
Di jalan, suasana semakin serius saja. Kabir hanya terdiam, begitu juga dengan Jamil.
"Kak, aku nggak harus pindah juga nggak papa kan?" Tanya Ceasy.
"Kamu masuk Negri aja, ini juga baru semester satu, masih bisa ngejar pelajaran. Nanti biar Kakak yang bicara sama Mama dan Abi" Kata Kabir.
Ceasy menjelaskan apa yang telah terjadi, hingga dia di bully. Sambil menangis, ia pun minta kepada Kabir untuk bicara dengan orang tuannya agar di masukkan ke pesantren. Atau sekolah di kota, yang sebelumnya di usulkan oleh Delia.
Hari itu cukup sampai di situ, semua pekerjaan Kabir dan Jamil mengurus keperluan Fatim juga selesai. Ceasy langsung kerumah Aisyah bersama dengan Kabir, dan orang tuannya. Meminta pendapat untuk Ceasy, bagaimana pun juga, Ceasy yang memebawa ke keluarga Ruchan adalah Aisyah, semua juga harus ada persetujuan Aisyah.
Di Jepang, Akbar nampak sibuk sekali. Beberapa pekerjaannya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Karena kemampuan Yasha tidak sepertinya, Yasha ini Dokter Anak juga, tapi karena satu Tim dengan Akbar, ia sedikit-sedikit sudah mempelajari ilmu bedah dengan Akbar.
"Akhirnya selesai juga, Fatim lagi apa ya?" Gumam Akbar.
Tiba-tiba Dara masuk keruangan Akbar membawakannya makanan dan minuman.
"Malam Dokter, boleh aku masuk?" Tanya Dara.
"Malam, silahkan!" Kata Akbar.
__ADS_1
"Aku bawain makanan buat kamu. Makan ya, aku lihat kamu sibuk banget hari ini" Kata Dara menaruh makanannya di meja Akbar.
"Serius buat aku? Kalau begitu thanks ya, aku mau nelfon istriku dulu boleh?" Tanya Akbar.
"Istri? emm i-iya b-boleh" Kata Dara kecewa.
Akbar menelfon Fatim dan menjauh dari Dara, nampak kekesalan di wajah Dara. Ia mendapat informasi yang salah dari Yasha. Namun, jiwa rakusnya tetap meronta-ronta..
"Sial! Gimana sih Dokter Yasha, ngasih info kok salah gini. Mana Dokter Akbar udah punya istri lagi. Nggak, aku harus tetap dapetin Akbar, dia laki-laki normal, istrinya jauh disana. Aku akan buat dia bertekuk lutut padaku." Kata Dara dalam hati.
Di sisi Akbar, ia masih menunggu Fatim mengangkat telfonnya, berkali-kali ia telfon, namun tidak ada jawaban juga dari Fatim.
Akbar kembali ke mejanya, disana masaih ada Dara yang menunggunya. Akbar mulai risih dengan kehadiran Dara disana. Dara memang cantik, elegant, dan ramah. Mungkin karena dia adalah Dokter Kandungan. Namun Akbar tidak tertatik pada Dara.
"Kamu masih disini?" Tanya Akbar.
"Ceritanya aku di usir dengan halus nih?" Tanya Dara.
"Bukan begitu, aku nggak terbiasa berdua dengan yang bukan mahrom di satu ruangan. Kalau kamu pasien aku, ya memang itu tugasku sih. Aku panggil Yasha atau Dokter lain kesini ya menemani kita" Kata Akbar.
__ADS_1
"Ini nih, ini yang bikin gue naksir berat sama nih orang" Kata Dara dalam hati.
"Aku udah mau pergi kok, aku harus pulang. Duluan ya, bye!" Kata Dara langsung keluar dari ruangan Akbar.
Akbar kembali menghubungi Fatim, dan kali ini di angkat oleh Fatim.
"Assallamualaikum" Jawab Fatim.
"Waalaikum sallam, kamu kemana aja sih sayang? Aku telfonin kamu loh dari tadi" Kata Akbar.
"Maaf ya Bang, Fatim habis bersih-bersih kamar. Maaf banget, ponsel aku tinggal di meja, dan aku silent. Maaf" Jawab Fatim.
"Aku cium mau? Lain kali jangan di silent dong, aku kan kangen" Kata Akbar.
"Kangen? Sabar ya satu bulan lagi kan kita bertemu, aku juga sudah bilang sama Ayah, katanya Ayah tetap akan tinggal disini, bersama Rahman" Kata Fatim.
"Siapa Rahman?" Tanya Akbar.
"Rahman itu adikku Bang, dia anak sambung dari almahrum Ibu sambungku. Haih, Abang belum tahu semua keluarga ku ya? Besok kalau kita ketemu aku ceritakan semua" Kata Fatim.
__ADS_1
Malam itu, Akbar dan Fatim membicarakan banyak hal, kini keadaan Fatim sudah mulai kembali semula. Mereka menghabiskan waktu sebelum tidur dengan banyak sekali mengobrol. Hingga pembicaraan itu di dengar oleh Dara, dan membuatnya cemburu. Dara ingin membuat rumah tangga Akbar hancur, karena ambisinya memiliki Akbar. Sehingga melupakan bahwa dia juga wanita seperti Fatim.