
Pasangan lain seperti pengantin baru Syakir dan Ika malah menikmati masa berduaan di rumah baru mereka. Mereka sengaja tidak ikut, karena kebanyakan orang malah akan semakin rame dan membuatnya tidak nyaman. Apalagi kendaraannya memang kurang satu, toh juga acara lamaran saja. Belum ke pernikahan.
"Dek, kita masak yuk. Bikin pisang goreng gitu, cocok nih buat hujan-hujan gini" Kata Syakir.
Mereka sedang duduk berdua di atas ranjang, Syakir sibuk dengan mengecek hasil ulangan anak didiknya, Ika sedang melipat dan merapikan baju ke almari yang ada di kamar.
"Emm kalau Ustad mau, biar aku saja yang bikin sendiri" Kata Ika.
"Mumpung kita sudah di rumah sendiri, bagaimana kalau kita......." Kode dari Syakir.
Ika mengangguk pelan dan malu-malu, baginya kini memang sudah waktunya memberikan apa yang seharusnya ia berikan tiga hari lalu.
"Beneran? Ndak terpaksa?" Tanya Syakir dengan jantung yang berdetak kencang.
"Memang sudah seharusnya kan?" Kata Ika gugup.
"Kita sholat sunah dulu ya" Ajak Syakir.
__ADS_1
Syakir langsung meminta Ika untuk wudhu terlebih dahulu, dan meletakka pekerjaan Ika di samping almari. Mereka melakuka. sholat sunah terlebih dahulu sebelum ingin melakukan, karena sejak malam pernikahan mereka belum melakukannya.
"Yakin udah siap? Aku ndak mau kalau kamu mau melakukan ini karena terpaksa atau karena ndak enak menolakku loh" Bisik Syakir. Karena mereka sudah berada di atas ranjang dan di balik selimut.
"Boleh aku menggenggam tanganmu?" Izin Syakir.
Ika hanya mengangguk, dan saat Syakir menyentuh tangan Ika, jantungnya berdetak sangat kencang. Seperti ada daya listrik di tangan Ika.
Setelah menggenggam erat tangan Ika, Syakir memejamkan matanya dan mengucpakan doa sebelum mencium kening Ika untuk yang pertama kalinya.
Malam itu dingin sekali, hujan di sertai dengan angin. Cuaca malam itu sangat mendukung untuk melakukannya. Getaran dahsyat yang Syakir rasakan malam itu, membuatnya tidak bisa melupakan atas nikmat syurga dunia yang telah Allah berikan.
Hati Ika sangat lega, walaupun sakit di bagian sensitivnya. Namun ia bangga terhadap diri sendiri, karena sampai malam itu, dia bisa menjaga mahkota berharganya untuk ia berikan kepada suaminya, Syakir.
"Bir, kamu kapan nih? Semua saudarmu sudah menikah, dan si Bambank juga udah mau nikah nih" Tanya Jamil sambil menepuk-nepuk bahu Akbar.
"Dasar jomblo" Kata Akbar.
__ADS_1
"Lha aku ki jomblo karena,...." Kata Jamil hendak mengelak.
"Karena opo he? Kamu kan jomblo karena ndak ada yang mau sama kamu! Dah lah, sesama jomblo gak usah gitu. Aku belum kepiran mau nikah" Kata Kabir
"Memang apa yang masih kamu cari Bir?" Tanya Fatim.
"Heh gak ada sih. Cuma aku masih pengen sendiri, mau nemenin orang tua dan Ceasy di rumah. Pasti di tinggal anak-anak nya menikah semua, mereka merasa kesepian. Lagian aku juga baru saja pulang kan? Aku mau manfaatin waktu ini bersama mereka, lagian juga baru 26 tahun ini kan?" Kata Kabir.
"Lha mati ki ra nunggu tua atau muda, sehat atau sakit e Bir" Kata Jamil.
"Hus kalau ngomong. Jangan ngomongin mati dong" Kata Fatim.
"Gundulmu kui, tak doakan kamu jomblo terus Mil. Dasar jomblo mesum" Kata Akbar.
"Selamat buat kalian ya, sebentar lagi mau menikah. Aku sendirian ini, seneng ya lihat saudaraku sudah memiliki keluarga sendiri. Dari Kak Ais, dia mendapatkan suami yang begitu baik, memiliki seoasang anak kembar. Lalu Syakir, istrinya juga cocok dengannya, sekarang Abang. Gak ada lagi deh yang di ajak rebutan bakso." Kata Kabir dengan senyuman terpaksa.
"Kamu mulai pendekatan dengan Ceasy Bir, hibur dia. Dia masih memerlukan didikan seorang kakak sepertimu." Kata Akbar menepuk bahu Kabir.
__ADS_1
Benar apa yang Akbar katakan, masih ada adiknya Ceasy. Walaupun Ceasy bukan adik kandungnya, namun semua orang sudah menganggap bahwa Ceasy juga seorang putri dari Ruchan. Namanya belakang Ceasy juga sudah berubah menggunakan nama keluarga Ruchan saat ia menjadi seorang mualaf.