
Meluruskan Semua Masalah.
Semalam Akbar sudah merenungkan semuanya. Dia yang memulai, dan dia juga yang harus mengakhirinya. Orang tuanya tidak bersalah, dirinya yang salah karena tidak tegas dalam mengambil sikap dan keputusan.
Pagi-pagi sekali, Akbar sengaja ke rumah sakit lebih awal agar bertemu dengan Aisyah dan meluruskan semuanya. Tidak lama setelah itu, Aisyah datang di antar oleh Rifky, dan Akbar pun langsung menghampiri Aisyah dan menggenggam erat tangannya.
"Maaf! Abang salah, Abang salah, mohon pulanglah Kak. Semalam juga kalian tidur dimana? Aku mengkhawatirkan Airy dan Raihan" Kata Akbar terlihat lemas.
"Abang gak tidur?" Tanya Aisyah khawatir.
"Kalian berdua masuk aja dulu, bicarakan semuanya di dalam, gak enak juga kan kalau bicara disini" Kata Rifky.
"Kita masuk dulu ya Mas, salam buat anak-anak, Assallamualaikum!" Salam Aisyah mencium tangan Rifky.
"Waalaikum sallam"
"Stt, semangat!" Bisik Rifky kepada Akbar.
Akbar mengikuti Aisyah ke ruangan tempat istirahat para Dokter ketika kelelahan. Amarah Aisyah sepertinya juga sudah mereda. Bahkan ia khawatir karena melihat wajah Akbar yang terlihat letih.
"Abang gak tidur semalam? Kok kelihatan lusuh gitu sih, ni minum vitaminnya" Kata Aisyah memberikan vitamin C kepada Akbar.
__ADS_1
"Hari ini Abang mau menyelesaikan semua masalahnya Kak. Setelah tugas Abang selesai pastinya. Malam ini Abang udah buat janji sama Niki, dan menegaskan sekali lagi tentang perasaanku. Setelah itu, aku akan menentukan waktu yang pas untuk cuti, dan pulang ke Indonesia. Menemui keluarga Fatim dan mengatakan kalau Abang siap menikah. Dengan alasan Fatim mau di ajak ke Jepang!" Kata Akbar.
"Yakin gak nih? Nanti tiba-tiba di perempatan, Abang malah belok kanan lagi, kan yang repot Kakak" Kata Aisyah.
"Jangan gitu dong Kak. Doakan kek, biar semuanya lancar. Abang kan juga pengen punya keluarga sendiri kayak Kak Ais gitu. Kemaren pas bermain sama Airy, Raihan dan Fatim, serasa syahdu gitu" Kata Akbar dengan senyuman.
"Gitu dong. Harus tegas, yakin karena Allah, jangan lupa juga berdoa. Baca Basmallah ketika hendak melakukan sesuatu" Kata Aisyah.
Alarm untuk apel pun berbunyi, Aisyah dan Akbar bergegas ke aula untuk melakukan apel pagi sebelum kegiatan dimulai. Banyak materi yang perlu Aisyah serap pada pagi itu, karena waktunya tinggal tiga hari lagi.
Setelah pulang kerja, Akbar berpamitan dan meminta doa kepada Aisyah agar pertemuannya dengan Niki lancar dan damai. Tidak ada lagi cekcok seperti waktu kemarin, dan harus membuat Niki mengerti dan merelakan Akbar untuk dimiliki orang lain.
"Kenapa kita gak ajak Om Abang Mi?" Tanya Raihan.
"Iya Mi, padahal seru loh kalau ajak Om Abang. Apalagi kalai sama Tante Fatim, Airy suka sama Tante Fatim. Dia baik, lucu dan gak pernah marah kayak Ami" Kata Airy.
"Oh gitu ya? Airy lebih suka sama Tante Fatim dibandingkan dengan Ami? Mama Airy sendiri? Baiklah, besok pagi harus setor dua surah kepada Ami. Harus!!" Kata Aisyah.
"Yah ngambek!"Kata Airy.
Sedangkan di sisi lain, Niki akhirnya datang memenuhi panggilan Akbar. Niki sangat senang karena Akbar mengajaknya bertemu duluan. Niki sudah percaya diri kalau Akbar akan memilihnya dari pada memilih Fatim.
__ADS_1
"Terima kasih sebelumnya, kamu sudah menyempatkan menemuiku. Ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan ini penting, menyangkut masa depanku." Kata Akbar.
"Katakan!!" Kata Niki.
"Dalam waktu dekat aku akan pulang ke Indonesia dan menentukan pilihanku. Maaf, aku memilih Fatim untuk menjadi masa depanku. Maafkan aku Niki, tolong hargai keputusanku, dan jangan lagi kamu mengganggu Fatim lagi" Kata Akbar.
"Jadi gadis itu mengadu?" Tanya Niki pura-pura belom tau kalau Aisyah itu bukan Fatim.
"Gadis yang kamu temui saat di supermarket itu adalah Kakakku Nik, bukan Fatim. Tolong hargai keputusanku, kita bisa kan berteman seperti sebelumnya?" Tanya Akbar.
"Gampang ngomong seperti itu Akbar, aku yang menjalaninya. Susah jika harus pura-pura bahagia melihat laki-laki yang sangat dicintainya memilih bersama wanita lain. Aku sakit Akbar!" Kata Niki.
"Cinta memang tak seharusnya memiliki bukan? Jodoh itu hanya Tuhan yang tau Niki, aku sangat berharap jika kau kelak akan menemukan tambatan hati yang cocok untukmu. Tapi laki-laki beruntung itu bukan aku" Kata Akbar.
"Dalam ajaran agamaku, seorang muslim tidak boleh menikahi wanita yang bukan seorang muslimah, dan aku juga tidak bisa memaksamu mengikuti agamaku. Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu. Aku dan Fatim seiman, kita tidak bisa bersama" Kata Akbar.
"Aku bisa menjadi seorang muslimah seperti kakakku, dan kita bisa bersama Akbar" Kata Niki.
"Jangan karena cinta kepada hambanya kau ingin menjadi seorang mualaf. Karena Allah atau Tuhanlah kau akan menjadi seorang mualaf. Karena Dialah maha segala-galanya, aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku Niki. Dan walaupun kau sudah menjadi mualaf, kita tetap tidak akan pernah bersama, karena aku mulai menginginkan kehadirannya, jadi tolong dan tolong hargai keputusanku. Permisi dan selamat malam" Kata Akbar.
Kepergian Akbar membuat Niki menangis, ia benar-benar sudah tidak ada harapan lagi. Bukan karena Akbar terpaksa karena perjodohan itu, tapi karena Akbar telah membuka hatinya untuk Fatim, ia mulai merindukan akan kehadiran Fatim. Niki menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1