
Kabir dan Syakir sedang duduk berdua, ngopi-ngopi ria di ruang tamu dan membicarakan tentang masa depan mereka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Aminah yang memanggi nama Balqis terus menerus, Syakir dan Kabirpun bergegas masuk ke kamar dan melihat Aminah, ternyata Aminah hanya bermimpi memanggil nama Balqis sambil memeluk baju yang terakhir kali Balqis pakai terakhir kali nya.
"Kamu harus segera buat keputusan Kir, kasihan Aminah, dia juga butuh sosok ibu dalam hidupnya, gih susul Balqis ke Singapura" Kata Kabir.
Sebelum memutuskan keputusan, Syakir akan berdiskusi dengan orangtuanya terlebih dahulu. Bahkan ia juga menjadi bingung sediri, karena ia belum siap jika harus menggantikan posisi Zulaikha dalam hatinya. Apa lagi, ia sering di ganggu oleh Febri tiada henti.
Di Jepang, Akbar kali kini mendapatkan tugas medisnya ke salah satu desa pelosok di Negri itu. Ia terpaksa harus meninggalkan istri dan anaknya hanya berdua dirumah saja, karena tidak mungkin jika harus mengajak mereka kesalah satu desa yang terjangkit wabah.
__ADS_1
"Abang yakin nggak butuh di temani? Lama kan disana?" Tanya Fatim.
"Iya sepertinya lama, karena tidak tahu sampai kapan waktunya. Kamu dirumah aja ya sama Falih, atau jika kamu kesepian, aku antar dulu ke Jogja bagaiman. Biar kamu bisa tinggal sama Ayah" Kata Akbar.
"Bakal kangen nih, mana kita belum pernah berpisah kek gini lagi" Kata Fatim.
"Ya mau bagaimana lagi, udah jadi profesi ku kan? Aku antar ke Jogja aja ya, aku akan lebih tenang meninggalkanmu disana dari pada dirumah ini" Kata Akbar memeluk Fatim.
__ADS_1
Sementara di rumah Aisyah, ia sedang bingung menentukan pesantren mana yang cocok untuk anak kembarnya itu. Karena Aisyah ingin berencana untuk memasukkan Raihan dan Airy ke pesantren lebih awal. Sebenarnya setelah lulus sekolah dasar, mengingat tingkah laku Airy yang sangat susah di kendalian. Maka Leah dan Ruchan menyarankan untuk di masukkan ke pesantren yang lebih ketat.
Malam itu udaranya sangat panas, panas seperti hatinya Ceasy saat ini. Ia terus saja mengigat NIsa dan Kabir, walau ia terlihat tegar, di hatinya tersimpan luka yang sangat dalam, sangat, sangat dalam. Tiba-tiba air matanya menetes saat ia mengingat masa-masa indahnya bersama dengan Kabir saat itu, dengan Jamil juga tentunya.
"Tuh kan ? Tuh kan, kan, kan, nangis lagi! Baper aku tuh, sebel deh kalau kek gini" Kata Ceasy mengelap air matanya.
"Sopo sing kuat nandang kahanan, sopo sing ora kroso kelangan..... Di tinggal pas sayang-sayange, pas lagi jeru-jerune.... Koe milih dalan liyane.... Ambyar, ajur juuumm"
__ADS_1
"Siapa yang kuat dalam situasi itu, siapa yang tidak merasa kehilangan... Di tinggal pas sayang-sayangnya, pas sudah dalam-dalamnya... Kamu pilih jalan lainnya" Terejemahanya.
Ceasy langsung menyembunyikan wajah jeleknya yang sedang menangis di dalamĀ boneka yang pernah di belikan Kabir waktu pertama kali mereka bertemu, dan saat itu usiannya masih 13 tahun.