Suara Hati

Suara Hati
Bab. 71


__ADS_3

Dikamar, Ika tengah sibuk mengurus luka Syakir, padahal bukan luka serius. Hanya di jari saja luka itu, namun karena kegugupan antara keduanya, membuat suasana malam itu menjadi lucu.


"Ustad tunggu di sini dulu, biar aku ambilkan air buat basuh darahnya. Sebentar ya" Kata Ika berlari kedapur dan mengambil air dengan mangkuk.


Setelah terburu-buru masuk kamar, Ika masih bingung bagaimana cara membasuh darah di jari Syakir. Ia masih ragu jika harus bersentuhan kulit langsung dengan Syakir.


"Aku harus basuh sendiri nih?" Tanya Syakir.


"Aku masih takut bersentuhan Ustad" Kata Ika menundukkan kepalanya.


"Kalau gak segera, darahku gak berhenti ngalir loh? Dan perlu kamu tau, kalau aku takut darah, aku bisa pingsan lihat darah banyak" Goda Syakir.


"Em, maaf sebelumnya ya Ustad" Kata Ika perlahan menyentuh tangan Syakir.


Ketika mereka bersentuhan untuk yang pertama kalinya, serasa ada setrum di antara tangan mereka. Syakir dan Ika sama-sama kaget, Ika langsung melepaskan tangannya dari Syakir. Namun Syakir berusaha bisa tenang.


"Gak jadi? Kita ini suami istri loh! Kita boleh bersentuhan, kalau kamu masih ragu, biar aku sendiri yang obati luka ini" Kata Syakir.


Ketika jari Syakir mulai masuk ke dalam air, Ika menahannya dan mulai membasuh luka Syakir menggunakan tisu yang sudah dibasahi.

__ADS_1


Dengan sangat lembut dan hati-hati, Ika telaten merawat luka Syakir, walaupun itu hanya sayatan kecil. Namun telah membuktikan bahwa Ika adalah gadis yang sabar dan lembut.


Ketika Syakir mulai memeberanikan diri lagi memandang wajah Ika, pesan masuk dari Akbar mengganggu moment itu.


"Udah di obati belum lukanya sama Dedek Ika, Ustad" Pesan dari Akbar.


"Berisik Abang, jangan ganggu!!" Jawab Syakir.


"Hati-hati Ustad, sebelum melakukan sholat sunah dua rakaat dulu, setelah itu berdoa, dan ingat!! Pemanasan jangan langsung gas !!” Kata Akbar.


"Astaghfirullah hal'adzim. Aku saranin jangan dekat-dekat dengan Jamil, dia ini pembawa ajaran sesat. Abang kirim pesan gini juga ada Jamil di sampingmu kan??" Tanya Syakir.


Tau tingkah Akbar seperti itu, membuat Syakir tersenyum-senyum sendiri. Hingga ia tidak sadar jika Ika sudah selesai mengobati luka Syakir di jarinya.


"Ustad Syakir kok senyum-senyum sendiri sih lihat isi ponselnya, ada yang lucu kah?" Kata Ika dalam hati.


"Udah Ustad" Kata Ika.


"Terima kasih ya, aku balas pesan dari Abang dulu ya" Kata Syakir.

__ADS_1


"Oh dari Mas Akbar, aku berfikir terlalu jauh Astaghfirullah hal'adzim" Kata Ika dalam hati.


"Tarik dulu tangan Ika, terus tempatkan dia di pelukanmu dan kamu bisikan kata-kata mesra. Di jamin malam ini akan mendayung sangat jauh wahai adikku" Pesan Akbar.


"Astaghfirullah, Abang Ya Allah. Jangan gitu lah!! Abang ini sok pengalaman deh, atau emang udah pernah? Ck, ingat dosa. Assalamualaikum" Tutup pesan Syakir yang pipinya mulai merona karena di goda oleh Akbar.


Tanpa Akbar tuntun pun Syakir tau apa yang seharusnya ia lakukan kepada Ika. Ia tidak ingin memaksa Ika, namun Syakir akan bertanya kepada Ika lagi.


Ia mulai tidur dan mendekat ke tubuh Ika, dan membisikkan kata yang membuat Ika semakin tidak enak hati dengan Syakir.


"Assalamualaikum, Udah tidur?" Tanya Syakir.


"Waalaikum sallam, belum kok. Ada yang Ustad inginkan? Aku akan ambilkan" Kata Ika.


"Em iya. Aku ingin kamu!" Kata Syakir langsung menutup mulutnya.


"Hah?"


"Maksud aku itu, bukan, eh. Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah. Lupakan lah, kita tidur saja" Kata Syakir langsung berbalik badan.

__ADS_1


Ika sepertinya mengetahui apa yang Syakir inginkan, dan ia juga mengerti arti menginginkannya. Ika juga tau, jika dia menolak itu akan berdosa. Tapi Ika tidak ingin membuat Syakir kecewa. Ia pun memantapkan hatinya lagi agar bisa menerima keinginan Syakir. (Terlalu agresif kamu ustad)


__ADS_2