Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Kebaikan Sahabat


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah Nisa berhasil meredakan kesedihan Irene, kini mereka sudah berada di dalam mobil untuk menuju Hotel Park Regis, tempat dimana Irene akan mulai bekerja.


"Kamu semangat ya Irene, jangan mikirin Ansel dulu karena kamu harus fokus bekerja ya!"


Irene menatap nanar wajah sahabatnya yang terus berusaha menguatkannya.


"Iya Nisa, makasih karena kamu sudah sangat baik mau membantuku." Irene mengatakan itu dengan suara yang masih terdengar tak bersemangat.


"Aku senang karena bisa membantumu. Kamu harus sabar, aku yakin suatu saat kebahagiaan pasti akan datang untukmu."


Irene mulai tersenyum, walau terkesan dipaksakannya. "Aku tidak terlalu yakin, tapi aku berharap apa yang kamu katakan itu benar."


Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit, mobil yang Nisa kendarai kini mulai memasuki area hotel, pandangan Nisa pun tertuju pada sahabatnya yang saat ini sedang dilanda rasa gugup, karena ini adalah pengalaman pertamanya bekerja di negara yang baru pertama kali ia datangi.


"Semangat Irene, aku yakin kamu bisa menjalani pekerjaan kamu ini!" ucap Nisa memberi suntikan semangat agar sahabatnya itu tak lagi murung.


Melihat usaha Nisa yang tak henti-hentinya menyemangatinya, Irene pun mulai menguatkan diri untuk menepikan sejenak rasa sakit yang timbul akibat teringat akan sosok Ansel, lelaki yang dulu memperlakukannya dengan begitu kejam.


"Iya Nisa, aku sudah lebih baik sekarang. Semangat!" pekik Irene membuang raut sendu di wajahnya.


Nisa pun ikut senang, ketika melihat expresi wajah sahabatnya yang saat ini sudah kembali bersemangat.

__ADS_1


Mobil pun mulai terparkir. Kebetulan saat itu Nisa memarkirkan mobilnya di samping mobil Lucas.


Sementara itu di dalam lift, Ansel terlihat begitu antusias akan pertemuannya dengan Irene. Namun, ada satu ketakutan yang bersemayam dalam dirinya, yaitu tentang kebencian Irene yang tercipta karena kekejamannya.


"Walau aku tahu Irene sangat membenciku saat ini, tapi aku tidak akan menyerah untuk meyakinkannya bahwa aku sudah jauh berbeda dengan yang dulu," batin Ansel penuh keyakinan.


Pintu lift pun terbuka. Ansel mulai melangkah keluar diikuti oleh Lucas yang mengekor di belakangnya. Sementara itu di pelataran hotel, Irene terus melangkah ditemani oleh Nisa untuk masuk ke dalam lobi.


"Terima kasih ya Nisa, kamu mau nemenin aku masuk ke dalam."


"Iya enggak apa-apa Irene, nanti setelah kamu bertemu dengan manager hotel ini baru aku tinggal ya."


"Tapi kamu jadi telat ya ke kantor, apa Tuan Ryan tidak akan memarahimu?"


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?" Irene terhenyak dengan kebaikan hati Ryan.


"Tidak apa-apa lagi pula kamu itu lagi hamil. Jadi dia khawatir jika sampai kamu pergi sendirian."


"Kalian berdua memang baik. Tidak salah memang bila Tuhan menjodohkan kalian untuk dapat bersama."


Nisa tersenyum bahagia, ia pun memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat dan secara bersamaan Ansel melintas tepat di belakang tubuh Irene. Namun, Ansel tak dapat melihat wajah Irene karena tubuhnya saat ini membelakanginya, tapi Ansel sempat melihat Nisa yang juga melihat ke arahnya. Pandangan mereka beberapa saat saling bertaut, sebelum akhirnya Ansel dan Lucas terlihat semakin melangkah pergi.


"Ya sudah ayo, kita masuk. Nanti pulang kerja kamu sudah dijemput oleh Thomas ya, aku sudah memberikan nomor ponselmu padanya," ucap Nisa setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


Irene pun tersenyum dan sangat berterima kasih dengan kebaikan hati Nisa.


"Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu, kamu bukan hanya baik tapi juga memiliki hati yang tulus Nisa. Pantas saja Tuhan memberikan seorang pria yang juga baik untukmu," batin Irene menatap kagum wajah sahabatnya itu yang terus melangkah masuk ke lobi bersamanya.


Saat keduanya sudah tiba di dalam lobi, Irene baru menyadari bahwa tas kecil tempatnya menyimpan dompet juga ponselnya tertinggal di dalam mobil.


"Nisa, tas kecilku tertinggal di mobilmu." Irene menepuk keningnya sebagai tanda bahwa ia melupakan sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan.


Pandangan Nisa pun mengarah pada lengan Irene yang memang benar, tidak tampak sebuah tas melingkar di sana.


"Ya sudah kamu temui saja manager hotel ini, biar aku saja yang aja ambil."


"Ah tidak usah, biar aku saja. Kamu itu kan pasti sudah sangat lelah mengendarai mobil, belum lagi setelah ini kamu harus pergi lagi ke kantor untuk bekerja. Sudah biar aku saja ya."


Kedua kakinya yang memang masih terasa lelah akibat mengendarai mobil, membuat Nisa tak bisa menolak permintaan sahabatnya itu. Wanita itu pun memberikan kunci mobilnya kepada Irene.


"Ya sudah aku beritahu manager hotel ini dulu ya, jika kamu sudah sampai," ucap Nisa yang kebetulan mengenal baik manager di hotel ini, karena beberapa kali mereka sempat bertemu di perusahaan tempatnya bekerja dulu.


Setelah menerima kunci mobil yang Nisa berikan. Irene pun mulai melangkah keluar lobi untuk menuju mobil Nisa.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2