Suara Hati

Suara Hati
Bab. 119


__ADS_3

Syakir pun menceritakan kisah bagaiman Aisyah hamil tanpa di dampingi suaminya selama sembilan bulan. Dari awal kehamilan, hingga pertemuannya kembali dengan Rifky, Syakir menceritakan dengan detail.


"Kok bisa Mas Rifky hilang Ustad?" Tanya Ika.


"Jadi gini, dulu Ibu Kak Rifky meninggal, disana ada sepupunya yang jahat yang mau ambil warisannya Kak Rifky. Kak Rifky menyuruh Keny untuk membawa pulang dulu Kak Ais, setelah sehari Kak Rifky menghilang selama sembilan bulan. Waktu itu Kak Ais belum tahu kalau dia hamil" Kata Syakir.


"Lalu setelah itu? Siapa yang selalu menemani Kak Ais ketika dia harus kontrol?" Tanya Ika.


"Kita gantian, awalnya dia periksa sama Keny, bulan kedua kayaknya sama Abi deh, terus bulan selanjutkan aku, selanjutnya lagi Kabir. Ah aku lupa urutannya, tapi yang paling sering ngantar Kak Ais chek up itu Abang. Sampai dikira Kak Ais tuh suaminya banyak" Kata Syakir.


"Lalu apa pas lahirannya juga tidak di temani Mas Rifky?" Tanya Ika.


"Alhamdulillah sehari sebelum lahiran Kak Rifky pulang. Aku bangga memiliki Kakak dan Mama kayak mereka. Mama juga dulu hamil tanpa dampingan Abi" Kata Syakir.


"Abi hilang juga?" Tanya Ika.


Syakir pun tertawa..

__ADS_1


"Hahaha mana ada Abi hilang, dulu Mama Pas hamil Kak Ais, dia pergi ke Singapura tau. Cerita detailnya sih aku kurang tahu, karena itu banyak konflik" Kata Syakir.


"Apa aku juga akan mengalami hal yang sama?" Tanya Ika dengan mata berkaca-kaca.


"Naudzubillah himindzalik. Semiga tidak dong, aku akan selalu mendampingimu sampai anak kita ini lahir. Aku juga akan pastikan semua kebutuhan kamu tercukupi" Kata Syakir mengusa-usap perut Ika.


"Masya Allah, semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kecil kita ya Ustad" Kata Ika.


"Amin-amin ya rabb" Ucap Syakir.


Beralih di ke kehidupan Ceasy, ia sangat jenuh karena Kabir tidak ada di sisi nya. Merebahkan tubuhnya di kamar, dan berguling-guling sendiri di tempat tidur.


"Waalaikum sallam, silahkan masuk Bi" Kata Ceasy merapikan tempat tidurnya.


"Kamu sedang apa sih? Nggak ke pesantren?" Tanya Ruchan.


"Lagi bad mood Bi" Kata Ceasy memeluk boneka pemberian Kabir.

__ADS_1


"Kenapa sih? Kenapa anak Abi yang cantik ini sepertinya sedang gegana? Cerita dong ke Abi" Kata Ruchan sambil me ngechek satu persatu buku pelajaran milik Ceasy.


Awalnya Ceasy ingin merahasiakan perasaannya itu, tapi ia tidak mampu menyembunyikannya dari Ruchan. Bagaimanapun juga, Ceasy sangat dekat dengan Ruchan, mereka sudah dekat bak anak dan ayah kandung seperti layaknya Ruchan dan Aisyah.


"Ceasy? Ada apa?" Tanya Ruchan.


"Ceasy boleh nggak sih suka sama Kak Kabir" Kata Ceasy jujur.


Tangan Ruchan terhenti, ia terkejut mendegar ucapan Ceasy bahwa dia menyukai Kakaknya sendiri. Bukan salah Ceasy jika ia jatuh cinta dengan Kabir, namun memang Ceasy sudah remaja, ia juga mulai tertarik dengan lawan jenisnya.


"Salah ya Bi" Tanya Ceasy lagi.


"Nggak salah kok Nak, kamu dan Kabir selamanya tetap tidak bisa menjadi mahrom jika tidak ada ikatan pernikahan di antara kalian. Namamu memang sudah ada di keluarga ini, tapi hatimu berhak menentukan siapapun pilihanmu" Kata Ruchan.


"Tapi, apa ini tidak terlalu cepat? Jalanmu masih panjang Nak, sedangkan usia antara dirimu dengan Kabir terpaut sangatlah jauh. Abi ingin kamu mempertimbangkan perasaanmu lagi. Ok? Abi nggak akan marah, jika kalian berjodoh ya Alhamdulillah, kalau belum, ya gunakan waktu remajamu dengan yang bermanfaat" Jelas Ruchan.


Ruchan tidak bisa menyalahkan rasa Ceasy kepada Kabir, bagaimana pun juga mereka dekat disaat usia Ceasy menginjak remaja. Berbeda saat dengan Akbar dan Syakir dulu, waktu itu Ceasy masih kanak-kanak. Kabir juga pernah cerita kepada Ruchan, bahwa ia sudah memiliki seorang wanita yang sedang ia taksir.

__ADS_1


Keinginan Ruchan untuk Ceasy hanyalah satu, ia ingin Ceasy menjadi muslimah yang taat terlebih dahulu, itu janji Ruchan ketika mengadopsi Ceasy dulu. Karena Ruchan tahu, masalah jodohnya sudah Allah tentukan sejak ruh nya di hembuskan ke rahim ibunya.


__ADS_2