Suara Hati

Suara Hati
Bab. 9


__ADS_3

Kesal...


"Kejutan!!!"


"Selamat Ulang Tahun Niki!" Teriak semua sahabatnya termasuk Akbar.


"Kalian? Akbar?" Kata Niki masih bingung.


"Kalian gak lupa ulang tahunku?" Tanya Niki.


"Mana mungkin kita melupakan ulang tahun sahabat kita sendiri. Kita berlima kan sahabat kan?" Tanya Akbar.


"Ah iya sahabat" Kata Niki sedikit kecewa.


Semua rencana telah berjalan dengan lancar. Kini saatnya Akbar pulang kerumah, karena entah kenapa Papanya menyuruh nya segera pulang. Akbar pun berpamitan kepada yang lain untuk pulang terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya masih ingin bersama mereka.


"Kenapa tiba-tiba Papa nyuruh aku pulang gini ya, tumben banget" Kata Akbar dalam hati sambil menyetir.


Akhirnya tiba juga dirumah, kali ini rumah masih terang. Siapakah tengah malam begini yang bertamu? Apakah sepenting itu tamunya hingga menyuruh Akbar untuk pulang.


"Assallamualaikum" Ucap Akbar.


"Waalaikum sallam"


Akbar bingung dengan suasana itu, disana sudah ada Ruchan, dan sorang laki-laki seumuran Ruchan, dan juga ada Syakir.


"Oh Abang sudah pulang, kemana saja sih? Lama sekali kamu Bang?" Tanya Syakir menyambut Akbar pulang.


Sandy menyuruh Akbar untuk menyalami teman Ruchan, dan duduk disamping Sandy. Akbar masih belum tahu apa yang sebenarnya akan Sandy katakan. Raut wajahnya nampak bahagia.


"Perkenalkan, ini anakku Akbar, dia juga Dokter di kota ini. Dia juga bekerja sampingan menjadi guru Bahasa Indonesia di sini" Kata Sandy memeperkenalkan Akbar dan teman Ruchan.


"Dan Akbar, perkenalkan. Beliau ini sahabat Ruchan, namanya Fikri yang saat itu menempuh study di Kairo juga. Dia juga guru dari adikmu Syakir dan Seto" Kata Sandy.


"Oh, Assallamualaikum" Ucap Akbar.


"Waalaikum sallam warahhmatullahi wabbarokatuh. Apa kabar nak Akbar?" Tanya Fikri.


"Alhamdulillah baik Om, Om sendiri apa kabar?" Tanya Akbar balik.


"Wah jangan Om dong, panggil saja Abi, biar seperti kamu manggil Abimu ini" Kata Fikri menepuk bahu Ruchan.

__ADS_1


Akbar sudah meraskan hawa tak enak dengan suasana itu, dalam batinnya pasti akan ada perjodohan. Haih nasib anak Ustad ya begini. Tapi lebih mending dari pada tidak ada jodoh sama sekali, ataupun malah salah pilih jodoh.


Bagaimana juga, pilihan Ruchan dan Sandy pasti jauh lebih baik dari dugaan Akbar. Karena mereka yang lebih tau dari pada Akbar. Walaupun tidak ingin memaksanya, tapi Ruchan dan Sandy ingin memperkenalkan dulu anak sahabat Ruchan tersebut.


"Akbar, tujuan Abi dengan sahabat Abi kesini itu, ingin menjodohkan kamu dengan anak gadis dari sahabat Abi ini, Fikri. Ya kamu bisa pertimbangkan dulu, nanti ketika kamu sudah bertemu dengannya, baru bisa memutuskan" Kata Ruchan.


"Sudah kuduga" Kata Akbar dalam hati.


"Bagaimana Bar? Kamu setuju untuk bertemu dan berkenalan dengan anak dari Mas Fikri ini?" Tanya Sandy.


"Insyaallah Akbar bersedia Pa, Bi" Kata Akbar tersenyum palsu. Karena ia juga tidak yakin.


Dalam benaknya, ia belum ingin mencintai seseorang untuk saat ini. Ia hanya ingin lancar dalam berkarir dan menikmati masa mudanya.


"Apa boleh buat, aku gak mungkin nolak dong. Udah jauh-jauh datang kesini juga" Batin Akbar.


Karena Akbar sudah sepakat, maka Syakir mengajak Akbar ke balkon untuk bertanya tentang perjodohan itu. Dan kenapa Akbar langsung menerima begitu saja.


"Ke kamar aja lah, aku ada video game baru. Mau lihat?" Tanya Akbar.


"Boleh laa" Jawab Syakir.


"Bang, Abang serius nih? Setuju aja dengan perjodohan itu. Maksudnya tanpa syarat gitu?" Tanya Syakir.


