Suara Hati

Suara Hati
Bab. 81


__ADS_3

Malam hari setelah Akbar selesai melaksanakan hukuman dari Aisyah, ia langsung mandi dan merebahkan badannya ke ranjang. Kali ini ia akan tidur sendiri karena Kabir masih di pesantren.


"Assallamualaikum, belum mau pulang Bir?" Tanya Akbar.


"Waalaikum sallam, belum Bang. Aku kayaknya mau tidur di pesantren aja lah, gak enak ganggu Syakir. Abang nikmati aja tidur sendiri di kamar" Balas Kabir.


"Baiklah" Jawab Akbar.


Besok malam adalah malam yang indah untuk Akbar, ia akan melamar Fatim untuk menjadikannya istri dan akan membawanya ke Jepang bersamannya nanti. Rencana itu sudah Akbar siap kan matang-matang untuk membawa Fatim ke Jepang.


Sengaja seharian Akbar tidak saling berkomunikasi dengan Fatim, hingga nanti acara lamarannya sudah tiba. Agar ada sesuatu yang istimewa saja di antara mereka.


"Hai, Lusa aku sudah harus kembali lagi ke Jepang, bakal waktu lama lagi ini ketemunya. setelah ini pasti akan sulit mengajukan cuti" Gumam Akbar.


Drrtt, drttt. Suara telfon di ponsel Akbar pun berbunyi.


"Siapa ini? Heh, Yasha? Tumben telfon. Assallamualaikum" Jawab Akbar.

__ADS_1


"Waalaikum sallam bro. Kapan balik bro, gue ada kabar bahagia buat lu"


"Kabat bahagia apa? Kulit manggis ada ekstraknya? Gue dah tau Sha!" Kata Akbar.


"Gak lucu! Eh, satu bulan lagi gue mau nikah sama Jesicca. Beri selamat dong ke gue" .


"Hah? Yang bener aja? Kalian kan beda keyakinan Sha. Emang keluarga lu setuju?" Tanya Akbar kaget.


"Gue akan jelasin saat lu pulang ke Jepang aja deh, takut malah salah faham nantinya. Udah dulu ya, nih keluarga gue mau pulang ke Indo soalnya. Assallamualaikum!"


Yasha pun mematikan telfonnya. Yang membuat Akbar heran adalah, Yasha dan Jesicca ini beda keyakinan. Dan jika di lihat dari keluarga masing-masing, keyakinan mereka sama-sama kuatnya. Akbar tidak ingin berandai-andai, karena urusan keyakinan itu adalah urusan individu dengan Tuhannya, ia hanya bisa mengingatkan. Semua keputusan dan dosa akan Yasha tanggung sendiri.


"Dek sini deh, tas ini isinya materi pelajaran fiqih semua. Jadi kalau aku sedang ikut Abi tausiyah, kamu siapakan ini ya kalau aku lupa" Kata Syakir lembut.


"Oh iya Ustad, biar aku aja simpan ya. Nanti semua jadwal biar aku yang minta sama Abi" Jawab Ika.


"Alhamdulillah, semua juga sudah beres kan? Gimana kalau kita istirahat dulu. Aku ganti baju dulu aja ya" Kata Syakir.

__ADS_1


Syakir masuk ke kamar mandi, berharap malam ini akan melakukannya. Namun Syakir masih akan menundanya sampai ia tinggal di rumahnya sendiri. Syakir juga bersyukur memiliki istri pemalu seperti Ika.


"Alhamdulillah, aku punya istri yang pemalu. Setidaknya dia bisa menjadi bajuku di dunia dan di akhirat nanti. Aku cuma gak bisa berfikir, kalau aku dapat jodoh kayak Mama dan Kak Ais. Mereka super aktiv, pasti kwalahan aku ngadepin nya. Salut deh sama Abi dan Kak Rifky, benar-benar laki-laki tangguh" Gumam Syakir.


Di rumah Aisyah, setelah mengantar Airy dan Raihan tidur, Rifky pun memanggilnya ke kamar. Malam ini entah kenapa semua lelaki di keluarga ini sangat manja.


"Ada apa sih Yang, teriak-teriak deh. Airy baru saja tidur, dia kalau kebangun susah mau tidur lagi" Kata Aisyah.


"Sini deh, biar aku pijitin bahu kamu Yang" Kata Rifky memijit bahu Aisyah.


"Tumben, ada bakwan di balik tudung saji ini. Katakan!" Kata Aisyah.


"Ih jutek amat deh, kangen tau" Kata Rifky menundukkan kepalanya di bahu Aisyah.


"Kangen? Tiap hari ketemu, tiap malam tidur bersama. Masih kangen?" Tanya Aisyah.


"Bikin dedek yuk" Bisik Rifky ke telingan Aisyah.

__ADS_1


Aisyah tersenyum mendengarnya. Mereka berdua pun memadu kasih malam itu, seperti hal nya pengantin baru, mereka jauh lebih mesra seperti Ruchan dan Leah dulu. Entah mengapa cuaca malam itu bisa tidak menentu, siang hari sangat panas dan tengah malam hujan deras di sertai petir. Membuat Rifky bangun dan bangun lagi, untung saja Airy dan Raihan tidak takut jika ada petir. Jadi Rifky dan Aisyah tidak lagi khawatir anak-anaknya akan bangun di malam hari.


__ADS_2