
Di kantin, ternyata Sandy tengah bersama dengan Irene.
"Assallamualaikum" Sapa Akbar mencium tangan Akbar dan Irene.
"Waalaikum sallam, lama banget sih. Nih tasnya!" Kata Sandy.
"Ck, baru setengah jam juga. Papa kan kerja hari ini, kenapa juga Tante Irene ikut kesini?" Tanya Akbar.
"Tante mau pulang hari ini, sebelum itu ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu" Jawab Irene.
"Kalian mau nikah kan? Monggo lah, dan bawa laki-laki sok ganteng ini jauh-jauh" Kata Akbar menyantap sarapan milik Sandy.
"Woy punya Papa itu, dasar kamu ya! Sama Aisyah, Ruchan dan Leah aja manis banget sikapnya. Huftt Papa ngambek" Kata Sandy bergaya seperti anak Tk.
"Hadehh, punya Papa satu kok kayak gini Ya Allah. Maka nya, Papa cepet nikah sama Tante Irene, terus punya anak sendiri deh. Aku selesai sarapan, harus pergi sekarang juga. Dadah Papa muachh aku sayang kalian. Assallamualaikum" Kata Akbar langsung pergi setelah sarapan milik Sandy habis.
__ADS_1
Sebelum itu, tetap saja tradisi salim kepada orang tua tidak pernah luntur. Seberapa tua Akbar, Ruchan selalu mendidiknya agar tetap bersalaman dan mencium tangan orang yang lebih tua darinya. Kecuali dengan orang lain, selain para Ulama menurut ajaran Ruchan.
Saat Akbar hendak absen, ia bertemu dengan Yasha pagi itu. Akbar menunggu Yasha selesai mengisi absen dan langsung menyeretnya di tangga darurat.
"Woy Bar, kenapa sih Lu?" Tanya Yasha.
"Semalam ada panggilan, dan Loe lagi enak-enak an mabuk bersama Jesicca? Sha, Loe inget gak sih sumpah kita jadi Dokter? Dan mabuk itu nggak ada gunanya Sha?" Kata Akbar.
"Loe nggak ngerti kan masalah Gue apa? Gue lagi pusing, sebaiknya Loe jangan ganggu Gue dulu deh, minggir" Kata Yasha mendorong tubuh Akbar kedinding.
"Butuh di ruqiyah nih bocah" Gumam Akbar.
Kita beralih di kehidupan pengantin baru dulu.
Pagi hari, Ika memasak dan menyiapkan sarapan untuk Syakir, karena pagi ini Syakir sudah mulai mengajar di pesantren.
__ADS_1
Hubungan mereka semakin harmonis, pasalnya Ika sudah tidak malu-malu lagi dengan Syakir, begitu juga sebaliknya dengan Syakir.
Candaan demi candaan di lontarkan oleh Syakir, Syakir ini ternyata sosok suami yang romantis. Di saat mereka memasak bersama, Syakir selalu memberikan godaan kepada Ika.
"Stt Dek" Bisik Syakir.
Karena di panggil oleh Syakir, Ika pun menoleh kearah Syakir. Dan tidak sengaja bibir Syakir dan Ika bersentuhan. Karena nanggung cuma sebentar, Syakir kembali mengecup bibir dan kening Ika, hingga Ika tersipu malu.
"Haus" Kata Syakir manja.
"Aku ambilin ya" Kata Ika mengambil air minum untuk Syakir.
Ika memberikan gelas itu kepada Syakir, setelah Syakir menerima gelas itu, lalu meminumnya sedikit. Syakir menyuruh Ika untuk duduk di dekatnya dan ia menyodorkan gelas itu kepada Ika. Menyuruh Ika minum dan setelah itu meminum kembali di bekas bibir Ika.
"Ah, itu kan bekas ku Ustad?" Tanya Ika.
__ADS_1
"Emang kenapa? Nggak papa dong, Rosull aja juga minum di bekas bibir Aisyah kan? Aku bantu masak ya" Kata-kata Syakir membuat Ika menjadi salah tingkah.
Mereka akhirnya memasak berdua, menu favorit mereka masing-masing juga di tulis di sebelah kulkas. Agar mengetahui apa yang mereka sukai, dan ternayata mereka memiliki banyak kesamaan. Pagi mereka berjalan dengan romantis, karena makan pun juga sepiring berdua.