
Malam setelah sholat isyak di masjid, Kabir pulang dan membawa barang-barangnya keluar. Ia juga membawa beberapa pakaiannya di dalam tasnya.
"Loh, Kabir! Kamu mau kemana? Kak bawa selimut dan tas?" Tanya Ruchan.
"Mau kerumah Syakir Bi, mulai malam ini aku tidur disana. Ada hal yang ingin aku kerjakan dengan Syakir. Boleh kan?" Tanya Kabir.
"Makan malam dulu lah Nak, sekalian ini bawa juga ya buat Syakir dan Aminah. Mama sudah siapkan makanan untuk mereka berdua" Kata Leah.
Ruchan dan Leah tidak menyadari apa yang sudah terjadi kepada anak-anaknya. Kabir dan Ceasy juga hanya diam saja, mereka makan dengan tenang. Setelah Kabir selesai makan, ia berkata kepada Ruchan.
"Bi, kapan kita mau ketempat Gus Nur?" Tanya Kabir.
"Kenapa? Kan masih tiga hari lagi. Udah nggak sabar ketemu Nisa nya? Dia bercadar sekarang, jadi kamu nggak bakal lihat wajahnya" Goda Ruchan.
Uhuk,... uhukk....
Ceasy tersedak mendengar nama Nisa, ia tahu bahwa Nisa adalah gadis yang dijodohkan oleh Ruchan dengan Kabir. Ia bergegas menghabiskan makanannya dan langsung mencuci piring, setelah itu langsung masuk ke kamar.
__ADS_1
Leah tau jika putrinya itu pasti patah hati, ia menghampiri Ceasy ke kamarnya. Leah juga memberi pengertian kepada Ceasy, dimana jalan hidupnya masih panjang. Masih harus ada yang ia kejar kecuali cinta.
"Assallamualaikum" Salam Leah.
"Waalaikum sallam" Jawab Ceasy mengelap air matanya.
"Sabar, tawakal. Mungkin kalian berdua belum berjodoh, sekarang kamu harus fokus belajarnya ya. Katanya mau jadi desainer ternama" Kata Leah menepuk-nepuk kaki Ceasy.
"Boleh peluk Mama nggak?" Tanya Ceasy menangis.
"Ceasy nggak kuat Ma, Mama tau kan Ceasy mencintai Kak Kabir bukan hanya satu sampai dua hari saja" Kata Ceasy.
Karena Ceasy terus saja menangis, Leah hanya mengelus-elus kepala Ceasy dengan lembut. Saat ini, Ceasy butuh dukungan dan sandaran untuknya. Raganya memang tidak terluka, tapj hati nya. Seperti luka yang di tuang dengan setetes cuka, namun tak mengeluarkan darah.
"Ceasy mau kuliah di Korea Ma, bolehkan?" Kata Ceasy.
"Kenapa nggak disini saja sih? Kenapa harus jauh sampai Korea?" Tanya Leah.
__ADS_1
"Tolong...." Pinta Ceasy.
Sebentar lagi memang Ceasy akan lulus SMA, dan memang sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang disainer. Karena Leah juga tidak tega dengannya, ia pun meminta persetujuan dulu dengan Aisyah melalui telfon. Karena bagaimana pun juga, Aisyah yang tahu situasi dan kondisi Ceasy juga.
"Ma, tolong... Tiga bulan lagi kan kelulusan, minta Kak Rifky menghubungi Kak Yoona Ma, biar Kak Yoona mencarikan univeritas terbaik untukku. Dan carikan yang ada asramanya juga ya Ma" Pinta Ceasy.
"Tapi kamu anak bungsu Mama, Mama nggak mau jauh darimu Nak" Kata Leah mulai menangis.
"Bukannya aku tidal tahu diri dan tidak tahu berterima kasih Ma, tapi aku ingin mengejar cita-citaku. Agar aku bisa menyembuhkan luka hatiku ini Ma. Aku mohon....." Kata Ceasy menggenggam tangan Leah.
Leah pun meminta Ceasy untuk bersabar, karena Leah akan menghubungi Aisyah terlebih dahulu. Sementar Itu, Ceasy mencoba mengirim chat kepada Kabir atas rencana kepergiannya.
"Mohon jangan seperti ini. Tetaplah tinggal disini, setelah kelulusan, aku yang akan pergi. Aku akan mengejar cita-citaku ke Korea"
"Bagus! Lebih cepat lebih baik kan? Semangat meraih cita-citamu. Aku akan tetap tinggal bersama Syakir, ini demi kebaikan kita Ceasy" Balas Kabir.
Ceasy kembali menangis, ia memberitahukan isi pesan itu kepada Leah. Leah sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Ini masalah perasaan, yang hanya diri sendiri yang bisa menentukan, bukan orang lain.
__ADS_1