
Berikan like dan vote kalian ya sahabat.
Selamat membaca!
Irene kembali ke rumah pada pukul 16.00, tubuhnya yang lemah membuat langkah gontainya terlihat begitu tak bertenaga, ditambah perutnya belum terisi makanan sejak terakhir sarapan bersama Ansel di rumah dan itu pun telah dimuntahkannya. Kini rasa sakit di kepalanya, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang, entah berapa banyak bulir air mata yang sudah menetes, hatinya saat ini masih terasa perih.
Tiba-tiba Irene terhenyak, hingga membuat langkah kakinya terhenti, ketika melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil siapa ya ini? Siapa yang datang ke rumah?" tanya Irene memutar otaknya coba mengingat mobil yang saat ini sedang dilihatnya.
Irene mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam rumah, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Erin.
"Erin... Kamu dimana? " panggil Irene yang terdengar begitu lirih.
"Irene!" sebuah suara terdengar tidak asing menelisik masuk di telinga Irene, membuat wanita itu dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk segera melihat siapa yang memanggilnya.
Betapa terkejutnya Irene melihat kehadiran Dyra di rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dulu, perasaan Irene berubah cemas atas kedatangan Dyra yang secara tiba-tiba. Lidahnya terasa kelu ketika hendak berucap untuk menyambut kedatangan mertuanya.
"Irene, kamu dari mana? Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?" tanya Dyra ketika Irene masih diam seribu bahasa.
Irene mencoba merilekskan tubuhnya yang menegang, ia menggerakkan mulutnya yang terasa kaku untuk menjawab pertanyaan Dyra.
"A-Amma... Amma kapan datang? Kenapa ti-tidak memberitahuku kalau mau ke sini. Kalau Amma bilang kan, aku bisa memasak untuk menyambut kedatangan Amma." Irene begitu gugup saat berhadapan dengan Dyra saat ini.
Di mata Dyra, Irene sangat terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya pucat dengan kedua mata yang sembab, menunjukkan bahwa wanita ini habis menangis dalam jangka waktu yang lama.
__ADS_1
"Aku datang mendadak karena ingin melihat kondisimu, Irene." Kedua mata Dyra menatap lekat wajah menantunya yang nampak tertekan.
"Apa yang terjadi padamu?" imbuhnya kembali bertanya kepada Irene.
Irene dengan cepat menggelengkan kepala sambil menampilkan sebuah senyuman yang tampak dipaksakan. Napasnya kini tercekat karena takut Dyra akan bertanya lebih jauh soal kepergian Ansel, yang harus ia rahasiakan dari siapapun.
"A-aku tidak kenapa-kenapa kok, Amma. Aku baik-baik saja. Oh iya, Amma dan Ayah apa kabar? Apa Ayah ikut datang ke sini bersamamu?" Irene terus berusaha mengalihkan topik pembicaraan, agar semua rahasia Ansel dapat terjaga dengan baik.
"Irene, jangan bertanya yang lain. Jawab pertanyaan Amma, sayang," ucap Dyra penuh kelembutan sembari melangkah, agar lebih dekat dengan Irene.
Tubuh Irene terasa bergetar saat jarak keduanya begitu dekat, terlebih saat Dyra merengkuh tubuhnya, hingga ia berada dalam dekapan mertuanya yang terasa begitu hangat.
"Jangan berbohong, Irene. Ceritakan semua masalahmu padaku, anggap aku ini sebagai sahabatmu dan jangan ada yang ditutup-tutupi, karena semua itu hanya akan membuatmu semakin tertekan. Tolong pikirkan kondisi anak yang berada di dalam kandunganmu!" ucap Dyra sembari mengusap punggung Irene dengan lembut.
Perlakuan istimewa yang Dyra berikan pada Irene, menunjukkan ketulusan dan cinta kasihnya kepada menantunya itu yang saat ini benar-benar dalam kondisi tertekan. Namun Irene masih terus berusaha menutup-nutupi semua kebenaran dari Dyra, karena ancaman Ansel masih teringang di telinganya.
