
Kabir sendiri menjadi bingung harus bagaimana, sampai sekarang ia belum kefikiran untuk menerima atau mencintai seorang wanita. Ia juga sedang memikirkan masa depannya, karena ia memiliki rencana untuk pensiun lebih awal dari profesinya.
Kabir sengaja makan di dekat Ceasy, sedangkan Bonna sedang pergi ke kamar Ceasy untuk ganti baju. Karena Bonna dan Kabir ada rencana untuk jalan-jalan sekitar Jogja, tentunya dengan Jamil, karena tidak mungkin mereka akan jalan berdua saja.
"Hissh, kenapa sih Kak Kabir duduknya deketan gini. Nggak tau apa kalau aku ini takut baper" Kata Ceasy dalam hati.
"Banyakin makan sayur, nih aku ambilin" Kata Kabir mengambilkan sayur untuk Ceasy.
"Tuh kan baper beneran" Kata Ceasy memenempelkan tangannya di dadanya.
"Kamu mau ikut nggak? Aku sama Bonna, Jamil juga tentunya, mau jalan-jalan keliling Jogja. Kalau mau ikut, ayo nggak papa, nggak ada jadwal hafalan kan?" Tanya Kabir.
"Emang aku nggak ganggu kalau aku ikut?" Tanya Ceasy.
"Udah Ceasy ikut aja, jarang-jarang loh bisa kuras habis uangnya Kak Kabir" Kata Rifky.
"Iya deh, aku ganti baju dulu kalau gitu" Kata Ceasy.
__ADS_1
"Nggak usah, gini aja udah cantik kok. Beneran deh, makannya di habisin dulu ya, duduk lagi" Kata Kabir.
"Kak Kabiiiiiirrr, aku tuh baper di bilang cantik. Stop ngapa?" Kata Ceasy dalam hati.
Ceasy pun melanjutkan makannya dengan pelan, sekali-kali juga menatap Kabir. Di saat syahdunya makan berdekatan, ponsel Ceasy berdering. Dan itu membuat Kabir merasa terganggu.
"Siapa tuh telfon? Angkat gih" Kata Kabir menyeruput teh nya.
"Bukan siapa-siapa, cuma temen" Jawab Ceasy gugup.
"Ck, angkat lah, brisik banget ah. Siapa tau itu penting!" Kata Kabir kesal.
"Ini nggak penting Kak, dia iseng aja" Kata Ceasy.
Kabir pun merebut ponsel Ceasy dan mengangkatnya dengan nada kesal.
"Assallamualaikum! Ada apa" Kata Kabir.
__ADS_1
"Kok cowok sih yang angkat, siapa lo. Gebetan Ceasy, gue bilangin ke lo ya, Ceasy hanya milik gue, lo jauh-jauh dari Ceasy" Kata Varilo di telfon itu.
"Makan masih minta emak aja gayanya menyukai anak gadis orang. Belajar tata krama dulu kalau mau mendekati Ceasy, Assallamualaikum!" Kata Kabir menutup telfonnya.
Kabir menyita ponsel Ceasy, lalu keluar menunggu Bonna dan Ceasy di mobil. Disana juga sudah ada Jamil yang menunggunya. Bonna mendekati Ceasy dan memintanya bersabar dengan apa yang dilakukan oleh Kabir.
"Ponselku, Kak Rifky, Kak Ais, mintain" Pinta Ceasy.
"Itu salah kamu sendiri, siapa suruh nggak kamu angkat sendiri. Siapa sih yang telfon?" Tanya Rifky.
"Aaa Kak Rifky, yang telfon Varo, temen cowok aku yang pernah antar aku pulang dan dimarahi Abi itu loh" Kata Ceasy manja.
"Hoho, hati-hati. Kakak tercintamu entar marah hahaha" Goda Aisyah.
Semua anggota keluarga sudah tau tentang perasaan Ceasy terhadap Kabir. Namun, mereka tidak pernah mempermasalahkan, karena bagaimanapun juga Ceasy dan Kabir bukanlah mahram. Mereka sah-sah saja jika suatu saat nanti menikah.
Namun semua keputusan ada pada diri Kabir, ia belum berkefikiran untuk menikah diusianya yang sudah berkepala tiga. Ia masih nyaman untuk menyendiri dan bebas dari zina hati dan fikiran.
__ADS_1