
Berikan like dan dukungan kalian dengan vote di setiap episode ya. Terima kasih.
Selamat membaca!
Darren mulai mencecapi kedua bukit kembar milik Dyra, secara bergantian dari sebelah kiri dan kanan. Dyra mulai mengeluarkan suara desahan, walau terdengar ragu. Desahan yang membuat Darren semakin tertantang, untuk terus menaikkan birahi Dyra, yang masih terkungkung di dalam dirinya.
"Ternyata rasanya seperti ini. Aku seperti tersengat aliran listrik, yang membuat sekujur tubuhku bergetar hebat," batin Dyra yang masih menahan birahinya, agar tak memuncak.
Tiba-tiba saat Darren sedang menciumi setiap jengkal tubuh Dyra, hingga hampir tiba di bagian pangkal pahanya, suara ketukan pintu terdengar keras, membuat Darren menjeda sejenak aktivitasnya. Darren yang enggan beranjak, kembali melanjutkan apa yang sempat dihentikannya. Ia kembali mencecapi paha mulus wanita pujaan hatinya itu, hingga salivanya membasahi permukaan kulit Dyra, yang putih mulus dan licin bagai perosotan.
Ini adalah pertama kali Dyra merasakan sentuhan lembut dari seorang laki-laki, yang membuat darahnya berdesir hebat. Bukan hanya itu, bahkan kini detak jantung Dyra sudah berdegup tak beraturan.
"Ya ampun, Hubby. Kenapa rasa gelinya, membuat sekujur tubuhku merinding dan aku seperti tak sanggup menahan mulutku ini, agar tidak mendesah," batin Dyra tak berani jujur kepada Darren, karena saat ini rasa malu telah membuat raut wajahnya merona merah, bagai kepiting rebus.
Darren sesekali memperhatikan raut wajah Dyra yang kadang terpejam, dengan tubuh yang sesekali menggeliat, karena sentuhan yang Darren berikan pada tubuhnya.
Secara usia memang Darren lebih pengalaman dan pintar dalam urusan ranjang, dibanding dengan Dyra, yang tak sekalipun merasakan hal ini sebelumnya.
Saat Darren hendak menelanjangi istrinya secara utuh, suara ketukan itu kembali terdengar keras dengan interval yang sering, hingga membuat kenyamanan yang sudah tercipta, hilang seketika.
Suara Erin mulai memanggilnya dengan nada suara yang semakin keras. Dyra pun bangkit dari posisi tidurnya dan meminta Darren untuk menyudahi apa yang saat ini, belum tuntas mereka lakukan.
__ADS_1
"Sudah biarin aja sayang, nanti juga Erin pergi kok," gerutu Darren mendengus kesal.
Dyra menempelkan telunjuknya pada bibir Darren. "Kamu nggak boleh gitu, bukannya kamu yang menyuruh Erin membawakan pakaianku ke kamar ini. Sudahlah! Lagipula kita lho yang salah, bukan Erin, ini tuh masih siang, Hubby."
Darren mengembangkan kedua pipinya, hingga terisi udara yang dengan cepat hilang bersama desahan kasarnya.
"Asem banget Erin, mana lagi tanggung ini. Kalau kata orang Jakarta, yang begini namanya kentang," batin Darren merutuki nasibnya, yang harus menunda aktivitasnya untuk menjebol gawang Dyra, yang akhirnya masih terjaga dengan rapat.
Darren memang pernah beberapa hari tinggal di Jakarta untuk urusan bisnisnya, dengan salah satu sahabat baiknya yang bernama Arga Wijaya. Bahkan bahasa itu didengarnya saat Arga mengucapkan secara spontan, saat dirinya tengah asyik bersama seorang wanita di kamar apartemennya. Waktu itu kedatangan Darren membuat Arga harus menahan hasratnya kepada seorang wanita yang pada akhirnya, harus ditinggalkan oleh Arga yang harus pergi bersama Darren.
Dyra mengusap lembut rahang Darren yang sedang termangu dan hanya diam mematung. "Sabar ya Hubby, nanti malam kita lanjutkan lagi," ucap Dyra yang kemudian mengecup dahi suaminya itu dengan penuh rasa cinta. Kecupan yang membuat amarah Darren, seketika mereda.
Darren pun bangkit dan melangkah untuk membukakan pintu kamarnya. Sementara Dyra mulai mengenakan pakaiannya yang terlepas, walau terburu-buru dan bergegas menuju bathroom.
"Maaf Tuan, ini pakaian Nyonya Dyra sesuai perintah Tuan," ucap Erin yang sudah membawa beberapa tumpukan pakaian dengan kedua tangannya.
Tidak hanya itu, satu koper juga tak luput dibawa oleh Erin yang saat ini, terus melangkah masuk ke dalam kamar. Erin terlihat repot dengan apa yang dibawanya, namun Darren hanya diam tak ada inisiatif untuk membantunya.
Lelaki itu terus memicingkan sorot mata tak suka ke arah Erin, yang semakin menjauhinya untuk menuju walking closet yang berada di seberang bathroom.
__ADS_1
Darren memang tidak memiliki almari seperti yang ada di kamar Dyra, karena pakaian yang Darren miliki membutuhkan sebuah ruangan besar dengan lemari yang memiliki banyak pintu. Sebuah ruangan yang tidak hanya memuat pakaian saja, namun berbagai macam keperluan Darren seperti sepatu, tas, koleksi jam tangan dan beberapa parfum mahalnya. Erin kini merapikan semua pakaian Dyra di sebuah lemari yang sudah dikosongkan isinya dan khusus disediakan Darren untuk istrinya.
Dyra yang baru kembali dari dalam bathroom, langsung menghampiri Erin di walking closet untuk membantu menyusun pakaiannya sendiri.
"Sudah Nyonya, biar saya saja. Nanti Tuan Darren bisa marah sama saya kalau tahu Nyonya membantu pekerjaan saya," kilah Erin menautkan kedua alisnya, menatap wajah Dyra dengan penuh rasa takut.
Dyra tersenyum ramah, ia tak menghiraukan larangan Erin dan terus saja membantunya dalam menyusun pakaian di dalam almari.
Erin pun berdecak kagum dengan kemuliaan hati Dyra yang saat ini ditunjukkannya.
"Nyonya Dyra sangat baik. Tuan Darren sangat beruntung mendapatkan pengganti Nyonya Bella yang sama baiknya," batin Erin masih menatap wajah Dyra dengan manik matanya yang berbinar.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Ayo vote, vote, vote ya dan ajak teman kalian untuk mau baca karyaku ini.
__ADS_1
Note : Tokoh Arga dalam episode ini ada di novel Bukan Wanita Mandul yang publish di lapak hijau.