Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Aku Ini Bodoh


__ADS_3

📢 Tebarkan kebaikan kalian dengan memberikan vote dan tolong bantu rate semua karya saya ya, karena ada yang dengan sengaja menurunkan rate semua karya saya, grup dan orang yang sama, yang membuat karya saya Partner Ranjang di hapus sementara dari NT karena laporannya yang berlebihan.


✅ Jangan biarkan kejahatan menang, karena semesta akan selalu bersama dengan orang-orang yang mempunyai hati yang bersih dan ikhlas untuk saling menolong.


Selamat membaca!


Setelah kembali, Owen memilih untuk bungkam dan tidak menceritakan kepada Ansel apa yang telah Will sampaikan padanya.


"Siapa yang tadi telepon, Owen?" tanya Ansel yang sudah dipenuhi rasa penasaran di dalam pikirannya.


"Bukan siapa-siapa Tuan, ini Will biasalah dia mau pinjam uang," kilah Owen menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


Ansel sedikit terkekeh mendengar perkataan Owen. "Pinjamkan saja, jangan pelit-pelit Owen, bukan kah dia sahabatmu. Memangnya dia butuh berapa? Nanti biar aku bicara ke Ayah."


Owen tercekat kaget, karena kebohongannya harus berlanjut. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab, agar perkataannya terdengar masuk akal.


"2 juta, Tuan."


"Oh, hanya 2 juta. Kalau segitu aku ada, biar nanti aku saja yang berikan padanya. Nanti aku akan transfer, katakan padanya tidak usah diganti, anggap aku memberikannya sebagai bantuan sewaktu orangtuanya sakit kemarin itu."

__ADS_1


Owen kembali tercekat. Kali ini keterkejutannya tiga kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Ia tak menyangka bahwa Ansel telah banyak berubah, jika dulu dia tak pernah mempedulikan tentang semua pekerja di rumahnya, kini dengan ia memberikan sejumlah uang pada Will itu sudah membuktikan, bila saat ini Ansel memang benar-benar telah menjadi sosok laki-laki yang lebih dewasa dan tentunya bisa peduli terhadap orang lain.


"Ini sih namanya seperti durian runtuh ya Will, dapat uang cuma-cuma. Aku yang bohong, kenapa Will yang dapat uangnya," gerutu Owen dalam hatinya, menahan decak kesal.


"Sudahlah Tuan, sekarang yang terpenting kita segera temukan kemana tujuan Nona Irene pergi."


Ansel tersadar dan mengikuti topik pembicaraan yang Owen sengaja alihkan.


"Iya, hampir saja aku lupa." Ansel Menepuk keningnya keras. Ia kemudian mengusap dagunya tanda ia berpikir keras akan langkah selanjutnya untuk menemukan keberadaan Irene.


"Oh ya, apakah kau tidak memeriksa data penumpang 7 hari lalu?" sambung Ansel dengan sebuah pertanyaan.


"Kau betul Owen," tukas Ansel dengan senyum di wajahnya tanda ia sangat setuju dengan ide dari Owen.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya segera, kita tidak boleh membuang banyak waktu."


"Ayo, lagipula aku sudah sangat merindukan Irene. Saat ini aku baru menyadari bahwa wanita yang awalnya tak aku harapkan untuk menjadi istriku, ternyata sebenarnya dialah yang terbaik dan anugerah dari Tuhan yang seharusnya tidak aku sia-siakan."


Owen menepuk pundak Ansel untuk memberikan kekuatan pada tuan mudanya itu. "Sabar ya Tuan, semua pasti akan indah pada waktunya. Nanti ada saatnya kalian bisa bersatu lagi seperti dulu dan saat itu telah kembali, jaga dan sayangi juga perlakuan Nona Irene dengan istimewa, oke Tuan."

__ADS_1


Perkataan Owen mengembangkan senyuman dari kedua sudut bibir Ansel. Pria itu kini semakin bersemangat untuk dapat membawa Irene pulang, agar mereka bisa berkumpul kembali.


"Kau benar Owen, selama ini begitu banyak air mata yang sudah aku berikan untuknya, aku telah melukainya dan aku menyesali semua itu. Memang aku ini bodoh! Tapi aku bertekad apapun akan aku lakukan agar dapat membawa Irene untuk kembali pulang bersamaku," batin Ansel penuh keyakinan di dalam hatinya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih menjelang ending ini kalian masih setia menunggu ceritaku ini.


Tidak ada yang membuat seorang Author bahagia selain karyanya di apresiasikan lebih oleh pembaca semua.


Yuk, tunjukan apresiasi kalian dengan vote sebanyak-banyaknya, agar karyaku ini bisa masuk ke ranking vote.


Mampir juga ke karyaku yang lain ya :


__ADS_1


__ADS_2