
Maaf ya ternyata weekend ini harus kerja jadi kemarin tidak bisa menepati janji untuk up 3 episode.
Selamat membaca!
Setibanya di apartemen yang terbilang mewah milik Evran. Irene mulai memasuki lobi dengan perasaannya yang kini mulai dilanda keraguan.
"Masa aku tinggal berdua dengan Dokter ini, ah aku tidak mau. Apa sebaiknya aku tolak saja ya, lalu aku cari tempat penginapan lain yang harganya tidak terlalu mahal," batin Irene yang seketika menghentikan langkah kakinya di depan pintu lobi.
Evran masih tak sadar bila Irene ternyata tertinggal jauh di belakangnya. Ia terus saja menasehati Irene, agar ia kembali pulang dan mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kasihan Tuan Ansel, Nona, sebaiknya Anda kembali ke rumah besok pagi ya!" titah Evran mengakhiri nasihat yang telah dikatakannya.
Namun saat Evran menoleh untuk menanyakan tanggapan Irene, kedua matanya membulat sempurna saat di belakang tubuhnya ternyata tidak ada Irene yang mengikutinya.
"Kemana wanita itu?" tanya Evran sambil menoleh melihat sekitar lobi, tapi tetap saja kedua bola matanya masih tak menemukan sosok Irene.
Pria itu pun memutuskan untuk kembali keluar dari lobi, dengan membawa rasa penasarannya.
"Apa jangan-jangan dia kabur ya?" tanya Evran dengan tanda tanya besar di dalam pikirannya.
__ADS_1
Evran pun mempercepat langkah kaki dengan setengah berlari menuju area parkiran, namun tetap saja ia tak menemukan wanita yang saat ini sudah benar-benar membuatnya cemas.
"Tidak ada dimana-mana, pasti dia sudah sampai di pinggir jalan!" ucap Evran menerka-nerka dengan napas yang terengah, namun pria itu tetap melanjutkan pencariannya walau terlihat lelah, kini ia berlari menuju pinggiran jalan utama.
Setelah sampai di pinggir jalan, Evran kembali menajamkan sorot matanya untuk mencari keberadaan Irene yang tak kunjung ditemuinya.
"Kemana ya Irene? Kenapa cepat sekali hilangnya? Dia itu manusia apa tuyul ya?" geramnya dengan napas yang tersengal-sengal.
Evran terus mencari sampai beberapa mil dari apartemen, hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika ia mendengar jeritan minta tolong dari suara yang memang tak asing di telinganya.
"Irene." Evran pun berlari semakin cepat, menuju ke arah sumber suara yang didengarnya.
"Hei kalian, jauhi wanita itu dan jangan pernah berani mengganggunya!" Evran mendorong dua pria itu sekaligus yang memang benar-benar terlihat sempoyongan, sampai jatuh ke aspal.
Kedua pria yang tak terima dengan perlakuan Evran, langsung bangkit dan menyerang Evran secara bersamaan. Namun, kedua pria yang sedang dalam keadaan mabuk itu bukanlah tandingan Evran. Hanya butuh beberapa kali pukulan Evran berhasil melumpuhkan keduanya, hingga membuat mereka lari tunggang langgang.
"Anda tidak apa-apa, Nona Irene?" tanya Evran dengan raut cemas di wajahnya.
"Iya tidak apa-apa, terima kasih karena Dokter lagi dan lagi sudah menolong saya," jawab Irene yang coba menepikan rasa takut yang membuat sekujur tubuhnya tampak gemetar.
__ADS_1
"Kenapa Anda pergi, Nona. Dan kenapa juga tidak pamitan padaku terlebih dulu, agar saya bisa menjaga Nona supaya lebih aman bila ingin mengunjungi suatu tempat?" tanya Evran yang sudah mengerutkan keningnya dalam.
"Saya hanya merasa ini adalah suatu kesalahan, masa saya harus tinggal dalam satu apartemen bersama laki-laki lain, sedangkan saya masih berstatuskan seorang istri," ucap Irene yang coba menjelaskan apa yang ada dipikirannya.
Evran terkekeh lucu dengan apa yang Irene katakan padanya. Ia pun mulai menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak menjelaskan hal yang sebenarnya dari awal.
Pria itu terlihat menghela nafasnya sebelumnya ia mulai mengatakan sesuatu pada Irene.
"Ini memang salah saya, harusnya dari awal saya menjelaskan bahwa apartemen yang akan Nona tempati itu adalah apartemen kedua saya dan sangat jarang saya tempati."
Irene terperangah dengan apa yang Evran katakan padanya. Ia merasa sangat bersalah, karena sempat meragukan kebaikan hati Evran yang begitu tulus. Kebaikan yang hanya ingin menolongnya dan tak ada niat jahat sedikitpun terhadap dirinya.
"Ternyata pria ini sangat baik, kalau begitu tidak ada yang perlu aku takutkan lagi sekarang," gumam Irene menatap Evran dengan mengembangkan sebuah senyuman dari kedua sudut bibirnya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Terima kasih banyak ya.
__ADS_1
Vote, like jangan lupa ya sahabat semua.