Suara Hati

Suara Hati
Bab. 91


__ADS_3

Sampai juga Akbar di Jepang, setelah istirahat malam. Pagi-pagi sekali ia harus sudah sampai di rumah sakit dimana ia mencari rezeki. Namun ketika sampai di rumah, Akbar tidak menemukan Papanya di setiap sudut rumah.


"Ck, Papa ini kemana sih? Udah berangkat sejak pagi juga, belum sampai sini. Pasti belok kiri ini, di suruh cepat nikah juga nggak cepat-cepat. Malah ngundur-ngundur terus, maunya si bapak ini apa sih" Kesal Akbar.


"Assallamualaikum ya calon istri, maaf ya aku berangkat nggak pamitan dulu" Isi pesan Akbar.


"Malah Papa yang telfon, hadehhh" Kesal Akbar.


Akbar pun mengangkat telfonnya.


"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, Bar jemput Papa dong di bandara. Papa sama calon Mamamu nih hahahha"


"Nggak mau, pulang aja sendiri. Akbar mau mandi, habis beberes rumah. Papa kenapa pergi nggak bersihin rumah dulu sih?" Kata Akbar.


"Durhaka kamu Bar, jemput Papa ah. Papa nggak.sempat mau beberes"


"Ya minimal sewa tukang bersih-bersih lah, udah ah Papa pulang sendiri" Kata Akbar.


"Hey, kalau di suruh orang tua itu nggak boleh mbantah, apa lagi berkata ah"

__ADS_1


"Akbar malah nggak berkata ah, langsung aja bilang nggak mau weee. Dah ah pulang sendiri, malah enak kan sambil pacaran. Assallamualaikum" Akbar menutup telfonnya.


Di bandara,


"Woo di matiin. Waalaikum sallam, dasar anak.kampret!" Kata Sandy.


"Berarti kamu bapaknya kampret dong. Kampret-kampret gitu juga anakmu kan?" Kata Irene.


"Iya juga sih, heh siapa bilang dia anakku. Di siruh jemput aja nggak mau, sedangkan di suruh Ruchan apa-apa mau" Kesal Sandy.


"Terus?" Tanya Irene.


"Pengen deh punya anak lagi, yang bener-bener aku rawat sendiri dari bayi" Kata Sandy.


"Kali aja gitu, ada yang mau hamil dan ngasih anaknya ke aku" Kata Sandy.


Malam semakin larut, Fatim belum juga membalas pesan dari Akbar. Tidak ada tanda-tanda di baca juga, sebenarnya Akbar khawatir. Tapi, badan dan mata Akbar sudah tidak kuat lagi jika harus tetap terjaga. Ia pun merebahkan badannya di ranjang.


Baru saja memejamkan mata, Akbar sudah menerima panggilan rumah sakit karena ada darurat. Mau bagaimana lagi? Dokter bedah di rumah sakit dimana Akbar tugas, tidak banyak seperti Dokter umum di rumah sakit itu.


Triiinnggggg....

__ADS_1


"Ya Allah, ini nada panggilan dari rumah sakit. Ahhhh" Kata Akbar mengangkat tidurnya.


Mulai berbahasa Jepang.


"Iya hallo" Sapa Akbar.


"Apakah Dokter sudah sampai Jepang? Ada panggilan darurat untuk Dokter, harus kerumah sakit sekarang juga, secepatnya" Kata Perawat jaga.


Tanpa menunggu lama, Akbar langsung bergegas ke rumah sakit. Mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat.


Sampai di rumah sakit, Akbar langsung mengganti pakaiannya menggunakan perlengkapan operasi. Di sana sudah banyak perawat dan ada Dokter kandungan juga, Dokter baru yang juga berasal dari Indonesia.


"Kenapa ada Dokter Dara juga? Bukankah dia Dokter kandungan?" Tanya Akbar.


"Karena yang akan melakukan operasi bedah itu adalah pasien Dokter Dara Dok" Jawab perawat itu.


"Data pasien?" Kata Akbar meminta data pasien itu.


"Kenapa harus saya? Ini pekerjaan Dokter Yasha loh? Dimana dia?" Tanya Akbar sambil menangani pasien.


"Dokter Yasha sedang mabuk Dok" Jawab Perawat itu.

__ADS_1


Operasi bedah itu berjalan sangat lama, karena memiliki resiko yang besar bagi Ibu dan bayi tersebut. Akbar harus berhati-hati dalam bertindak. Di bantu dan di arahkan oleh Dokter Dara, akhirnya operasi bedahnya berjalan dengan lancar. Bayi dan Ibunya selamat, dan keduannya dalam keadaan sehat. Hanya sang Ibu masih dalam fase pemulihan.


Akbar sangat kecewa kepada Yasha malam itu, hingga setelah operasi tidak mengatakan sepatah kata pun dan langsung pergi begitu saja. Hanya memberikan keterangan di data pasien dan di berikan kepada Dokter Dara.


__ADS_2