Suara Hati

Suara Hati
Bab. 145


__ADS_3

Di depan, Jamil, Bonna dan Kabir sudah menunggu Ceasy, yang jalannya menunduk-nunduk. Kesempatan itu di manfaatkan oleh Jamil untuk menggoda Ceasy agar ia semakin panas melihat Kabir dan Bonna, walaupun Jamil tahu, bahwa Kabir dan Bonna tidak memiliki hubungan spesial layaknya sepasang kekasih.


"Aku nyetir, Cesin! Kamu di depan, biar Kabir dan Bon Bon di belakang" Kata Jamil.


"Mana ada, aku dan Kak Bonna di belakang, Kak Kabir di depan. Mereka belum jadi mahram" Kesal Ceasy.


Sementara Ceasy berusaha menyembunyikan rasa cintanya kepada Kabir, Syakir masih sibuk dengan Balqis yang waktu itu masih tertahan berdua karena permintaan Aminah. Syakir mengantar Balqis ke asrama putri, karena ia harus siap-siap untuk belajar dulu. Balqis masih dalam tahab belajar, ia memang anak seorang Ustad, namun pergaulan di luar negri membuatnya terlambat menangkap ilmu agama, di tambah lagi ia besar di lingkungan yang jauh dari keyakinannya.


"Kamu hari nggak ada kuliah?" Tanya Syakir.


"Lah, tiga bulan lalu kan aku wisuda, kenapa? Aku dengar Ustad di jodohin ya sama Febri. Alangkah baiknya kalau kita jangan terlalu dekat, aku akan kerumah kalau mau jemput Aminah aja" Kata Balqis.

__ADS_1


"Kamu, kamu nggak mau jadi Ibunya Aminah sungguhan?" Tanya Syakir.


Langkah Balqis terhenti, ia tertegun mendengar perkataan Syakir yang tidak sengaja memintanya menjadi Ibu sambung dari Aminah.


"Aku sayang dengan Aminah, Ustad. Sejak bayi, sampai sekarang, dia selalu bersamaku, memanggilku dengan sebutan Mama juga, aku sangat beruntung. Tapi aku nggak bisa menyakiti hati perempuan yang akan dijodohkan denganmu, maafkan aku. Sudah sampai, aku masuk dulu. Assallamualaikum" Kata Balqis terburu-buru. Ia juga mencium dan berpamitan dulu dengan Aminah.


"Tapi aku nggak kenal dengan wanita yang bernama Febri, Qis. Aku nggak bisa misahin kamu dengan Aminah, sejujurnya aku masih ingin setia dengan Ika, tapi Aminah butuh sosok ibu yang harus selalu ada untuknya. Dan dia menmilihmu menjadikanmu Ibunya" Kata Syakir.


Dilain tempat pula, Akbar sedang bermain dengan Yusuf dan Falih, mereka berdua baru bertemu sudah sangat dekat, Aisyah dan Rifky memanfaatkan waktu berduaan saja, berhubung anak-anaknya sudah ada yang menjaganya.


"Mi, hayuk laahhh" Goda Rifky.

__ADS_1


"Apa sih, masih siang juga" Kata Aisyah.


"Idih, apa coba? Ih, fikiran Ami sudah mulai kotor ini, mesum ih. Ih, Mi, ih" Kata Rifky sambil mencolek-colek pinggang Aisyah.


"Siapa juga yang berfikiran negativ, sibuk banget ngurus laporan ini, hufft badan dirumah tapi fikiran terus kerja. Capek" Keluh Aisyah.


"Udah di bilang berhenti, tapi Ami nggak mau sih. Udah deh, berhenti aja jadi Dokter, cukup kamu di sampingku, bersama anak-anak, Insyaallah itu sudah membuatku sangat bahagia, mungkin aku akan menjadi suami dan Ayah yang beruntung." Kata Rifky menyandarkan kepalanya di dada Aisyah.


"Apa sih Kak Rifky, percuma dong sekolah jauh-jauh sampai Korea kalau berhenti ditengah jalan" Kata Aisyah membelai rambut Rifky.


"Udah ada anak manggil tetep Kakak. Papa gitu, tuh si Airy sama Raihan udah bisa manggil aku Papa" Kata Rifky mencubit hidung Aisyah.

__ADS_1


Kemesraan itu berlangsung di sofa ruang tengah. Membuat Clara dan Keny malah tambah tidak nyaman melihatnya, akhirnya mereka pun pergi. Dua keluar, dua lagi masuk. Penganggu keromantisan Rifky dan Aisyah telah datang. Yakni Mama Leah dan Abi Ruchan.


__ADS_2