Suara Hati

Suara Hati
Bab. 55


__ADS_3

Tak terasa waktu yang ditunggu-tunggu semua orang telah tiba, tepat hari ini Akbar pulang dari Jepang untuk menghadiri pernikahan adiknya Syakir. Begitupun dengan Kabir.


Semua orang terlihat sibuk siang itu, mereka memasak-masak, mendekorasi, dan ada yang sedang sibuk menerima tamu. Nampak raut wajah Syakir yang berseri-seri tengah tersenyum ketika menemui para tamu undangan, dan tamu dari warga sekitar juga.


Ceasy, Airy, Raihan, Naira dan Diaz pun berlarian kesana sini, liburan yang di jadwalkan Farhan juga tertunda karena adanya acara pernikahan Syakir.


"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, Abang!! aku kira kamu akan datang besok secara mendadak seperti di film indi Bang" Kata Syakir mencium tangan(salim) Akbar dan merangkulnya.


"Bisa aja Bambank" Kata Akbar memukul perut Syakir.


Tak luput Akbar juga bersalaman dengan Orang tuanya, Ruchan dan Leah, kedua Kakaknya, Aisyah dan Rifky. Tak lupa pula membawakan oleh-oleh untuk ketiga keponakan dan kedua adik adiknya, Ceasy dan Diaz.


"Om Abang pulang, Om Abang pulang." Teriak Naira.


"Assallamualaikum kesayangan-kesayanganku. Nih bagi ya, Abang gak bisa main dulu sama kalian, Abang mau gabung sama orang dewasa dulu ya" Kata Akbar memeberikan bingkisan kepada Raihan.


"Gimana kita bisa tahu ini buat siapa aja, oleh-olehnya berbeda-beda gini" Kata Raihan.


"Ini kan ada namanya Abang kecil" Kata Akbar.

__ADS_1


"Berhenti memanggilku Abang kecil, aku sudah besar kali. Ayo semuanya ikut aku" Kata Raihan.


"Buat Ceasy?" Tanya Ceasy menadahkan tangannya.


"Lha itu dibawa Raihan" Jawab Akbar.


"Abang janjiin mau kasih Ceasy setiker Jin sama Jun........." Kata Ceasy belum selesai bicara.


"Abang ada yang manggil tuh, nanti ya. Assallamualaikum" Kata Akbar langsung kabur.


"Waalaikum sallam" Jawab Ceasy murung.


Bruukkkk...


Akbar menabrak Jamil yang saat itu sedang membawa panci besar, entah apa yang akan Jamil lakukan dengan membawa panci sebesar itu.


"Astaghfirullah hal'adzim Ya Allah Ya Rabb, kamu ngapain sih bawa kek gituan. Sakit tau, kan eman wajah gantengku ini di cium panci" Kesal Akbar.


"Ganteng opo? Gagah tur iteng? Minggir lah, aku sibuk!!" Kata Jamil menyenggol Akbar dengan pinggulnya.


"Wehh paijo wong iki!! Awas kamu Mil" Kata Akbar menurunkan sarung Jamil.

__ADS_1


"Wee kampret, untung tak sabuki, kalau ndak ya dah turun nih sarung!! Dasar jomblo!! Eh aku yo jomblo nding hahahha" Kata Jamil.


Semua keluarga telah berkumpul di rumah Ruchan, keluarga Handika pun juga turut hadir, karena itu adalah pernikahan putra bungsu pesantren, maka mereka semua menyempatkan waktu untuk menghadiri acaranya. Irene juga sudah ada disana, duduk di antara Leah dan Ruchan. Tinggal menunggu Sandy yang akan tiba malam nanti.


Namun semua itu belum lengkap, sosok Kabir belum juga muncul di tengah-tengah suasana bahagia itu. Sudah 6 tahun lamanya ia tidak pulang, komunikasi juga bisa di hitung.


Kadang hanya surat dari Kabir yang datang, sama seperti pernikahan Farhan dan Ilham, Kabir juga tidak hadir di tengah-tengah mereka.


"Kabir?" Tanya Akbar kepada Aisyah.


"Gak tau juga sih, Mama belum ada kabar juga dari Kabir, udah lama banget loh dia gak pulang, gimana tamoang nya ya? Kirim foto aja juga gak pernah" Kata Aisyah.


"Memang Kabir gak bawa ponsel Yang?" Tanya Rifky.


"Enggak sih katanya, ponsel lama Kabir juga di bawa sama Syakir" Jawab Aisyah.


"Dia masih konyol gak ya, semoga aja nanti malam udah pulang ya. Kangen juga sama si tukang makan itu" Kata Akbar.


Kakak beradik di dalam rumah, seringkali kita melihatnya bertengkar satu sama lain, tidak ada yang mengalah, dan lain sebagainya.


Ya, wajar hal itu. Mungkin perkelahian kakak beradik tersebut terjadi karena perbedaan pendapat tentang suatu hal.Walaupun demikian, jika tidak ada persoalan semacam itu, dijamin rumah juga akan sepi.

__ADS_1


__ADS_2