Bahkan Dyra benar-benar dapat melihat dengan jelas, adik kecil milik Darren yang kini sudah menegang.


Dyra langsung mengalihkan kedua bola matanya, agar lebih menatap wajah suaminya, ketimbang harus melihat adik kecil milik Darren yang membuatnya sulit menelan salivanya sendiri.


"Hubby, ini kebiasaan deh suka telanjang sesuka hatinya saja," ucap Dyra melayangkan sebuah protes kepada suaminya sambil menautkan kedua alisnya.


Dyra sebenarnya paham akan maksud Darren saat ini. Namun di jam dua dini hari ini, kedua matanya sudah bergelayut rasa kantuk yang luar biasa, bahkan Dyra sampai berulang kali menguap karena saking merasa kantuknya.


Darren pun menghampiri Dyra


dan seakan tak mendengar protesnya sama sekali.


"Hubby, aku benar-benar ngantuk. Bisakah kita menunda untuk melakukan semua ini besok malam."


Darren merengkuh tubuh istrinya itu dan menggendongnya untuk melangkah menuju ranjang besarnya. Setelah merebahkan tubuh Dyra di atas ranjang. Darren mulai melucuti satu persatu pakaian Dyra, Darren mulai mencecap satu persatu bukit kembar milik Dyra, hingga membuat tubuh Dyra menggeliat menahan rasa geli, yang seketika berhasil mengusir kantuknya.


Dyra mulai menikmati permainan Darren yang semakin membuat birahinya, merayap naik dengan cepat. Mereka pun kembali memadu cinta untuk kedua kalinya.


Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatannya. Kini mereka saling berbagi cerita tentang masa dimana Darren hanya mencintai Dyra dalam diam dan memandangi dari kejauhan.


Dyra meletakkan kepalanya di atas dada suaminya, sambil memilin bulu halus yang tumbuh di sana.


"Jadi saat orangtuaku masuk rumah sakit, kamu yang sudah membayar seluruh biayanya. Kamu yang aku anggap malaikat penolongku ternyata adalah penggemar rahasiaku dengan surat-surat yang kamu kirim itu."

__ADS_1


Darren tersenyum dan langsung memberi sebuah ciuman pada kening istrinya itu.


"Maafkan aku sayang, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak memiliki nyali untuk mengatakan semua isi hatiku padamu," ucap Darren sambil mengusap pucuk rambut istrinya itu dengan lembut.


Dyra mengulas sebuah senyum di wajahnya, menanggapi semua perkataan Darren.


"Mungkin karena itulah, Tuhan kini mempersatukan kita dengan cara yang tidak pernah bisa kita bayangkan. Aku bersyukur akan hal itu. Terima kasih ya Hubby, karena selama ini kamu tak pernah jenuh mencintaiku." Dyra semakin membenamkan wajahnya di dada Darren. Hatinya kini sudah benar-benar merasakan sebuah kenyamanan saat berada dalam dekapan suaminya.


"Aku tidak akan pernah jenuh, sayang. Aku akan mencintaimu selamanya, seumur hidupku."


Pada akhirnya waktu jugalah yang membuat keduanya memutuskan untuk saling memejamkan kedua matanya. Walau peluh di sekujur tubuh mereka masih belum sepenuhnya mengering, namun hangatnya selimut yang kini membenamkan tubuh mereka, membuat keduanya dapat tertidur dengan lelap.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sinar mentari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Dyra pun terbangun seketika dari tidurnya. Kedua matanya langsung tertuju pada jam yang terpampang di dinding, kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.


Dyra menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal, karena telah menghabiskan malam panjang bersama Darren yang membuatnya kelelahan. Memori ingatan semalam berputar-putar dalam benaknya, senyuman manis dengan rona merah terlukis jelas menghiasi wajah cantiknya.


"Hubby, bangun dong. Hari ini kan kamu harus pergi bekerja."


Walau Dyra membangunkan suaminya dengan halus, namun Darren mendengar suara merdu istrinya yang menggelitik masuk melalui rongga telinganya.


Darren segera membuka mata secara perlahan, senyuman seketika terbit saat kedua bola matanya berhasil menangkap wajah seseorang, yang selalu diharapkannya dapat ia lihat saat pertama membuka mata dan sebelum memejamkannya.


"Hi, selamat pagi kesayanganku yang cantik. Kenapa kamu sudah bangun pagi-pagi buta begini? Ayo kita tidur lagi!"


Darren kemudian menarik kedua tangan istrinya, hingga tubuh Dyra kembali roboh di atas ranjang. Setelah itu dengan cepat lelaki tampan itu memeluk tubuh seksi istrinya yang masih belum mengenakan pakaian Tubuh indah yang putih dan hanya dibalut oleh selimut berwarna putih.


"Hubby, jangan tidur lagi dong! Sekarang sudah jam 7 pagi, kamu harus bangun dan segera mandi sebelum pergi ke kantor!" protes Dyra, namun ia tak berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari dekapan Darren, karena ia pun merasa nyaman saat berada dalam posisi seperti ini.


"Aku meeting dari rumah saja ya, karena aku masih ingin memelukmu lebih lama lagi, sehari atau seminggu gitu," pinta Darren dengan suara khas manjanya, sembari menggesekkan wajah pada permukaan kulit dada Dyra.


"Hubby, geli tahu! Kamu ngapain sih? Kayak anak kecil saja deh!"

__ADS_1


Darren tersenyum lebar menatap wajah Dyra begitu dalam. "Lagi pengen di manja sama kamu, boleh kan, sayang? Pasti boleh dong, kan aku manjanya sama istri sendiri."


Dyra mengesah pelan, ia benar-benar tak pernah membayangkan bila pria yang dikenalnya dulu sebagai calon mertuanya, ternyata memiliki sifat yang kekanak-kanakan dan sangat manja seperti saat ini.


"Iya boleh Hubby, tapi manja-manjaannya nanti malam lagi ya, ini sudah jam 7 lewat seperempat loh! Cepat kamu mandi, aku mau buatin menu breakfast buat kamu."


"Aku akan berangkat kerja kalau kita mandi bareng."


"What?" teriak Dyra tak percaya.


"Hubby jangan bercanda deh, jangan minta yang aneh-aneh dong! Seperti biasanya saja, mandi sendiri-sendiri," ucap Dyra mengerucutkan bibir manjanya.


"Sayang, permintaan aku tidak aneh-aneh kok, suami istri mandi bersama itu sudah biasa. Ayolah cantik, temani aku mandi atau aku akan memelukmu sampai malam?"


Dyra sejenak diam, memutar otaknya untuk memutuskan. "Tapi aku kan harus memasak untuk sarapan kamu, waktunya terlalu singkat, Hubby. Bagaimana kalau kita mandi barengnya kapan-kapan saja ya?" ucap Dyra mencari alasan untuk menolak, namun secara halus, agar tidak menyakiti hati suaminya.


Darren menangkup kedua sisi wajah istrinya itu sambil mendekatkan wajahnya, membuat pandangan mereka saling bertaut dalam.


"Soal sarapan kita berdua biar menjadi tugas chef yang membuatkannya, kamu tidak perlu repot memikirkan hal itu ya!" tutur Darren dengan mengulas senyuman.


Raut wajah Dyra kini mulai merona menahan rasa malunya, karena bagi Dyra ini adalah pengalaman pertamanya mandi bersama seorang laki-laki.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Terima kasih ya atas semua dukungannya.


Jangan lupa vote dan like setiap episodenya.


Mampir juga ke karyaku yang ini :


__ADS_1


__ADS_2