Suara Hati

Suara Hati
Bab. 104


__ADS_3

Dua minggu berlalu, kabar bahagia dari Clara. Sidang putusan sudah bisa dilakukan. Jika bekerja untuk keluarga, Clara sangat cepat. Apa lagi yang memiliki kasus ini adalah istri dari adiknya sendiri.


"Sayang, kamu mau kemanan?" Tanya Keny.


"Ah iya, aku lupa ngabari kamu Bambang. Hari ini, sidang putusan kasusnya Arfan, kasusnya Fatim" Kata Clara, Clara masih saja memanggil Keny dengan sebutan Bambank, hingga Naira ikut memanggil Papanya dengan sebutan Papa Bambank.


"Aku ikut nggak nih? Tapi aku nggak bisa cuti begitu saja" Kata Keny.


"Pengennya sih kamu ikut, tapi disana udah Tante sama Om, ada Aisyah juga kayaknya. Aku nggak ngerti deh sama Aisyah dan Tante Leah ini, hebat banget mereka ini." Kata Clara.


"Sayang, kamu juga hebat. Om Ruchan memberimu waktu sebulan, tapi kamu berhasil menyelesaikan kasus ini hampir dua minggu, pinter banget istri Maemunahku ini" Kata Keny membelai rambut Clara dan mencium keningnya.


Clara berpamitan dengan Keny dan langsung berangkat. Fatim dan seluruh keluarga tidak memberi tahu Akbar jika sidang putusan akan di lakukan hari itu juga. Mereka akan memberi kejutan untuk Akbar dengan langsung membawa Fatim ke Jepang bersama.


Di rumah Ruchan, Ruchan dan Leah sedang sibuk bersiap-siap akan pergi ke pengadilan. Leah menyuruh Kabir mengantar Ceasy ke sekolahnya.


"Kabir tolong antar Ceasy ya kesekolah, Mama dan Abi harus cepat soalnya" Kata Leah.

__ADS_1


"Ayo Ma, Assallamualaikum" Salam Ruchan.


Ceasy yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa clingaku clinguk saja. Dan melanjutkan sarapannya dengan lahap. Nampak Kabir tengah sibuk dengan ponselnya dan menyuekin Ceasy, Ceasy tidak senang akan hal itu.


"Kakak!" Kata Ceasy.


"Emm" Jawab Kabir.


"Kakak kok main ponsel mulu sih? Cepat sarapan dan antar aku Kak" Kata Ceasy.


"Iya" Jawab Kabir.


"Ponsel Kakak Ceasy!" Teriak Kabir.


Kabir menyusulnya ke mobil, dan segera mengunci pintu. Ceasy memasang wajah masam dan memberikan ponselnya kepada Kabir.


"Kenapa tuh muka? Di putusin sama pacar?" Tanya Kabir tanpa salah.

__ADS_1


"Pantes aja senyum-senyum sendiri, orang lagi chatting sama cewek, jelek semuannya. Aku nggak suka" Kata Ceasy melipat tangannya.


"Idih, siapa juga yang minta pendapat. Kakak kan juga kedepannya harus nikah juga, boleh dong milih salah satu dari mereka. Apa lagi yang pramugari ini nih? Cantik, pakai hijab lagi hahahha" Kata Kabir.


"Jelek, jelek semuannya. Yang cantik itu cuma Mama sama Kak Ais doang" Kata Ceasy masih kesal.


"Itu nggak bisa di pungkiri" Kata Kabir sambil menyalakan mobilnya.


Saat di jalan, mereka bertemu dengan Jamil yang hendak pergi ke kampus. Dan Ceasy pun menawarkan tumpangan kepada Jamil, karena kebetulan mereka satu arah.


"Berhenti di depan Kak, itu Kak Jamil" Kata Ceasy.


"Iya, iya" Kata Kabir dan segera menghentikan mobilnya.


"Kak Jamil!! Ayo bareng!" Teriak Ceasy.


"Wahhh Alhamdulillah rezeki ini" Kata Jamil girang.

__ADS_1


Jamil masuk ke mobil dan memberi tos kepada Ceasy, mereka sangat akrab, karena memang jika Jamil main ke pesantren, pasti mainnya dengan Ceasy. Dan Jamil juga sering belajar bahasa Korea bersama Ceasy, begitupun sebaliknya dengan Ceasy yang belajar bahasa jawa dengan Jamil.


__ADS_2