Suara Hati

Suara Hati
Bab.6


__ADS_3

Masih di waktu remaja, Akbar ingat sekali saat ia bercerita tenta perasaannya terhadap gadis di kelasnya.


"Assallamualaikum "


"Waalikum sallam"


"Bengong aja sih, kenapa Bang? Main hp kek, tadarus kek, baca novel gitu, ngapain lah biar gak bengong aja gitu" Kata Aisyah.


"Jatuh cinta itu menyebalkan ya" Kata Akbar.


"Abang bener-bener jatuh cinta nih? Sama siapa?" Tanya Aisyah.


Akbar mengangguk.


"Tapi Bang, Abang ini laki laki lho, masa iya mau nikah muda? Sedangkan pacaran itu di larang kan? Bimbang deh, mumpung belum terlampau jauh cintanya, stop aja dulu sampai disini. Fikirin masa depan dulu!" Kata Aisyah.


"Itu yang Abang bingungkan Kak. Abang mulai mencintainya, namun Abang takut dia menolakku. Tapi di dalam islam pacaran itu di larang, ahhhh pusing" Kata Akbar.


"Cinta kita memang datang tidak tepat Bang, kenapa gak nunggu nanti lulus kuliah gitu ya" Kata Aisyah.


"Jadi Kakak bener-bener jatuh cinta sama Kak Rifky itu?" Tanya Akbar.


"Mungkin, ahhhh Kakak masih ragu. Gini lho, saat Kakak ketemu sama Kak Rifky, jantung Kakak tuh deg-degan Bang, fikiran Kakak ambyar. Terus kalau di dekatnya jadi gugup. Saat dia cerita tentang wanita lain yang pernah mengejarnya, Kakak tuh gak suka, sebel aja. Terus saat kita ketemu, trus dia pamit pulang. Hati Kakak tuh kayak gak rela gitu Bang.. Ah ribetnya" Curhat Aisyah.


"Lah sama dong Kak, Abang juga ngrasain itu pas di dekat Mia. Abang takut khilaf Kak" Kata Akbar menyenderkan kepalanya ke bahu Aisyah.


Tepatnya sudah 1 tahun lalu Akbar mengagumi gadis sederhana bernama Mia itu. Awalnya dari belajar kelompok, yang tiap sore nya harus bertemu selama 2 bulan.


Akbar mulai simpati kepadanya, dari mulai Akbar mengganggunya, sampai suka mnegejek Mia. Ia mulai mencintainya, tapi takut mengatakannya.


Aisyah dan Akbar kembali saling curhat mengenai masalah mereka masing-masing. Dimana Akbar bercerita soal Papanya yang memintaAkbar setelah lulus sekolah harus nyusul ke Jepang untuk kuliah di sana.


"Loh, emang Abang mau kuliah di Jepang?" Tanya Aisyah.


"Masih ragu Kak" Jawab Akbar.


"Kok ragu? Mia lagi?" Tanya Aisyah.


"Kemaren saat nganter Kak Aisyah ke kampus, Abang nyatain perasaan Abang ke Mia Kak" Kata Akbar.

__ADS_1


"Bagus dong, terus apa yang bikin Abang bimbang gitu?" Tanya Aisyah.


"Dia pengen Abang bilang ke orang tuannya juga Kak. Gimana dong, bimbang ini masih terlalu dini" Kata Akbar.


"Emm gimana ya? Emang Abang udah yakin dengan hati Abang? Gini lho Bang, Abang kan anak laki-laki nih. Abang masih muda juga, ya umur itu rahasia Allah sih. Jika Allah berkendak, masa depan Abang tu masih jauh. Gak ada salahnya jika kita jatuh cinta, tapi alangkah baiknya jika kita memikirkan dulu masa depan kita. Membahagiakan orang tua misalnya, menaikkan derajat orang tua juga. Jika kita udah mampu, baru deh kita mau gimana dengan orang yang kita cintai" Kata Aisyah.


"Terus gimana dengan Kakak dan kak Rifky? Bukankah Kak Rifky itu udah mapan ya, umur juga kalau nikah udah pas itu" Tanya Akbar.


"Kakak mau fokus belajar dulu, soal itu, Kakak akan jalani sesuai jalan Allah. Kalau dia sanggup menunggu, Alhamdhulillah itu yang Kakak harapkan. jika tidak, ya anggap saja belum berjodoh. Yang namanya jodoh gak akan kemana kok Bang" Kata Aisyah.


"Tapi kalau udah saling cinta gak jadi berjodoh gimana?" Tanya Akbar.


Asiyah hanya diam saja.


"Tuh kan gak bisa jawab, hahahah bucin sih. Sok jadi duta cinta" Ejek Akbar.


