Suara Hati

Suara Hati
Bab.17


__ADS_3

Kehadiran Mala.


"Assallamualaikum Abang" Terdengar suara perempuan mengucapkan salam untuk Akbar, suara ini tak asing bagi Akbar. Ada dua suara perempuan. Akbar menoleh dan terkejut.


"Kak Ais, Fatim? Kalian kesini?" Tanya Akbar.


"Muslim kan?" Tanya Aisyah.


"Ah iya, Waalaikum sallam" Jawab Akbar.


"Kita lihat kamu sediri di sini seperti orang galau, ya udah kita samperin aja. Ya kan?" Kata Aisyah.


"Abang udah makan?" Tanya Fatim.


"Emm, belom sih. Tapi kayaknya kita harus pulang deh, besok Abang tugas negara" Kata Akbar.


"Ya udah hayuk pulang bareng, kebetulan kita habis ke supermarket" Kata Aisyah mengajak Fatim dan Akbar pulang.


Di jalan, Akbar yang biasanya banyak bicara dengan Aisyah, malam itu menjadi pendiam, ia yakin kalau keputusannya memilih Fatim adalah hal yang tepat.


Sesampainya dirumah, Akbar langsung masuk ke kamar, membuat semua orang heran kepada sikap Akbar yang tak biasa itu.


"Kak, ada apa sih?"Tanya Sandy

__ADS_1


"Mana Aisyah tau, kita cuma ketemu di taman tadi, sendirian seperti sedang galau gitu" Jawab Aisyah.


"Putus cinta kali" Kata Rifky.


"Bubu?" Kata Aisyah melirik ke arah Fatim.


"Eh kenapa Kak Ais melirik ke Fatim? Fatim gak papa kok!" Kata Fatim.


"Anak-anak kemana?" Tanya Asiyah.


"Dah tidur, pasti mereka kecapekan tuh." Kata Rifky.


Aisyah dan Fatim lanjut memasak untuk makan malam, sedangkan Rifky sedang membahas rencana pembukaan resto di Tokyo. Airy dan Raihan sudah tidur juga, kenapa Aisyah, Rifky dan Fatim ke Jepang?.


"Iya Kak" Jawab Fatim.


Sementara Fatim memanggil Sandy dan Rifky, Aisyah berjalan menuju kamar Akbar yang tertutup itu.


"Assallamualaikum Bang, ayo makan dulu baru tidur" Kata Aisyah mengetuk pintu.


"Waalaikum sallam" Jawab Akbar.


Akbar membukakan pintu untuk Aisyah dengan wajah muramnya, dan membuat Aisyah heran. Akbar pun meminta Aisyah untuk masuk terlebih dahulu, dan bercerita banyak hal.

__ADS_1


"Makan dulu yuk, nanti Abang cerita aja sepuasnya gak papa, gak enak kan yang lain udah nunggu" Bujuk Aisyah.


"Kak, aku memilih keputusan yang tepat gak ya?" Tanya Akbar.


"Emang apa yang sedang kamu renungkan?" Tanya Aisyah.


Akbar menceritakan semua tentang beberapa jam yang lalu saat bersama Niki. Ia juga mengatakan bahwa ia menyukai Niki juga, namun dirinya sangat yakin jika Fatim adalah pilihan yang tepat dan tidak ingin membuat Abi dan Papanya kecewa, namun ia belum siap jika untuk menikah.


"Abang bilang aja sama Abi dan Om Sandy, kalau Abang belum siap menikah, tapi tetap mau melanjutkan perjodohan itu" Kata Aisyah.


"Gak segampang itu Poniyem, Abang takut kalau Fatim atau Ayahnya jadi mundur, ngecewain keluarga dong Abang!!" Kata Akbar.


"Gak lah Bang, yang penting Abang ini mantap dengan Fatim, dan Abang bilang terus terang kenapa Abang belum siap untuk menikah. Padahal kalau di fikir-fikir usia Abang ini udah pas lah kalau menikah" Kata Aisyah.


"Abang masih ragu Kak, bukan ragu dengan Fatimnya, tapi dengan diri Abang sendiri. Takut Abang belum jadi imam yang baik aja" Kata Akbar menyenderkan kepalanya di bahunya.


"Lalu soal Niki itu?" Tanya Aisyah.


"Menurut Kakak aku menyakiti hatinya tidak?" Tanya Akbar.


"Tentu saja Niki akan sakit, perasaannya bertepuk tangan, dan lebih sakitnya lagi karena orang yang dicintai nya udah punya jodoh. Tapi lebih baik begitu, dari pada dia merasa ada harapan darimu" Kata Aisyah.


"Udah yuk makan dulu, dah pada nungguin itu di meja makan" Ajak Aisyah.

__ADS_1


Fatim tak sengaja mendengar semua percakapan Aisyah dengan Akbar. Kini Fatim tau bagaimana harus bersikap, dengan memberikan waktu untuk Akbar untuk siap menerima dirinya. Fatim yakin jika Akbar tidak akan memiliki rasa yang dalam kepada Niki lagi.


__ADS_2