
Selamat membaca!
Kimmy menatap dengan rasa bersalahnya ke arah pintu yang tertutup. Ia merasa bersalah karena telah membuat kesalahpahaman yang terjadi, akibat pelukannya yang tiba-tiba kepada Darren, seorang pria yang memang sangat ia kagumi. Baik dari wajah tampannya ataupun harta yang melimpah.
"Sepertinya aku harus membantu pria itu untuk menjelaskan kepada istrinya, aku takut nanti dia malah mencari pendonor mata yang lain. Kalau sampai itu terjadi, impianku untuk hidup mewah bisa gagal," gumam Kimmy mulai merasa takut.
Kimmy pun bergegas keluar dari cafe untuk menyusul Darren.
Sementara itu di lorong rumah sakit, Darren masih terus mencari keberadaan Dyra yang belum dapat dilihatnya.
"Kemana perginya Dyra?" tanya Darren sembari mengedarkan pandangannya melihat ke setiap sudut ruangan yang dilewatinya.
Darren terus menoleh, hingga pandangannya terhenti melihat sosok wanita yang begitu dicintainya. Dyra terlihat mematung, sambil menatap langit malam yang tampak indah dengan cahaya bulan. Kebetulan malam itu bulan sedang membentuk purnama, membuat mata siapapun yang memandang, pasti akan berdecak kagum dengan keindahannya.
Darren mulai melangkah dengan perlahan, agar langkahnya tak diketahui oleh Dyra. Setelah dekat, kedua tangan Darren segera melingkar pada tubuh istrinya, membuat Dyra terkesiap mendapati tubuhnya dipeluk dari belakang. Ia langsung menoleh dan saat manik matanya menangkap sosok pria yang saat ini memeluknya adalah Darren, raut wajah datarnya seketika berubah masam dengan bibir yang mengerucut. Wanita itu melepas kedua tangan Darren dengan kasar, lalu beringsut untuk menjaga jaraknya.
"Jangan dekati aku!" bentak Dyra membentangkan kedua tangannya, untuk membatasi tubuh Darren, agar tak mendekat.
Namun Darren tetap nekat coba mendekat, walau mendapat hadangan dari kedua tangan Dyra. "Sayang, tolong jangan salah paham ya. Aku bisa jelaskan kejadian sebenarnya, semua yang kamu lihat, tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
"Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat menggunakan mata kepalaku sendiri, ketimbang dengan apa yang kamu katakan," ucap Dyra sangat ketus, hingga membuat Darren semakin tersiksa.
"Sayang." Darren menangkup kedua sisi wajah Dyra dengan kedua tangannya. Namun Dyra segera menepis tangan suaminya.
"Tidak usah sentuh-sentuh aku," ucap Dyra dengan nada suara yang meninggi. Ia kemudian membalikkan tubuhnya untuk memalingkan wajah dari Darren.
"Kenapa jadi seperti ini? Tapi aku harus sabar menjelaskan semuanya pada Dyra," batin Darren mulai frustasi dengan sikap Dyra saat ini.
Darren tak menyerah, ia beranjak hingga posisinya kini kembali berada di hadapan istrinya yang masih terlihat marah padanya. "Sayang tolong percaya padaku, tadi wanita itu memelukku dengan tiba-tiba. Mungkin karena ia merasa senang, karena aku telah mengabulkan semua permintaan yang ia katakan, atas imbalan dari pendonorkan kornea mata suaminya kepada Ansel."
__ADS_1
Dyra tak mau menatap wajah Darren, yang saat ini tengah memerah. Ia kembali membuang pandangan matanya ke arah lain.
"Tolong dengarkan aku, tadi aku sudah memarahi wanita itu, agar bisa menjaga sikapnya padaku yang sudah memiliki istri dan wanita itu juga sudah minta maaf, karena telah membuat kesalahpahaman ini terjadi."
Dyra masih bergeming tak bersuara, manik matanya kembali menatap ke arah langit malam yang dihiasi bulan purnama kala itu.
Darren menyugar rambutnya dengan kasar. Ia begitu sedih, karena diacuhkan oleh wanita yang sangat dicintainya. Tanpa berpikir panjang, Darren pun meraih kedua tangan Dyra dan menggenggamnya dengan erat, tak peduli walau wanita itu terus berusaha menolak.
Darren menatap lekat, kini pandangan keduanya saling bertaut dalam.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan? Agar kamu mau percaya dengan semua yang aku ceritakan. Setidaknya kamu mau mendengar penjelasanku." Perasaan Darren saat ini sudah benar-benar tak karuan.
