
"Wah mobilnya seperti tidak asing, ounya sopo yo?" Fikir Jamil.
Akbar dan Syakir keluar dari mobil itu, dan merangkul Jamil masuk ke mobil. Jamil awalnya bingung, karena saat di tanya, Akbar dan Syakir tidak menjawabnya.
"Wah asyem kok iki, woy aku mau di bawa kemana? Jawab dong, ini sudah malam, mau dibawa kemana aku ini, jangan lah Kakak-kakak, saya anka baik-baik loh, soleh lagi. Huhu mau dibawa kemana?" Kata Jamil dengan logat jawa yang sangat medok.
"Mau dibawa kemana, hubungan kitaaa. Jika kau terus menunda-menunda, tanpa ada ijatan pasti. Antara kau dan aku!" Akbar dan Syakir malah bernyanyi tanpa menghiraukan ocehan Jamil.
"Fiks ayan kabeh!! Woy mau kemana ini, udah malam. Aku ini lagi mau beli minyak goreng sama, sama apa ya tadi. Woalah lupa aku, plis turunin aku ngapa cah!" Pinta Jamil.
Namun Akbar dan Syakir tak menghiraukannya, di bawanya Jamil di tugu jogja dan diturunkan disana, Akbar dan Syakir ngakak saat kejadian itu.
"Woy, asyem aku di tinggal. Awas kalian ya, aku laporin ke Ilham. Mbok ya kalau mau ninggal itu ngasih ongkos kek, jahat banget dah" Kesal Jamil.
"Hahaha sukurin tuh, macem-macem ngajarin anak orang gak bener sih" Kata Akbar tertawa.
__ADS_1
"Kita gak keterlaluan nih nurunin dia sampai ke tugu? Mana dia cuma pakai kolor lagi? kaos oblong, bawa kranjang sayur Ya Allah" Kata Syakir.
"Kita tunggu aja di sini, hiburan malam kan. Hahaha nikmati aja, bingung bingung dah tu" Kata Akbar.
Mereka tidak akan setega itu meninggalkan Jamil begitu saja, dari jauh mereka tetap memantau. Sudah kesana kesini mencari tumpangan, namun Jamil tak mendapatkan tumpangan untuk pulang.
"Wis to, ambyar!! Mana aku ndak bawa uang lebih lagi, cuma bawa 20ribu, mana cukup buat beli minyak goreng sama garam dan ongkos pulang. Yakin nih si Akbar sama Syakir, sampai mereka gak balik aku giles pakai slender" Kesal Jamil.
Melihat mulut Jamil yang komat kamit membuat Akbar dan Syakir ngakak bebas, mereka tidak menduga jika akan bertemu dengan Jamil di jalan. Setelah lima belas menit berlalu, dan Jamil masih mondar mandir di tempat, Akbar dan Syakirpun menghampirinya karena tidak tega.
"Kampret wah, main tinggal-tinggal aja, emang aku tuyul di turunin di jalan terus di tinggal beberapa menit terus di jemput lagi? Jahat" Kesal Jamil.
"Salah kamu sendiri, ngapain kamu ajarin adikku tentang Kakek Sugiono? Dasar mesum!! Jauh-jauh lah dari Ceasy!"Kata Akbar.
"Weladalah, masalah iku to? Heheh kalau soal itu tidak terasa mulutku keceplosan aja" Kata Jamil seperti orang tidak bersalah.
__ADS_1
"Awas jamu ajarin Ceasy macam-macam, ini baru di Tugu Jogja, lain kali akan aku buang kamh di samudra hindia" Kata Akbar.
" Tugu Jogja ada lagunya loh, mau dengar aku nyanyi ndak?" Tanya Jamil.
"Su......." Kata Jamil sedang mengambil nada.
"Diam!!!!!" Bentak Akbar dan Syakir bersamaan.
"Wedhus!!" Kesal Jamil.
Rasa kesepian Syakir dan Akbar yang bisa mengingatkan akan masa kecilnya tadi, kini telah terobati dengan cara mengerjai Jamil. Mereka juga makan bersama di warung milik Jamil. Karena pulang terlambat, Jamil dimarahi oleh Ibunya.
"Pie to iki, lha di suruh beli minyak goreng sama garam kok malah garamnya jadi bumbu penyedap to Le? Pokokke mana uang kembaliannya gak jadi buat kamu!" Kesal Ibu Jamil.
Akbar dan Syakir tertawa ketika meluhat ekspresi wajah Jamil yang menunduk dan mengangguk-angguk lucu. Hiburan double untuk kedua bersaudara itu, sambil menikmati tongseng kambingnya.
__ADS_1