
"Loh kok pakai sarung tangan sih?" Tanya Fatim seperti orang yang sedang waspada.
"Kenapa mukanya gitu? Aku ingin memberimu sesuatu. Yang akan menyentuh tanganmu, mana mungkin kita akan bersentuhan kulit begitu saja kan? Jadinya aku sudah siapin sarung tangan ini" Kata Akbar memakai sarung tangannya.
Lalu Akbar mengeluarkan dua buah gelang pasangan yang sudah ada inisial nama mereka masing-masing. Ternyata Akbar memebelinya ketika mereka pergi ke Malioboro kemaren.
"Mungkin ini kelihatan kek bocah gitu hahahaha. Tapi aku ingin memberimu tanda dan setatus, bahwa aku benar-benar akan serius denganmu" Kata Akbar memakaikan gelang berinisial A pada Fatim.
"Lihat yang ini untuk aku pakai, karena kamu tidak menggunakan sarung tangan, maka aku akan memakai di tanganku sendiri" Kata Akbar memakai gelang itu.
"Kok itu J sih? Kan inisialku F bukan J" Kata Fatim.
"Jodha, seperti saat kita kecil dulu. Hhehe lebay ya, tapi ini benar, setelah kisah Jodha Akbar itu kan kita jadi saling terikat begini. Semoga niat baik kita di ridhoi Allah ya. Aku akan kembali dalam waktu tiga bulan lagi, tunggu aku ya." Kata Akbar menenteng ranselnya.
"Aku harus sudah berangkat, akan aku kabari lagi nanti. Jaga aku di tangan dan hatimu baik-baik ya. Jangan lupa sebut namaku di dalam doamu. Assallamualaikum Jodha" Kata Akbar melambaikan tangannya dan pergi menjauh.
__ADS_1
"Waalaikum sallam Akbar" Jawab Fatim menggenggam gelang yang Akbar pakaikan di tangan Fatim.
"Aku gak tau bisa menunggu lagi atau tidak Bang. Tapi aku yakin dengan janji Allah, jika memang kita berjodoh, tiga bulan kedepan kita pasti akan bertemu lagi, bertemu sebagai pasangan yang Allah ridhoi. Bismillahirrohmanirrohim" Kata Fatim dalam hati.
Di perjalanan pulang, Fatim teringat akan kata-kata yang telah Akbar katakan saat di toko di Malioboro waktu itu. Ia tidak akan pernah memberikan perhiasan kepada wanita lain yang bukan muhrimnya, tapi apa dengan arti pemberian gelang itu.
"Aku percaya kepada Allah, bahwa perasaannku ini pasti akan Engkau kabulkan ya Allah, aku ingin bersama dengannya" Kata Fatim berkata dalam hati.
Di saat Fatim meyakinkan perasaannya, Syakir malah mulai gundah, antara takut dan gugup. Di rumah ia hanya bisa mondar mandir dengan tangan gemetar di depan Aisyah hingga Kakaknya itu kesal padanya.
"Sejak kapan Kakak di situ?" Tanya Syakir balik.
"Ya sejak kamu masuk rumah tanpa mengucapkan salam. Emm" Kata Aisyah yang saat itu sibuk dengan pekerjaannya.
Syakir pun duduk di sebelah Aisyah dan menyandarkan kepala di bahu Aisyah. Dan menarik tangan Aisyah serta meletakkannya di dada Syakir.
__ADS_1
"Kak" Kata Syakir dengan tangan gemetar.
"Apa sih Kir, Kakak lagi kerja, kalau mau cerita ya cerita aja, main tarik-tarik tangan Kakak aja deh. Dan iya itu jantung, kondisikan!! Jantung juga berdetak kencang gitu bahaya" Kata Aisyah dengan nada kesal.
"Ah Kakak gak asik, aku lagi gugup ini mau di jodohin. Dan lebih parahnya lagi....." Kata Syakir menutupi wajahnya menggunakan sorbannya.
"Apa! Lebih parahnya lagi apa? Seorang janda?" Goda Aisyah.
"Lebih parah lagi!" Kata Syakir.
"Apa?" Tanya Aisyah.
"Masih daun muda kak, berumur 19 tahun" Bisik Syakir.
Aisyah tertawa terpingkal-pingkal mendengar itu. Ia pun menyuruh Syakir untuk minta solusi saja kepada Rifky atau Ilham yang benar-benar bisa membantu hatinya yang gundah gulana itu. Syakir langsung saja mencari Rifky di pesantren.
__ADS_1