
"Ehem, enaknya bermesraan. Anak di titipin ke Abangnya, yang kembar lagi setor hafalan. Serasa dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak" Kata Leah dengan suara lantang.
"Belai-belai rambut, ngomong romantis. hueeekkk" Sambung Ruchan.
"Penganggu, dah ah kita pulang aja" Kata Aisyah kesal.
Aisyah pun mengajak Rifky untuk pulang, sedangkan anak-anak nanti bisa pulang diantar oleh Akbar dan Fatim. Karena masih ada beberapa hari lagi Akbar dan Fatim tinggal di Jogja.
Di tempat perbelanjaan, Bonna dan Kabir terus saja bercanda ria. Membuat Ceasy semakin kepanasan, tidak lama setelah itu, ada seorang perempuan yang mendekati Kabir dan Bonna.
"Kabir, Ini kamu Kabir kan? Adiknya Akbar?" Tanya perempuan itu.
"Wuin Lana, Assallamualaikum, apa kabar nih. Lama banget nggak ketemu" Kata Kabir.
"Widihh, siapa ini Bir. Cewek kamu?" Tanya Lana.
"Satu wanita muncul lagi. Huftt, makin jauh cintaku ini. Kesel nggak sih" Kata Ceasy menginjak kaki Jamil.
__ADS_1
Jamil terlihat meringis kesakitan, berkali-kali Jamil mencolek Ceasy, namun Ceasy tidak mendengarnya. Telinga nya terkunci karena sedang melihat pemandangan yang sangat panas.
"Cesin! Woy, ah kampret kamu ya, sakit woy" Kata Jamil sambil berteriak.
"Ups sorry Kak Jamil, aku ndak sengaja" Kata Ceasy.
"Cemburu ya boleh-boleh aja, tapi aku jangan di jadikan korban dong wah" Kata Jamil.
Melihat Jamil dan Ceasy begaduh, Kabir pun mendekati mereka berdua. Tentu saja mengajak Bona dan Lana. Kabir juga memperkenalkan Lana kepada Jamil dan Ceasy, terlihat ada kecemburuan di mata Ceasy.
"Dia adikmu? Bukankah kamu hanya memiliki satu adik ya, kembaran kamu" Kata Lana.
"Hampir mirip Bonna ya hehehe" Kata Lana.
"Iya, dia juga berdarah Korea, oh ya aku dan yang lain duluan ya. Soalnya ini temanku harus pulang sore ini juga. Masih harus ada yang dikerjakan" Kata Kabir berpamitan kepada Lana.
Karena Bonna hanya berkunjung membawa tasnya saja, ia langsung akan ke Bandara dan pulang ke Korea, karena jadwal penerbangannya dimajukan 2 jam lebih awal. Akhirnya, mau tidak mau Ceasy juga harus mengantar Bonna ke Bandara.
__ADS_1
Karena bosan dengan suasana di dalam mobil, Ceasy menelfon teman lelakinya yang bernama Varo itu, ia juga banyak menceritakan hal yang terjadi pada hari itu. Varo dan Ceasy sudah mengenal ketika Ceasy pindah sekolah di sekolah Madrasah ke menengah pertama. Mereka juga sudah akrab sejak lama.
"Varo, udah dulu ya, batrai ponselku hampir habis. Sampai ketemu besok di sekolah" Kata Ceasy.
Ceasy mematikan ponselnya, dan Kabir kembali merebut ponsel Ceasy.
"Udah kan telfonannya. Sini ponselnya, anak kecil mau pacar-pacaran, sekolah dulu yang pinter, ngejar cita-cita, terus dapat penghasilan, baru deh mikir cowok" Kata Kabir mendadahkan tanggannya.
"Ceasy kecil-kecil udah punya pacar, berarti dia laku. Cowok bisa lihat dia itu cantik, pintar. Sedangkan kamu apa? Umurmu udah 30 tahun loh Bir" Goda Bonna.
"Kan ada kamu, buat apa cari yang lain" Kata Kabir.
"Nguwing,... nguwingg.... nguwiinng. Krik.. krik.. krikk" Kata Jamil dengan wajah datar.
"Pokoknya nanti kamu harus traktir aku loh Bir. Kamu ngajak aku jalan, ya harus tanggung jawab" Sambung Jamil.
"Beres deh, pilih aja sesuka hatimu" Kata Kabir.
__ADS_1
"Hahaha kesempatan menguras dompetmu Kabir, aseek" Kata Jamil dalam hati.
Kabir memang berbeda dengan Syakir dan Akbar. Mereka jarang bisa merayu perempuan. Tapi Kabir tetaplah manusia biasa. Yang Ustad bapaknya, namun ia tidak bisa seprti Ruchan maupun Ilham yang kalem dan selalu ketat dengan yang namanya agama.