Suara Hati

Suara Hati
Bab. 79


__ADS_3

Mereka bertiga pun memutuskan untuk mendekati kedua anak itu.


"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, mau beli kak?" Tanya anak itu.


"Iya, kamu jualan apa?" Tanya Kabir.


"Gorengan kak, ada macem-macem. Lihat dulu, kakak juga bisa pilih sendiri kok" Kata gadis kecil itu memberikan plastik.


Keny pun memenggil anak-anak yang sedang bermain di Alun-alun itu dan menanyakan, apakah mereka mau gorengan gratis. Siapa sih yang bisa menolak makanan gratis? Apa lagi ini adlah gorengan. Dalam sekejab dagangan anak itu ludes tanpa sisa.


"Berapa semuannya?" Tanya Akbar.


Gadis kecil itu tiba-tiba menangis. Selama ia berjualan gorengan, tidak pernah sampai habis dalam waktu cepat. Mereka berdua harus sering pulang malam untuk memastikan gorengannya habis.

__ADS_1


"Loh kok nangis sih, kakak jahat kok. Sini dulu" Kata Akbar duduk di samping gadis itu.


Keny duduk di depan mereka, sedangkan Kabir memangku anak adik laki-laki kecilnya. Dan Akbar mulai menanyakan tentang anak-anak itu.


"Hey, kamu kenapa nangis Dek? Cup ya, udah. Hapus air matanya dong, cantik gini, harus tersenyum" Kata Akbar menghibur gadis itu.


"Siapa nama kamu?" Tanya Akbar.


"Dita kak, ini adikku Raza" Kata Dita.


"Selama ini, Dita pulangnya harus tengah malam. Memastikan gorengannya habis, sekarang baru jam segini. Kakak-kakak ini udah ngeborong gorengan Dita. Dita terharu, Raza jadi bisa tidur cepat malam ini. Terima kasih ya Kak" Kata Dita.


"Kamu sayang ya sama adik kamu" Tanya Keny.


"Sayang banget, Raza adalah satu-satunya keluargaku. Dita gak akan pernah membiarkan Raza di sakiti sama Bu Dhe lagi" Kata Dita menyeka air matanya.

__ADS_1


"Bu dhe itu keluarga kamu kan?" Tanya Kabir.


"Tetangga kak" Jawab Dita.


"Lalu orang tua kamu kemana?" Tanya Keny.


"Ibu sama bapak dulu pisahan. Ibu ninggalin kita semua dengan Om Jaka (selingkuhan), Bapak baru meninggal 1 bulan lalu, dan kita tinggal di rumah cuma berdua, dan bekerja dengan Bu dhe" Jelas Dita.


"Emm Dita mau masuk pesantren gak? Sekalian sama Raza" Tanya Akbar.


"Tapi Dita harus bekerja kak, kalau Dita gak kerja, Dita sama Raza gak bisa makan" Jawabab Dita membuat Keny, Akbar, dan Kabir meneteskan air mata.


"Dita gak usah kerja, Dita sama Raza belajar di pesantren aja gimana? Kalau kalian mau, besok kami jemput ya. Rumah kalian dimana? Biar kita antar" Kata Akbar.


Mereka bertiga pun mengantar Dita dan Raza pulang, dan sempat bertemu dengan tetangga yang mereka sebut Bu Dhe itu. Benar-benar sangat tidak berperikemanusiaan tetangga itu, menyuruh anak-anak bekerja keras, padahal warisan Ayahnya masih cukup untuk kebutuhan sehari-sehari sampai anak-anak itu lulus sekolah. Mau tidak mau, akhirnya Akbar akan mengurus hak asuh anak-anak itu dengan keluarga jauhnya agar masuk pesantren.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang, Akbar menjadi pendiam, ia teringat akan Aisyah yang selalu ada untuknya. Mengingat Dita yang rela berkorban untuk sang adik, Aisyah pun juga seperti itu kepadanya. Ia sangat merasa bersalah karena seharian telah menjauhinya, karena hal sepele. Wajar saja Kakaknya marah, karena apa yang Akbar omongin itu belum sesuai dengan kehidupan Akbar yang masih single.


__ADS_2