"Lepas, Darren. Jangan menyentuh aku setelah tubuhmu disentuh oleh wanita lain!" ketus Dyra sengaja memberikan penolakan, ia ingin mengetahui sejauh mana Darren berjuang untuk mendapatkan maaf darinya.
Seketika Darren melepaskan genggamannya dari tangan Dyra, tubuhnya terasa gemetar hebat mendengar Dyra memanggilnya dengan menyebut nama. Terlihat air mata sudah bergelayut manja di antara kedua bola mata Darren yang sudah memerah.
Dyra tak menjawabnya, ia masih memasang wajah penuh rasa kecewa. Sebenarnya ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan gelak tawa, yang menggelitik dengan sangat rapat, karena melihat tingkah Darren yang seperti itu.
"Sayang, tolong jangan diamkan aku seperti ini! Aku bisa mati berdiri kalau kamu terus bersikap seperti ini padaku. A-atau begini saja, aku akan mencari wanita yang bernama Kimmy itu dan membawanya ke hadapanmu, biar dia yang menjelaskan padamu tentang kejadian sebenarnya."
"Tidak perlu, kamu pasti bersengkokol bersamanya untuk membohongiku kan! Maaf, aku tidak sebodoh itu!" ucap Dyra sembari bersedekap dan masih menampilkan raut wajah penuh amarah.
"Oke kalau kamu tidak mau percaya dengan perkataanku, aku akan mencari pendonor yang lain saja. Aku tidak ingin kamu malah menuduhku bersengkokol dengannya untuk membohongimu." Darren melangkahkan kakinya untuk menjauh dari tempat Dyra berada, namun baru dua langkah, Dyra langsung meraih tangan suaminya itu, hingga membuat langkahnya terhenti.
Darren menoleh dan langsung menatap wajah Dyra yang sudah menyunggingkan senyum manis di wajah cantiknya. Tanpa aba-aba Dyra memeluk tubuh Darren dengan erat, walau masih terdiam seribu bahasa. Pria berwajah sendu itu pun terhenyak kaget, namun hatinya kini penuh tanda tanya.
"Sayang, apa pelukan ini tanda kamu sudah memaafkan aku? Atau malah sebaliknya, ini pelukan terakhir karena kamu mau meninggalkan aku?" tanya Darren yang telah dibalut rasa cemas.
Dyra melepas pelukannya dan menatap lekat wajah suaminya itu yang sedang kebingungan setengah mati.
__ADS_1
Dyra menangkup kedua sisi wajah Darren dan mendekatkan wajahnya, hingga membuat embusan napas keduanya saling terasa hangat. "Aku hanya mengerjaimu, Hubby. Sebenarnya aku tidak marah karena aku tahu kamu hanya mencintaiku dan tidak akan berani macam-macam dengan wanita lain."
"Benarkah dari tadi kamu hanya mengerjaiku?" tanya Darren tidak percaya bahwa Dyra bisa mengerjainya seperti ini.
Dyra tertawa lepas hingga terbahak, karena telah berhasil mengerjai suaminya sampai terlihat frustasi dan panik bukan main.
"Maafkan aku Hubby. Aku tadi hanya tidak ingin mengganggu waktumu saja, tapi bukan berarti aku marah. Namun setelah kamu mendekatiku, ternyata kamu malah menduga aku sedang marah, jadi ya sudah, aku pikir, kenapa tidak sekalian saja aku mengerjaimu."
Darren menjadi sangat gemas dengan istrinya. Ia kemudian merengkuh tubuh Dyra dan menggendongnya, seolah tak mempedulikan pandangan orang lain yang sedang lalu lalang didekat mereka.
"Kamu ini apa-apaan sih Hubby, lepaskan aku dong," protes Dyra dengan wajah yang kini bersemu merah, menahan rasa malunya.
Darren tak menghiraukan penolakan Dyra, ia terus menggendong tubuh Dyra dan memutar tubuhnya berulang kali, hingga membuat suasana yang sedari tadi tampak penuh drama, kini menjadi terasa manis dengan senyum bahagia di wajah keduanya.
Di kejauhan sepasang mata sedang menatap dengan penuh rasa iri dengan apa yang saat ini dilihatnya.
"Beruntung sekali wanita itu, dia mendapatkan laki-laki yang sempurna untuk menjadi suaminya, kaya, tampan dan romantis. Andai aku memiliki suami seperti itu, pasti hidupku akan sempurna," batin Kimmy terus menatap ke arah Darren dan Dyra tanpa teralihkan.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih sudah mendukung semua karyaku.
Jangan lupa mampir ya ke karyaku yang lainnya :
__ADS_1