Suara Hati

Suara Hati
Bab.34


__ADS_3

Akbar dan Syakir masih saja menertawakan Farhan yang sejak tadi terlihat sangat waspada dan tegang. Malah mencengkram lengan Akbar dengan kencang.


"Mana gak ada juga hantunya, hayalan Pak Lhek aja ini, mending nonton komedi horor Thailand, biar jadi pemberani Pak Lhek.?" Kata Akbar.


"Iya nih, pesantren aman-aman aja gini," Sambung Syakir.


"Yakin, Pak Lhek tadi lihat dedemitnya disini, baju putih panjang, raine ireng Bakir!!" Kata Farhan menengok ke kanan kiri.


"Hantu itu namanya Bakir Pak Lhek?" Tanya Akbar.


"Lha dah tau namanya kenapa mesti takut sih?" Tanya Syakir.


"Bakir itu kalian lah" Kata Farhan santai


"Kok kita sih?" Tanya Syakir heran.


"Lha iya, Akbar, Syakir. Dari pada susah panggil Bar, Kir, Bar, Kir. Yo tak singkat aja menjadi Bakir, masalah kah?" Kata Farhan santuy.


"Pulang yuk Kir," Ajak Akbar.


"Woy, jangan dong, kita mesti tangkap hantu itu dulu" Kata Farhan.


"Maaf kami kisanak, kami bukanlah pembasmi hantu atau pencari hantu, kami kami ini hanyalah musafir cinta yang suatu saat akan bertemu di jalan" Kata Akbar.


"Bucin banget sih, Rabb Ne Bana Di Jodhi dong, Kita musafir cinta, suatu saat pasti akan bertemu di jalan hahaha. Mantul buat materi besok lusa" Kata Syakir.


"Tu hi toh jannat meri, Tu hi mera junoon


Tu hi to mannat meri, Tu hi rooh ka sukoon

__ADS_1


Tu hi aakhion ki thandak, tu hi dil ki hai dastak


Aur kuch na janu mein, bas itna hi jaanu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Sajdhe sar jukhta hai


Yaara mein kya karu


Tujh mein rab dikhta hai


"Oye dance pe chance marle


O soniya dance pe chance marle


O baaliye dance pe chance marle


O soniya dance pe chance marle" Kata Akbar mempraktikkan tadian Syah Ruk Khan.


"Haha bener-bener, ada lagi pas adegan Raj bonceng rekan Tani di belakang memegangi tas, seperti ini" Kata Syakir.


"Woy, malah do geguyon. Fokus ke demit dong, ingat kita harus tangkap demit itu" Kesal Farhan.

__ADS_1


"Demit lagi demit lagi, gak muncul juga kan? Sekali-kali dong kita bahas Pelem India, ya gak Kir?" Kata Akbar.


"Wah itu ada p-p-po p-p-po " Kata Farhan gugup.


"Po opo sih?" Tanya Akbar.


"Itu dia, pocong nya, itu Bar, Kir. Cepat tangkap, aku takut!" Kata Farhan merasa ketakutan, karena sebelumnya sudah Farhan bacakan ayat kursi dan bacaan lain, namun pocong itu tidak mau pergi.


Akbar dan Syakir yang tadinya terkejud, mereka terus memangdangi pocong itu, dalam hati mereka kok gak lompat, malah duduk di dekat pinggir sumur dan ongkang-ongkang kaki.


Mereka pun dengan perlahan mendekati pocong itu. Setelah di lihat dengan jelas kaki pocong itu nampak dan mengenakan sepatu.


"Mana ada pocong pakai sepatu! Sikat wes Kir" Bisik Akbar.


"Pocong ndas ireng Bar" Bisik Syakir.


"Kalian main mendekat, berani to?" Tanya Farhan.


"Diam Pak Lhek" Kata Syakir.


Akbar dan Syakir pun menangkap pocong jadi-jadian itu, dengan menjewer tali pocongannya dan berteriak memanggil yang lain.


"Wooo ini pocongnya, mau kemana?" Tanya Akbar memegangi tali pocong itu.


"Ayo yang lain keluar, kalau tidak? Hukumannya akan lebih berat!" Kata Syakir tegas.


Farhan pun melihat lebih dekat dan lebih jelas lagi, dan beberapa santri keluar dari semak-semak dan menundukkan kepalangnya.


"Ampun Mas Abang kita salah" Kata Santri yang menyamar menjadi pocong itu.

__ADS_1


Farhan pun memanggil beberapa santri senior lainnya untuk membawa dan memproses, para santri yang jahil itu ke aula. Akbar dan Syakir juga ikut kesana untuk mengadili santri-santri itu.


__ADS_2