
Akbar sangat bahagia mendengar bahwa Kakaknya dan Sera sedang sama-sama mengandung. Dan herannya lagi, kenapa Aisyah tidak memberitahu kabar bahagia itu kepadanya, jelas-jelas semalam ikut menyaksikan Ijab siri nya dengan Fatim.
"Kak Aisyah hamil, Alhamdulillahirobbil'alamin. Akhirnya, semoga kali ini tidak ada masalah lagi ya" Kata Fatim.
"Kamu tau masalah Kak Ais?" Tanya Akbar.
"Iya Bang, aku dengar dari Kak Ais sendiri, kalau dia juga korban pelecehan oleh seniornya di Korea. Kak Ais masih beruntung tidak di ambil kehormatannya" Kata Fatim tiba-tiba menjadi sedih lagi.
"Kak Ais memang tidak sampai pelecehan seksual, tapi perutnya tertusuk pisau hingga menenai dinding rahimnya. Dan beberapa kali hamil, selalu harus di gugurkan karena mengalami komplikasi" Kata Kabir.
"Ghooooiiikkkkkk, Alhamdulillah, haaahhh kenyang" Kata Jamil.
Suara sendawa Jamil memecah ketegangan suasana di sana. Hingga membuat Fatim tertawa, dan Akbar sangat menyukai hal itu. Melihat senyum di wajah Fatim adalah hal terindah dalam hidup Akbar.
Semuanya sudah siap mengantar Akbar ke Bandara. Nampak raut wajah Fatim yang terlihat sedih ketika akan di tinggal Akbar ke Jepang. Fatim menyandarkan kepalanya di bahu Akbar dan memeluk lengan Akbar.
Perpisahan itu terjadi, satu bulan lamanya mereka akan bertemu lagi. Fatim merasa bahwa ada yang hilang dari dirinya. Rasanya ingin menangis, baru saja menjadi suami istri, mereka harus berpisah.
"Kamu baik-baik di rumah ya! Aku akan hubungi kamu setiap waktu. Assallamualaikum" Kata Akbar mengecup kening Fatim dengan lembut.
"Waalaikum sallam" Balas Fatim dengan menvium tangan Akbar.
Di belakang, Jamil malah sedang menggoda beberapa gadis di sana. Kabir yang tidak ingin menjadi nyamuk di antara Akbar dan Fatim pun terpaksa mengikuti Jamil.
__ADS_1
"Hay, kenalin. Aku Fernando, kamu siapa cantik" Kata Jamil.
"Fernando apa terpedo" Bisik Kabir.
"Ah usil wae. Dan ini asisten saya. Namanya Paijo" Kata Jamil memperkenalkan Kabir kepada dua gadis itu.
"Tapi kok gantengan asistennya ya? Jadi ragu nih kalau kakak ini asistenya" Kata salah satu gadis itu.
Kabir menahan tawa, terlihat Jamil sangat kesal dikatakan Kabir lebih ganteng dari dirinya. Tiba-tiba Fatim sudah ada di belakang mereka dan mengajaknya pulang.
"Yo kita pulang" Ajak Fatim.
Di mobil, Jamil tidak henti-hentinya berbicara. Ada saja hal yang ia bicarakan. Entah mengenai lampu merah, zebra cros, tukang pedagang asongan, atau pengamen. Bahkan orang perjalan kaki saja ia bicarakan.
"Juliet Parmin!" Kata Kabir.
"Yo kui lah hahaha. Lah itu, pengamennya anak kecil" Kata Jamil menunjuk pengamen perempuan kecil.
Jamil pun membuka kaca mobil dan meneriaki anak itu. Ia akan memberikan uang jika mau bernanyi untuknya, walau hanya di reff saja.
"Hey nduk! Cewek cilik baju jambon (pink), kesini nduk!" Tariak Jamil.
Anak perempuan kecil itu mendekat ke arah Jamil dan menanyakan tentang kenapa Jamil memanggilnya.
__ADS_1
"Mau nyumbang Om?" Tanya gadis itu.
"Heh, nanti aku nyumbang. Sekarang nyanyiin dulu reff dari Kartonyono Medhot Janji. Nanti aku kasih kamu uang lebih" Kata Jamil.
"Mil, opo se?" Tanya Kabir.
"Siap!" Teriak gadis kecil itu.
Gadis itu mulai memetik ukulelenya dengan sangat fasih. Mulai bernyanyi yang audah di riquest oleh Jamil..
🎶*Mbiyen aku jeh betah, sue-sue wegah.
Niruti kekarepanmu, sansoyo bubrah.
Biyen wis tak wanti-wanti, ojo nganti lali.
Tapi kenyataannya pergi.
Kartonyono ning ngawi medhot janjimu.
Ambruk jagakku nuruti angan-anganmu.
🎶*
__ADS_1