"Hey, Abang tu cowok, belajar dulu yang bener. Rajin-rajin sekolah, kuliah terus ngejar cita-cita. Sukses baru mikirin jodoh. Masih bocah juga" Kesal Aisyah.


"Ih jahat Kakak ngomongnya" Kata Akbar.


"Jahat sekarang untuk kebaikan Abang, daripada ntar kita menyesal. Kakak ngomong gini itu mewakili hati perempuan mana pun, usahakan cowok itu menikahi anak orang udah harus mampu untuk menanggungnya" Kata Aisyah.


"Iya juga sih, Makasi ya kakak singa ku yang galak, sayang deh. Huuff gini amat ya menuju dewasa, pusing" Kata Akbar.


"Ih rakus, bagi rata dong. Gendut nanti" Kata Akbar.


"Apa!!! " Kata Aisyah melirik ke Akbar.


Akbar tersenyum tipis. Mereka pun melahap gurame kesukaan mereka dengan lahap dan tanpa bicara, sesuai dengan aturan Aisyah.


Ingatan itu membuat Akbar tersenyum sendiri, bagaimana serunya waktu remaja, bersenda gurau, saling curhat satu sama lain sama saudara.


"Kak Ais lagi apa ya? Di telfon masih gak bisa lagi, Papa juga belum pulang jam segini" Gumam Akbar.


Ingatan Menolak Mia.


Pagi itu, Akbar tak semangat sekolah. Entah kenapa ia sangat rindu akan kebersamaannya bersama dengan Aisyah. Kali ini Akbar tak lagi mengagumi Mia lagi, entah kenapa ia hanya ingin fokus belajar dan mengejar cita-cita.


"Assallamualaikum Akbar, boleh minta tolong gak" Kata Mia lembut.

__ADS_1


"Waalaikum sallam, minta tolong apa ya?" Tanya Akbar.


"Boleh aku duduk di samping kamu gak? Aku mau nanya tentang pelajaran yang ini. Aku gak tau cara menjawabnya" Kata Mia


Karena seperti yang dikatakan Aisyah. Laki laki itu harus berani mental dan benar benar siap dalam menjalani kehidupan rumah tangga.


Karena menikah bukan hanya bermodalkan cinta, Akbar harus terus belajar lebih dalam tentang agama terlebih dahulu. Dan ia ingin menitih karir juga untuk masa depannya.


"Sudah kan? Bisa kamu kembali ke tempatmu? Aku gak nyaman jika kita duduk berdampingan seperti ini!" Kata Akbar.


"Kamu kok berubah sih?"Tanya Mia.


"Ada kala nya seseorang harus berubah kan? Maaf ya, kamu harus kembali ke bangkumu" Kata Akbar dengan senyum tipisnya.


Mia heran dengan Akbar, akhir-akhir ini ia berubah, bukan hanya Akbar. Kabir pun yang sering membuat onar di kelas sekarang juga lebih pendiam.


"Apa yang terjadi dengan mereka ya?" Batin Mia


"Aku harus ingat kata kata Kak Ais. Laki-laki itu harus mampu menafkahi dan mendidik wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Jadi aku harus rajin belajar dan berusaha mulai sekarang" Gumam Akbar.


Saat bel pulang berbunyi, biasanya Akbar dan Kabir akan mampir dulu ke kantin, namun saat ini. Mereka akan langsung pulang dan mengikuti kegiatan pesantren seperti sebelumnya.


"kamu kenapa?"


Pesan masuk dari Mia, Akbar hanya tersenyum dan balas chat Mia secara langsung.


"Sudah ku bilang kan? Aku gak papa kok. Oh ya Fahmi, nanti kelompok di rumah Lo aja ya, rumah gue lagi sepi soalnya. Kabir keluar juga hari ini" Kata Akbar kepada teman yang duduk di depannya.


"Santai Bray, ntar kabari aja ya. Pas waktunya ini, hari ini gue ajak mancing di belakang rumah gue nanti. Ok Ok!"Kata Farhmi.


"Yoi Bro, pokokknya nanti kaba kabar lagi aja ya?"Kata Devan, teman kelompok Akbar juga.


"Emm aku gak ada motor, siapa yang bisa jemput aku nanti?"Tanya Mia.


"Gue yang akan jemput Lo," Kata Lala. teman kelompok Akbar juga.


"Gue duluan ya Bray. Assallamualaikum. Bir!! Otw "Teriak Akbar.


"Duluan Bang, tunggu di parkiran ya?" Kata Kabir.

__ADS_1


Mia merasakan perubahan Akbar yang begitu drastis. Apa penyebab Akbar berubah, yang dulu suka lembut terhadap Mia, kini acuh tak acuh padanya


Akbar mengingat kembali soal Mia, mungkin sekarang dia sudah memiliki anak juga, karena saat Akbar berangkat ke Jepang, Mia menikah dengan Kyai pilihan orang tuannya.


__ADS_2