
Musuh Hati
Aisyah bingung dengan keadaan Fatim yang pulang dengan dalam keadaan menangis. Dan Aisyah mulai bertanya tentang Fatim yang membawa kopernya.
"Fatim, kamu mau kemana? Masih 3 hari loh kita disini" Tanya Aisyah.
"Aku mau pulang Kak, aku kangen sama Ayah. Jika nanti Abang tanya aku, tolong kakak bilang ya. Sementara jangan ganggu aku gitu" Kata Fatim.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian Tim? Kenapa kamu menangis? Apa yang Akbar katakan kepadamu hingga kamu menangis seperti ini Fatim. Bilang dong?" Tanya Aisyah.
"Abang gak bilang apapun kok Kak. Aku yang salah! Tolong kak, biarkan aku sendiri. Aku mohon" Kata Fatim memohon.
"Assallamualaimum" Salam Fatim.
"Waalaikum sallam, biar kakak antar ya, nanti kakak langsung balik kesini lagi tapi. Mau bilang apa kakak sama Ayah kamu kalau kamu pulang dengan keadaan seperti ini?" Kata Aisyah.
"Tidak kak, aku gak papa kok sendiri, Assallamualaikum" Ucap Fatim menyeka air matanya dan mencoba tetap tersenyum.
__ADS_1
"Waalaikum sallam, hati-hati ya Tim!" Kata Aisyah dengan perasaan khawatir.
BerhubungSandy sedang tidak ada di rumah, Aisyah menghubungi Rifky dan menyuruh sementara waktu untuk membawa anak-anak tidur di hotel dan akan menyusulnya nanti. Rifky awalnya curiga, namun dengan penjelasan Aisyah, kini ia mendukungnya dan memberikan beberapa pengarahan. Agar Aisyah bisa mengontrol emosinya.
Setelah hampir dua jam setalah Fatim pulang dengan keadaan menangis, Akbar pun pulang juga malam itu dan langsung menanyakan dimana Fatim.
"Assallamualaikum" Salam Akbar.
"Waalaikuam sallam" Jawab Aisyah dengan tangan tatapan kesal.
"Fatim sudah pulang kak?" Tanya Akbar.
"Dia melihatku saat Niki memelukku!" Kata Akbar jujur sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan menyalahkan wanita lain, jika kamu bisa mengontrol Niki, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi bukan? Berapa kali Kakak bilang, kalau laki-laki itu harus tegas!!" Kata Aisyah.
"Lalu aku harus bagaimana kak? Aku telah menuruti kata Abi dan Papa untuk menerima perjodohan itu. Lalu aku juga sudah menjauhi Niki, apa yang seharusnya Aku lakukan Kak!!" Kata Akbar.
__ADS_1
"Aku belum siap untuk menikah, Fatim gadis yang baik, aku takut menyakitinya" Sambung Akbar.
"Kenapa tidak kamu bilang sejak awal Bang! Jika kamu bilang sejak awal, kalau kamu belum siap untuk menerima perjodohan itu, mereka tak akan menaruh harapan besar Abang. Mereka juga tidak akan menyuruhmu untuk mendekati Fatim, begitupun dengan Fatim" Kata Aisyah kesal.
"Fatim sudah terluka, ia mencintai mu sejak kecil Bang, kenapa kamu gak peka sih! Bahkan dia mau menunggumu sampai kamu siap untuk menikah" Sambung Aisyah.
"Kakak kecewa denganmu Bang! Kecewa banget" Kata Aisyah.
"Lalu apa yang kakak inginkan? Agama masih aku pertahankan sampai sekarang, aku pusing kak! Semua nya terlihat memojokkanku dan mendesakku, aku harus bagaimana?" Kata Akbar mulai emosi.
"Kau memang lahir di sini, tapi sejak usiamu 12 hari sampai 18 tahun, kau tumbuh besat bersama kami, dan kau baru kembali ke sini selama 6 tahun. Sudah lupa bagaimana cara memohon kepada Allah? Sholat dan menjaga mempertahankan agama itu hal yang wajib bagi setiap orang muslim Bang, aku tak heran akan itu." Kata Aisyah mulai menangis.
"Yang aku kecewain adalah, adikku yang selalu baik dalam bersikap menjadi lemah gara-gara seorang wanita. Jika sejak awal kamu tidak mengiyakan perjodohan itu, kamu tidak akan pusing sendiri. Abi, Om Sandy, Pak Fikri dan Fatim tidak akan terluka seperti ini" Kata Aisyah.
"Tolong dewasa dan bijaksanalah Bang! Jika kau memang belum siap menikah, ya katakan terus terang. Mereka bisa menunggu sampai kamu siap, mereka pasti akan memberimu dukungan. Memang jodoh, maut dan rezeki itu hanya Allah yang maha mengetahui. Tapi setidaknya, pertahankan satu wanita seperti Fatim, dibandingkan denga seribu wanita cantik nan sexy seperti Niki. Jika memang dia jodohmu, dia tak akan lari kemana, karena sebaik-baiknya wanita, ialah yang mampu menjaga tubuhnya sendiri, tidak asal main peluk seorang laki-laki yang bukan mahromnya seperti itu. Assallamualaikum" Kata Aisyah pergi.
"Kak jangan pergi kak. Kak Ais!!" Teriak Akbar.
__ADS_1
Aisyah pergi dengan perasaan kecewa, Akbar tidak pernah bersikap plin plan seperti itu. Ia tak menyangka Akbar memiliki sikap keraguan yang besar, dan mampu mengalahkan kependiriannya yang selama ini ia tanamakan. Sudah beberapa tahun memang Akbar
dan Aisyah sudah tidak saling berjumpa.