
"Boleh ya?" Bisik Akbar dengan nafas yang sudah berat.
Fatim hanya mengangguk, dengan perlahan Akbar membuka jilbab Fatim, dan mencium aroma wangi rambut Fatim. Lalu Akbar mencium kening Fatim dengan lembut, ciuman itu turun ke pipi hingga sampai leher Fatim.
Tangan Fatim mencengkram selimut sangat kuat, Akbar menyadari hal itu, nafas Fatim juga semakin berat, jantungnya berdebar hebat. Akbar tahu jika Fatim belum siap sepenuhnya akan melakukan hubungan itu.
"Sayang, rileks ok! Kita akan melakukannya dengan pelan, beri aku kesempatan" Bisik Akbar.
"Iya Bang, aku sudah siap" Kata Fatim.
Mendengar kata siap dari Fatim, Akbar langsung mencium bibir mungil Fatim dengan sangat lembut. Tangan Akbar mulai bergerilnya, seketika Akbar dan Fatim berangan-angan ingin memiliki seorang malaikat kecil hadir di antara mereka, dan malam itu adalah malam dimana dalam waktu beberapa bulan akan lahir junior mereka.
Tengah malam Fatim terbangun, memandang langit-langit kamar yang gelap. Masih terbayang beberapa waktu lalu mereka melakukan hubungan itu. Fatim tersipu malu, ia tersenyum. Akhirnya ia bisa mengalahkan rasa ketakukannya yang selama ini menghantuinnya.
Triinnngggggg......
__ADS_1
Ponsel Akbar berbunyi, memecah lamunan indah Fatim.
"Abang, Abang bangun Bang" Kata Fatim.
"Iya sayang? Udah pagi?" Tanya Akbar.
"Ponsel Abang bunyi dari tadi, aku mau angkat nggak enaklah" Kata Akbar.
"Sayang, ponsel aku terbuka buat kamu. Lain kali kalau ada telfon, dari siapapun juga. Saat aku nggak bisa angkat, kamu angkatin ya. Dompet aku ini juga bebas kamu buka, uang berapapun kamu membutuhkannya, ambil aja" Kata Akbar.
"Itu kan privasi Abang, mana boleh aku lancang seperti itu" Kata Fatim.
Telfon itu dari rumah sakit, belum juga Akbar menelfon balik, rumah sakit sudah menghubunginny lagi. Akbar mendapat panggilan darurat, karena tidak ingin meninggalkan Fatim sendiri di rumah, Akbar pun mengajak Fatim sekalian ke rumah sakit.
Di jalan,
__ADS_1
"Nggak papa nih aku ikut Bang? Aku kan sudah terbiasa dirumah sendiri" Kata Fatim.
"Aku yang nggak tega, pokokknya saat aku kerja nanti, kamu bawa ponsel dan dompetku ya. Kamu lanjutin bobok cantik kamu lagi aja di ruanganku" Kata Akbar membelai kepala Fatim.
Sesampainya di rumah sakit, lagi-lagi yang akan di bedah pasiennya si Dara. Akbar sedikit kesal dengan Dara ini, padahal Yasha juga shift malam, seharusnya Yasha lah yang melakukan operasi bedah itu.
Melihat Fatim juga ada di samping Akbar membuat Dara semakin kesal, apa lagi sebelum Akbar memasuki ruang operasi, ia mencium kening Fatim di depan Dara. Itu membuat Dara semakin kesal lagi.
"Awas saja, nggak akan lama lagi aku yang akan diposisimu wanita penyakitan" Kata Dara dalam hati.
Fatim masuk ke ruangan Akbar, ruangan Akbar sangat rapi. Ternyata di meja Akbar juga ada foto mereka berdua, dan di sampingnya ada foto keluarga Akbar juga.
Fatim masuk lagi ke ruangan yang bertuliskan 'Secret', saat Fatim masuk kedalam, ternyata ruangan kecil dan berisikan kasur busa disana. Fatim merebahkan tubuhnya dan membuka ponsel Akbar.
"Ruangannya wangi banget. Abang-abang, masa iya tempat rahasia di deoan pintu ada tanda rahasiannya. Kan jadi nggak rahasia lagi" Kata Fatim.
__ADS_1
Awalnya Fatim ragu, namun karena sudah mendapat izin dari Akbar, ia mulai membuka ponsel suaminya itu. Alangkah terharunya Fatim, layar kunci dan layar beranda Akbar adalah foto Fatim semua, tidak ada hal sepesial juga di ponsel Akbar.
Mata Fatim mulai berat, ia sangat mengantuk. Dan akhirnya tertidur di ruangan itu.