Suara Hati

Suara Hati
Bab.40


__ADS_3

"Adikmu Syakir itu pendiam ya?" Tanya Solihin.


"Iya dulu waktu kecil, sekarang sih kayaknya masih. Tapi udah gak terlalu pendiam sejak kembarannya masuk militer" Jawab Akbar


"Wah dia ada kembaran juga? Dan masuk militer? Memang keluarga pesantren boleh menentukan masa depan sendiri?" Tanya Solihin.


"Ya boleh dong. Nih ya aku ceritain sedikit tentang keluarga pesantren Darussallam. Aku dan Kak Ais jadi Dokter, Kak Ais lulusan dari Korea, sedangkan aku Jepang, dan masih aktif di Jepang. Lalu Kabir, kembaran Syakir, Dia masuk militer hampir 7 tahun lalu, dan akan pulang dalam waktu 3 bulan lagi. Cuma ada satu yang harus jadi pimpinan pesantren, yakni Mas Ilham, sepupu kami" Jelas Akbar.


"Wah enak ya kalau bisa menentukan masa depan sendiri, gak kayak aku. Harus stay di pesantren, ndak bisa kemana-mana. Kudengar Syakir juga lulusan sekolah di Kairo kan? Hufft pengen seperti itu" Kata Solihin.


"Yang sabar Bro, semua makhluk hidup di dunia ini sudah memiliki garis takdir masing-masing, termasuk kamu yang Jomblo, sabar ya! Pasti nanti dapat calon pendamping yang pas buat kamu Bro, semangat!" Kata Akbar.


"Lha kok sampai Jomblo barang ki lho? Maksudmu apa? Sesama jomblo jangan saling menghina" Kata Solihin.


"Santai Bro, aku memang jomblo sekarang. Tapi 3 bulan lagi, aku akan melamar cintaku untuk ku jadikan istri Hahahahha" Kata Akbar dengan membusungkan dadanya.


"Wasyemmm!!" Kesal Solihin.


Saat Akbar dan Solihin belum selesai ribut dengan masalah jomblo, berbeda dengan Syakir yang masih duduk manis di ruang tamu dengan orang tuannya. Di panggillah anak Kyai Syaiful.

__ADS_1


"Nduk, sini nduk" Kata Kyai Syaiful memanggil anak perempuannya.


Dari dalam munculah sosok gadis berpakaian syar'i dan menundukan kepalanya, duduk secara perlahan dan mengucapkan salam kepada Ruchan dan Syakir, bersalaman dengan Leah, yang duduknya dekat dengan dia.


"Assallamualaikum warrahmatullahi wabbarrokatuh" Salam zulaikha atau biasa dipanggil Ika.


"Waalaikum sallam warrahmatullahi wabbarrokatuh" Jawab Syakir, Leah dan Ruchan.


"Jadi dia yang namanya Ika, haih jadi deg deg an gini sih" Kata Syakir mulai tidak tenang duduknya.


"Oh ya, sana nduk. Mas Syakir bawa keliling pesantren, tapi hanya sampai pendopo saja ya. Karena jam segini masih banyak santri yang di aula depan, sambil ngobrol-ngobrol" Kata Kyai Syaiful.


"Kalian juga sudah dewasa kan, Saya juga percaya sama Ustad Syakir" Kata Kyai Syaful.


"Syakir saja Kyai hehe" Kata Syakir dengan senyum memaksa.


Ruchan dan Leah membuat Syakir lebih gugup, karena mata mereka menenggoda Syakir dengan menaik turunkan alisnya, membesar kecilkan matanya. Ah apa boleh buat, cuma pengenalan saja akhirnya Syakir menuruti keinginan Kyai Syaiful dan keluar lebih dulu, setelah itu diikuti oleh Ika.


Mereka berjalan sudah hampir jauh dari rumah, namun belum juga mengatakan apa pun, Syakir masih gugup akan mengawali pembicaraannya. Mereka hanya jalan dengan sangat santai dan mengamati kekanan kekiri.

__ADS_1


"Assallamualaikum Dek Ika" Salam Syakir gugup.


"Wa,waalikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh" Jawab Ika sedikit kaget.


"Kamu umur berapa?" Tanya Syakir (Hadeh, kenapa tanya umur dulu sih Ustad).


"19 tahun Ustad" Jawab Ika.


"Masya Allah, aku berasa tua deh heheh" Kata Syakir tertawa dengan terpaksa.


"Abi nyarii aku calon kenapa daun muda gini sih, berasa kek kakak adek kalau gini" Kata Syakir dalam hati dengan melintir sorbannya.


"Emm Ustad sendiri?" Tanya Ika.


"Aku udah tua kali, tahun depan 26 insyaallah jika Allah masih memanjangkan umur aku. Wallahu'alam.Panggilnya jangan Ustad dong, Kakak gitu, upss" Kata Syakir.


"Hah?" Kata Ika dengan suara lembutnya.


Tidak sengaja mereka bertatapan beberapa detik dan langsung memalingkan wajah mereka satu sama lain dan beristighfar. Akbar dan Solihin yang mengikuti mereka pun menahan tawa ketika Syakir meminta Ika memanggilnya Kakak.

__ADS_1


__ADS_2