
Mendengar Aminah demam, Aisyah sebagai dokter anak pun langsung bergegas ke rumah Syakir. Di depan rumah Syakir, ia juga bertemu dengan Akbar. Mungkin karena panik, Syakir juga memanggil Akbar, fikir Aisyah. Seperti sebelumnya, waktu dulu Ika hamil, Syakir juga memanggil Aisyah dan Keny secara bersamaan.
"Abang juga di telfon sama si Syakir?" Tanya Aisyah.
"Iya, katanya Aminah demam sampai mengigau" Kata Akbar.
"Jika sudah basa basinya cepat masuk, Aminah demamnya tinggi sekali" Kata Syakir membukakan pintu.
Aisyah dan Akbar langsung masuk ke kamar Aminah. Aisyah memeriksa secara gesit. Nampak Akbar yang bengong saja duduk di samping Aisyah, sedangkan Syakir sedang cemas melihat kondisi Aminah.
"Mama.... Qis" Sebut Aminah lirih.
"Mama? Qis? Aminah udah punya Mama baru?" Tanya Akbar.
Plak.....
Satu gurame tangan (pukulan) mengenahi bahu Akbar dari Aisyah. Ia sedang sibuk, malah Akbar bercanda tentang Mama baru.
__ADS_1
"Sakit tau kak, aku bedah nanti. Terus aku ganti tuh syaraf jahat Kakak dengan syaraf milik Jamil" Kata Akbar.
"Kamu kenapa panggil dia sih Kir. Dia kan Dokter Bedah, waktu itu saat Aminah hamil juga kamu salah manggil Kakak kan? Padahal yang Dokter Kandungan si Keny" Kata Aminah.
"Tau tuh, kalau enggak ya Aminah langsung bawa kerumah sakit. Dulu saat si Falih sakit aja langsung aku bawa kerumah sakit. Walaupun bapaknya Dokter" Kata Akbar.
"Aku panik, Aminah demam tinggi sampai 40 derajat. Dia juga nggak mau minum susu, aku bingunglah, mau bawa sambil nyetir kerumah sakit juga bagaimana" Kata Syakir.
"Mama Qis" Sebut Aminah lagi.
"Ini serius aku tanya deh, Mama Qis itu siapa bocah!" Tanya Akbar.
"Aminah anak yang kuat, suhu setinggi ini nggak kejang. Sebaiknya kamu panggil Balqis kesini deh, suruh dia bawa satu teman, dan kamu menginap di pesantren atau rumah Abi untuk malam ini" Saran Aisyah.
Akbar masih melongo mendengar nama Balqis di sebut Mama oleh Aminah, matanya curi-curi pandang dengan Syakir. Dan beberapa kali mencoba menggodanya.
"Abang!" Bentak Aisyah.
__ADS_1
"Iya Kak, enggak. Aku pulang dulu aja deh.. Aminah, ponakan Om Abang cepat sembuh ya, besok Om Abang akan buat Mama Qismu itu menjadi Mamamu sungguhan hehehe. Assallamualaikum!" Kata Akbar langsung kabur.
Sementara menunggu Syakir membawa Balqis kerumahnya, Aisyah masih menunggu Aminah di kamar. Aisyah membelai wajah Aminah yang mungil itu, tidak terasa air matanya menetes.
"Aminah, keponakan kesayangan Bu Dhe, cepat sembuh ya, andai aja Umi mu masih disini. Astaghfirullah hal'adzim. Andai Balqis menjadi Mama mu sungguhan nak, pasti kamu dan Abimu akan ada yang merawat di saat seperti ini" Kata Aisyah.
"Assallamualaikum" Salam Syakir.
"Waalaikum sallam" Jawab Aisyah.
Aisyah bergegas menyeka air matanya dan segera membuka pintu. Yang datang Mama Leah dan Balqis, mungkin demi kebaikan semuannya, Syakir memilih Mama Leah untuk menemani Balqis merawat Aminah di rumah Syakir. Ternyata, dalam kepanikan Syakir, ia bisa berfikir bijak seperti itu.
"Mama, Balqis" Kata Aisyah.
"Bagaimana keadaan Aminah?" Tanya Balqis panik.
"Dia......" Belum juga Aisyah memberitahu keadaan Aminah, Balqis langsung masuk kedalam dan menemui Aminah di kamarnya. Ia langsung mengelus-elus tangan kecil Aminah.
__ADS_1
Balqis memang bukan ibunya, tapi ia yang selama ini selalu ada untuk Aminah, sejak Ibunya Aminah meninggal, Aminah dirawat dan di besarkan oleh kasih sayang Balqis. Walaupun, Balqis sendiri juga masih heran, kenapa ia sangat mencintai Aminah.