Suara Hati

Suara Hati
Bab.28


__ADS_3

Fatim berjalan hingga ke suatu prahu nelayan yang sedang terparkir disana. Tapi Akbar masih bisa mengejarnya, mereka pun berada di samping prahu itu dan duduk disana.


"Kenapa lari sih, maaf deh. Maaf ya, aku kan cuma bercanda, lain kali gak lagi deh" Kata Akbar menyatukan tangannya.


"Gak papa kok, Aku cuma agak gak nyaman aja tadi, kita begitu dekat" Kata Fatim.


"Ya gak papa dong, kan kita juga nanti akan sering berdekatan kalau dah nikah?" Goda Akbar.


"Kan nanti, sekarang belum boleh lah. Dan Abang pede banget, emang aku sudah setuju nikah sama Abang?"Tanya Fatim.


"Yahhhhh" Kata Akbar lemas.


"Tadi kamu kan yang menang, ayo mau nanya apa?" Kata Akbar.


"Emm, jujur ya. Ada tiga pertanyaan sebelum Abang ungkapin perasaan Abang ke aku"Kata Fatim.


"Lah kok jadi tiga sih?" Kata Akbar.


"Kalau gak boleh ya udah" Kata Fatim.


"Aaa iya,iya, tiga boleh deh. Tanya aja sepuasnya lah gak papa, yang penting kamu senang, bahagia, sejahtera, sehat, aman, sentosa" Kata Akbar.


"Sensus pak?" Tanya Fatim.


Fatim pun hening sejenak, memejamkan mata, dan menikmati angun spoy-spoy di pantai. Akbar terus saja memandingan Fatim, ia baru sadar jika Fatim itu begitu manis, wajahnya selalu ada dalam ingatannya. Selalu ia sebut tanpa sadar setiap kali bersdoa dalam sujudnya.


"Abang! Bang!" Panggil Fatim.


"Eh iya?" Kata Akbar.

__ADS_1


"Mau tanya soal Niki boleh? Abang punya hubungan apa sama Niki?" Tanya Fatim.


"Persahabatan! Gak lebih!" Jawab Akbar.


"Enggak spesial gitu? Pacaran misal, atau Abang naruh hati ke Niki? Maaf ya aku tanya begini, ini kan juga agar aku bisa bersikap aja" Kata Fatim.


"Mau cerita dari awal aku kenal Niki?" Tanta Akbar


"Boleh, malah lebih bagus"Kata Fatim.


"Dia teman pertamaku di Jepang, selama enam tahun lebih, bahkan sekarang sudah mau tujuh tahun. Kita selalu bersama, ya walaupun bukan hanya berdua. Disana tetap ada Yasha, Jesicca, dan Oshi juga, mereka juga sahabat aku. Di antara mereka aku memang lebih ngeh ke Niki" Kata Akbar.


"Kenapa?" Tanya Fatim.


"Dia berbeda saja, kata-kata nya begitu manis. Toleransinya dengan agama kita juga bagus, kami sering beribadah bersama, maksudnya ketika aku sholat dia menungguku di luar masjid. Begitu sebaliknya, jika dia sedang sembahyang, aku menunggunya di luar greja" Jelas Akbar.


"Jujur, kalau suka iya. Tapi untuk cinta, sepertinya perasaanku belum sejauh itu. Karena saat itu, hadirlah seorang gadis yang mengaku sebagai Jodhaku, Jodha kecilku pula. Aku mulai memperhatikan dia, sampai saat itu dia menghampiriku sampai ke Jepang, jalan berdua menghabiskan waktu seharian full. Lalu dia salah faham dan tiba-tiba pulang ke Indonesia begitu saja, tanpa mendengarkan penjelasanku" Kata Akbar melirik ke arah Fatim.


"A, penjelasan apa? Jelas-jelas si Jodha itu kan sedang mengganggu orang yang di cintainya berpelukan mesra di bawah indahnya bintang-bintang di langit Jepang" Kata Fatim gugup.


"Tunggu, orang yang di cintai? Wah bener ini, sebentar lagi pasti Jodha Akbar akan bersatu" Goda Akbar.


Dan ketika hendak ingin menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu, saat Niki memeluk Akbar di depan Fatim. Tiba-tiba ada seseorang gadis terjatuh dan memegang dadanya dengan erat, yang di duga terkena serangan jantung. Heh masih muda serangan jantung?


"Ini serangan jantung, aku bukan Dokter Jantung, tapi sebelum di bawa ke rumah sakit, biar aku tangani dulu dia. Yang lain panggil Ambulance atau hubungi siapa aja" Kata Akbar.


Mula-mula Akbar membantu gadis itu duduk beristirahat dan berusaha menenangkan agar tetap tenang. Karena serangan jantung yang gadis itu alami masih bisa di tangani.


Oh ya duduk di lantai atau selonjoran membuat si pasien atau penderita sakit jantung lebih tidak berisiko mengalami cedera jika pingsan.

__ADS_1


Akbar mulai melonggarkan semua pakaiannya, dan bertanya tentang suatu obat atau pernah tidaknya gadis itu periksa ke Dokter spesialis jantung. Untung saja gadis itu sudah pernah diresepkan obat nitrogliserin sebelumnya oleh Dokter, dan segera meminta salah satu temannya yang ada di sampingnya untuk memberikannya kepada Akbar.


Beruntung gadis itu adalah pasien yang patuh, ia membawa perbekalan yang matang saat mengunjungi pantai itu.


Akbar meletakkan tablet di bawah lidahnya, jika pasien tidak memiliki riwayat perdarahan atau pun alergi, pasien dapat diberikan aspirin 325 mg untuk dikunyah.


Hindari memberikan apa pun melalui mulut, kecuali nitrogliserin atau obat lain yang sudah pernah diresepkan sebelumnya.


"Mobilnya sudah siap" Kata teman gadis itu.


"Maaf ya Fatim, aku harus bopong gadis ini agar segera di bawa kerumah sakit" Kata Akbar.


Itu adalah pekerjaannya, Fatim tidak boleh cemburu. Akbar mengangkat gadi itu, tentu saja dengan sehelai kain dari seseorang yang juga di sana, menggendongnya ke mobil yang sudah di siapkan, Fatim juga mengikuti dari belakang.


"Mohon agak cepat ya, kamu yang di belakangnya. Tetap buat dia tenang ok!. Ayo buruan!"Kata Akbar lembut.


"Terima kasih....."Kata Temannya.


"Akbar"Kata Akbar.


"Terima kasih Mas Akbar, saya permisi dulu" Kata Teman gadis itu.


Mobil gadis itu berlalu, Fatim menepuk bahu Akbar dan memberinya dua jempolnya.


"Apa sih, itu tugas Dokter kan?" Kata Akbar.


"Kamu Dokter bedah kan? Bukan Dokter jantung" Kata Fatim tersenyum.


Semua orang yang melihat aksi Akbar, memberinya tepuk tangan dan ucapan terima kasih. Karena Akbar telah membantu gadis malang itu.

__ADS_1


__ADS_2