"Ck, kamu yang lebih tau dariku Kir. Mereka merawat dan membesarkan kita saja tanpa syarat, kenapa saat mereka meminta sesuatu harus kita memberinya syarat? Lagian ini pertama kalinya Abi memintaku" Kata Akbar.


"Aku ngantuk, aku tak tidur dulu ya. Assallamualaikum" Kata Akbar.


"Waalaikum sallam"


✳✳✳✳✳✳✳


Setelah sholat subuh, Akbar sengaja berangkat lebih awal ke rumah sakit. Entah kenapa sejak tengah malam Yasha terus saja menelfonnya. Dan lebih menyebalkan lagi, Syakir tidak membangunkannya.


"Loh Bang? Pagi banget kamu berangkatnya? Ada panggilan darurat?" Tanya Ruchan.


"Gak tau juga sih Bi, entah kenapa sejak semalam Abang pulang, Yasha menelfonku terus. Katanya sekarang dia sudah menungguku di rumah sakit" Kata Akbar.


"Oh ya sudah, hati-hati di jalan ya. Emm Abang, bilang juga ke teman-temanmu, lusa kamu akan pulang ke Jogja untuk menemui anak sahabat Abi ya. Papamu sudah mengurus izin cuti mu" Kata Ruchan.


"Baiklah Bi, Assalalmualaikum" Salam Akbar mencium tangan Ruchan.

__ADS_1


"Secepat ini? Haih kenapa mendadak sih. Bagaimana aku bilangnya ke teman-teman" Batin Akbar.


Sesampainya di rumah sakit, Akbar melihat Sandy sudah ada di rumah sakit juga. Dan Akbar pun menyapa Sandy. Karena setahu Akbar, Sandy itu shift malam.


"Pa, Papa bukannya shift malam ya? Ngapain sepagi ini sudah ada di ruang direktur?"Tanya Akbar.


"Ngurus cuti kamu nih. Papa ke IGD dulu, ada darurat disana" Kata Sandy menepuk bahu Akbar.


Akbar masih saja mencari dimana Yasha, karena ia belum juga bertemu dengan Yasha. Sedangkan menurut resepsionis, tidak ada panggilan darurat untuk doker bedah.


"Ah kenapa harus lapar sekarang sih?" Gumam Akbar.


Ketika melewati bangsal 6A, Akbar tak sengaja melihat Yasha dan Jesicca disana, Akbar pun langsung menghampiri sahabat-sahabatnya itu.


"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam Bar. Bar kamu kemana saja sih? Semalam aku telfonin kok gak kamu angkat" Tanya Yasha.


"Maaf aku ketiduran, semalam adik dan Abiku datang jadi ponsel aku tinggal di kamar. Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Akbar gundah.


"Kami mengalami kecelakaan Bang." Kata Oshi.


"Tapi yang parah Jesicca dan Niki. Kita di belakang jadi gak terlalu parah" Kata Yasha.


"Kalian mabuk?" Tanya Akbar.


Mereka berdua mengangguk, Yasha jujur dengan Akbar, ia menceritakan semua hal yang terjadi, mereka mabuk-mabukan sampai lupa diri. Bahkan Niki yang tak pernah mabuk pun, malam itu bisa mabuk berat.


"Kebetulan kalian yang masih sadar disini. Lusa aku akan kembali ke Indonesia! Aku sudah mengambil cuti selama 1bulan, bergantian dengan Senior Park" Kata Akbar.


"Lalu Niki?"Tanya Oshi. Oshi mengetahui jika Niki sangat mencintai Akbar. Begitupun sebaliknya dengan Akbar.


"Jika dia sadar dan bertanya tentangku. Suruh dia melupakan perasaannya padaku. Karena kita memang tak bisa bersama. Aku permisi ingin sarapan dulu. Nanti aku akan menjenguk kalian lagi" Kata Akbar pergi meninggalkan sahabatnya.


Sebenarnya, hati Akbar juga menyukai Niki, entah suka karena kagum, atau bangga ataupun perasaan seperti itu. Akbar belum tahu pasti, sebelum rasa sukanya semakin jauh, ia memutuskan untuk menerima putri dari sahabat Abi.


Karena sebesar apapun Akbar dan Niki saling menyukai, keyakinan mereka yang seperti dinding tinggi mengahalangi mereka berdua untuk bersama.


Dan demi kecintaan Akbar kepada Allah Subhanahu Wata'ala, ia akan menikahi wanita yang seiman dengannya.


Ketika engkau menjaga diri, di saat yang sama, di tempat lain jodohmu pun menjaga diri, hingga nanti bertemu di saat dan cara yang paling berkah.

__ADS_1


__ADS_2