"Kamu bohong, Irene. Aku tahu kamu sedang terluka. Sekarang katakan, apa yang Ansel perbuat sampai kamu seperti ini?"
"Ansel tidak melakukan apapun, Amma. Dia baik dan sangat menyayangiku, dia memperlakukan aku dengan baik dan sangat perhatian padaku dan juga calon bayinya."
Dyra melepaskan tubuh Irene dari dekapannya, lalu kedua tangannya menangkup wajah Irene, hingga pandangan keduanya saling beradu.
"Kenapa kamu selalu berbohong, Irene? Ansel selalu melukaimu dengan kata-katanya, meninggalkanmu sendiri di rumah dan dia pergi liburan bersama teman-temannya. Dia tidak memperlakukanmu dengan semestinya, bahkan dia juga mengabaikan darah dagingnya sendiri, ditambah lagi yang paling parahnya, dia tidak menafkahimu. Apa itu yang kamu bilang Ansel memperlakukanmu dengan baik, menyayangimu dan memperhatikan kamu?" Dyra meluapkan kekesalannya pada Ansel hingga nada suaranya meninggi.
Irene terperanjat kaget, saat Dyra mengetahui semuanya, perasaannya kini semakin kalut sekaligus takut, jika nantinya Ansel akan menuduhnya yang telah memberitahu semua rahasianya kepada Dyra. Irene hanya diam, tak berani berkata apa-apa, tubuhnya semakin menegang dengan kedua mata yang terpejam rapat.
__ADS_1
"Kenapa diam, Irene. Buka matamu, tatap Amma dan katakan yang sejujurnya tentang cara Ansel memperlakukanmu! Amma ingin dengar dari mulutmu sendiri? Tanpa harus melihat rekaman CCTV ini."
Irene sungguh tak menduga, bahwa setiap sudut rumah sudah terpasang CCTV yang terpasang tanpa sepengetahuannya bahkan Ansel sekalipun. Seketika air mata yang Irene tahan dengan sekuat tenaga, agar tidak terjatuh, akhirnya lolos juga dan membasahi wajahnya yang pucat. Perlahan namun pasti, Irene membuka matanya dan menatap wajah Dyra dengan begitu sendu.
Kini Irene tak dapat lagi menyembunyikan semuanya. Terlebih Dyra sudah menunjukan sebuah kaset yang berisikan rekaman CCTV, yang telah diambilnya dari kamera tersembunyi di ruang makan.
Irene memeluk erat tubuh Dyra, ia terisak dalam dekapan mertuanya untuk menghamburkan segala kesedihan yang selama ini ia pendam, karena tak ada tempat untuk mencurahkan rasa sakit yang dirasakannya.
Dyra mengusap kepala Irene dengan perlahan, ia pun merasa sangat terpukul ketika mendapat laporan dari Erin mengenai perlakuan Ansel kepada Irene selama tinggal terpisah dengan Darren, terlebih saat Dyra melihat secara langsung rekaman CCTV yang jelas merekam semua perkataan Ansel sewaktu di ruang makan. Sungguh amarahnya saat ini semakin membuncah, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa kondisi Irene saat ini benar-benar sangat memprihatinkan.
Apalagi Dyra juga menerima laporan dari Owen yang melihat Irene tengah menunggu bus di halte, semakin menambah luka di hati Dyra dan merasa sangat iba dengan nasib yang dialami Irene saat ini.
"Kamu tenang saja, setelah ini semua akan baik-baik saja," ucap Dyra terus memeluk erat tubuh Irene yang masih terisak meluapkan semua kesedihannya.
"Hubby, harus tahu semua ini. Ansel benar-benar tak punya hati sama sekali. Aku tidak akan tinggal diam, karena Irene berhak untuk merasakan kebahagiaan, terlebih saat ini dia sedang mengandung darah daging Ansel," batin Dyra menahan amarah dalam dirinya yang benar-benar tertuju pada sosok Ansel.
🌸🌸🌸
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Sempatkan diri kalian untuk vote sebanyak-banyak ya.
Mampir juga ke karyaku yang ini :
__ADS_1