Suara Hati

Suara Hati
Bab. 87


__ADS_3

Waktu Akbar di tanah air tidak lama lagi, siang nanti ia harus kembali ke Jepang untuk melakukan profesinya sebagai Dokter bedah di sana. Karena masih ada beberapa waktu lagi, Akbar mengajak Fatim untuk mengunjungi beberapa tempat di daerah tempat tinggalnya, tentu saja dengan mengajak Kabir dan Jamil. Karena tidak mungkin mereka akan jalan berdua saat itu. Cukup waktu itu mereka berduaan saja.


Tujuan pertama mereka adalah tempat teater, dimana Akbar dan Fatim melakoni perannya sebagai Jodha dan Akbar saat waktu kecil dulu. Betapa bahagianya Fatim, mengingat Akbar masih ingin mengunjungi tempat itu bersamanya sebelum ia berangkat lagi.


"Masya Allah. Gak nyangka ya, semua masih sama seperti dulu, cuma beda latar belakangnya saja" Kata Fatim mengagumi tempat itu.


Tapi Akbar hanya tertawa kecil dan malah kentut sembarang, membuat orang-orang di sekitarnya jadi menoleh. Karena Akbar tidak ingin menanggung malu, ia pun ikut menoleh ke kanan kiri.


"Ck, opo seh Bar? Kentut sendiri sok bergaya clingak clinguk" Bisik Jamil.


"Gak usah buka kartu! Ku tinggalin nanti kau di pinggir jalan. Mau?" Kata Akbar menginjak kaki Jamil.


"Kamu kenapa tertawa tadi Bang? Adegannya sedih loh, kok Abang tertawa?" Tanya Fatim.


"Cen rodo gemblung nih anak! Makanya pikir-pikir lagi kalau mau nikah ma dia. Mending sama aku, gantenge puool gini" Kata Jamil dengan menaik turunkan alisnya.


"Menengo" Kata Kabir membungkam bibir Jamil menggunakan tisu.


Jamil ini selalu menularkan penyakit konyol, dulu Syakir pendiam dan tertutup, setelah dekat dengan Jamil menjadi konyol dan banyak tingkah. Begitupun dengan Kabir, yang tadinya orangnya serius, kini malah sama usilnya dengan Jamil.


Setelah selesai nonoton teater, mereka melanjutkan mengunjungi museum. Dan ketika di sana, tidak sengaja mereka bertemu seorang laki-laki yang mengaku-ngaku mengenal Fatim dan pernah dekat.


"Ck, kita ini kesini cuma nganter orang pacaran po? Mending ghibah yuk Bir, noh duduk di bawah pohon sambil makan batagor" Ajak Jamil.

__ADS_1


"Ghibah aja yang kamu tau, sekali-kali hayuk lah. Aku pesenin pedes ya batagornya, jangan banyak-banyak saus kacangnya" Bisik Kabir.


"Bang, kita kesana sebentar ya, kalian mau gak? Sekalian mau beli minum" Kata Kabir kepada Akbar.


"Wes ra usah kesuen. Assallamualaikum" Salam Jamil dan langsung menarik Kabir.


Laki-laki yang merasa kenal Ika itupun menghampiri Akbar dan Fatim.


"Hey, kamu Fatimah kan?" Tanya laki-laki itu.


"Assallamualaikum, maaf kamu siapa ya?" Tanya Fatim kembali.


"Aku Arfan lah. Kita pernah ikut pesantren kilat dulu waktu SMP. Dan kita kenal karena kamu memeberikan pertolongan waktu itu" Kata Arfan.


"Hadeh, yang waktu itu, sarung kejepit pintu" Kata Arfan mengingatkannya lagi.


"Oh iya, iya aku ingat" Kata Fatim mencoba mengingatnya lagi, karena memang tidak ingat.


"Dia?" Tanya Arfan.


"Kenalkan, Abang ini Arfan, dan Arfan ini adalah calonku" Kata Fatim malu-malu.


"Baru calon kan? Berarti masih milik bersama dong?" Kata Arfan dengan wajah sombong.

__ADS_1


"Maksudmu apa dengan milik bersama? Sebelum kami menikah, dia hanya milik Ayahnya!" Kata Akbar tiba-tiba kesal.


"Hey bro, dia belum jadi istrimu kan? Jadi suatu saat jika aku menikung, sah-sah aja dong" Kata Arfan.


"Ayo Bang kita pergi" Fatim mengetahui jika Akbar sudah mulai emosi.


"Fatimah tunggu dong cantik" Kata Arfan menahan tangan Fatim dan menyentuh telapak tangan Fatim.


Sontak membuat Fatim kaget dan langsung menepis tangannya Arfan. Karena sentuhan itu, Akbar menjadi emosi tidak terkendali. Hingga memukul Arfan hingga terjatuh.


Brukkk!!......


"Abang udah dong, kita pergi aja yuk" Ajak Fatim, karena semua orang sudah mulai memeperhatikannya.


Jamil dan Kabir yang melihat semua itu langsung lari ke arah Akbar dan Fatim, dan melerai perkelahian itu, karena Arfan membalas pukulan Akbar hingga bibirnya berdarah.


"Hey! Salah Gue dimana? Dia bilang Loe baru calon kan? Wajar kalau Gue pegang tanggannya, karena Loe belum punya hak, dia masih milik kita bersama Bro" Kata Arfan.


"Loe fikir loe hebat dengan mengatakan itu? Dia wanita berhijab, hormati hijabnya! Jika kau sembarangan menyentuhnya seperti itu tadi? Maka dengan tidak sengaja kau telah melepaskan pakaian ya di depan umum!" Teriak Akbar.


"Gak usaha muna lu Bro, kita sama-sama laki-laki normal kan hahahha?" Kata Arfan dengan tawa meremehkan.


Emosi Akbar meluap lagi, namun berhasil di redamkan oleh Fatim dan Kabir, ia tidak ingin Fatim di sentuh laki-laki manapun, walaupun itu hanya telapak tangannya, jika pun itu tidak darurat.

__ADS_1


__ADS_2