
Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Begitu juga dengan harta yang melimpah. Kalau punya harta banyak tapi tidak punya keluarga, hidup juga akan terasa hampa.
"Eh si Abang telfon nih" Kata Syakir.
Syakir pun mengankat telfon dari Akbar.
"Assallamualaikum Kir! Wah denger-denger mau lamaran nih?"
"Waalaikum sallam, jangan ghibah!! Kerja sana!" Jawab Aisyah.
"Ah si Kak Ros, pengen peluk tapi jauh, kangen sama Kak Ros"
"Sejak kapan nama Kakak ganti!" Kesal Aisyah.
"Dah tua jangan banyak ambek, ntar nambah tua tau! Eh Syakir mana ini? Cie cie"
"Apa sih Bang, yang penting aku pasti-pasti. Gak kayak Abang, coba-coba" Kata Syakir.
"Uuh mulutnya harus di cabein ini. Ehh aku kangen kalian. Kangen Mama, Abi, Si kembar, Naira dan juga si mulut cabe Ceasy. Denger-denger Mala udah hamil ya?"
"Wah ghibah, Astaghfirullah hal'adzim" Kata Aisyah.
__ADS_1
"Sejauh apa pun kakiku melangkah meninggalkan kampung halaman dan keluargaku tercinta, tetap tempat kembali yang terindah adalah keluargaku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa hidup di dunia ini."
"Wah wah, anak ini jadi puitis deh" Kata Aisyah.
"Bang, Abang katanya mau pulang Dua setengah bulan lagi, kenapa? Ada apa di hari itu?" Tanya Syakir.
"Hei, Kabir kan akan pulang, masa iya aku tidak mau ketemu sama dia sih? Brothers and sisters are as close as hands and feet"
"Umm pengen nagis" Kata Aisyah.
Canda tawa mereka pecah walau hanya lewat telfon, mengingat bagaimana mereka tumbuh besar bersama, cinta dan kasih mereka limpahkan satu sama lain sebagai keluarga. Itu hal sulit bagi mereka dengan adanya kata perpisahan dan berjauhan.
Malam yang di tunggu Syakir telah tiba, mereka sampai di Pesantren Kyai Syaiful tepat waktu, bahkan Kyai Syaiful sendiri tidak mengetahui jika kehadiran Ruchan sekeluarga akan melamar Zulaikha untuk Syakir.
"Inggih Kyai, jadi begini. Pertama-tama kehadiran kita semua ini, menyambungkan tali silaturahmi" Kata Ikhsan.
"Amin amin alhamdulillah" Jawab Kyai Syaiful.
"Yang kedua, kami datang kesini, untuk melamar Dek Siti Zulaikha untuk menjadi istri dari putra kami, keponakan saya. Yang bernama Syakir Al Jazeera" Sambung Ikhsan.
Keluarga Kyai Syaiful terkejut, mereka tidak menyangka jika lamaran Syakir akan secepat itu untuk Zulaikha.
__ADS_1
"Wah benar-benar kaget ini loh saya, tiba-tiba bawa mahar sebanyak ini dan langsung lamaran" Kata Kyai Syaifuo dengan senyuman.
"Inggih Kyai, menawi angsal kulo badhe nglamar Dek Siti Zulaikha......" Kata Syakir.
"Aduhh" Tiba-tiba Syakir menjerit.
Tenyata kakinya di injak oleh Aisyah dengan sangat keras. Dan semua orang tertawa melihat itu.
"Wes to wah, anak jaman sekarang ini. Ndak sabaran to ya hahaha tapi bagus lah. Ayo lanjutin Kir" Kata Ikhsan.
"Ndak jadi Pak Dhe, wakilkan saja sama Pak Dhe, si anak Singanya bangun soalnya" Kata Syakir melirik ke arah Aisyah.
"Syakir!" Bisik Aisyah.
"Mi, udah dong ah. Kasihan kan Syakirnya jadi malu" Bisik Rifky ke Aisyah.
"Ini ajaran Bubu kan? Awas nanti, Ami gak akan kasih jatah !!" Bisik Aisyah dengan nada kesal.
"Gak mau!" Bisik Rifky.
"Kalian berdua ini kenapa? Kalau mau bisik-bisik di luar, lihat anak-anak kalian anteng gitu kok, orang tuannya kerah (berkelahi) aja" Kata Ruchan.
__ADS_1
"Maaf Bi" Kata Aisyah dan Rifky bersamaan.
Setelah itu, Ikhsan melanjutkan acaranya. Proses demi proses telah di lalui, pihak Zulaikha juga menyetujui lamaran Syakir, dan kini tinggal orang tua menentukan tanggal dan bulan baik untuk mereka melangsungkan pernikahannya.